Di Depan Semak Menyala

Tahun 2009 adalah tahun pemilihan umum.  Banyak orang mencalonkan diri agar dipilih menjadi pemimpin. Rupanya banyak orang yang merasa qualified. Padahal menjadi pemimpin itu susah sekali. Kalau belum pernah dipanggil di  depan semak menyala, jangan mau…

Kisah semak menyala itu terjadi saat Nabi Musa diperintahkan untuk memimpin bangsanya keluar dari perbudakan di tanah Mesir.

Dalam kisah ini, Musa sudah menjadi pangeran di Mesir. Ia tidak terima melihat bangsanya diperbudak. Sebagai seorang pangeran, ia merasa bisa memimpin bangsanya. Ia bahkan diam-diam melakukan tindakan kepahlawanan membunuh tentara Mesir yang menganiaya seorang sebangsanya.

Tapi ia kaget sendiri saat ia ternyata gagal mengatasi pertengkaran dua orang sebangsanya. Bukan saja ia tidak punya wisdom, ia juga tidak mendapatkan legitimasi.  Bangsanya tidak patuh padanya.

Merasa down, Musa lari ke Midian untuk menjadi gembala domba. Dalam pikirannya, ia membuang jauh-jauh ide menjadi pemimpin bangsa. Ngurus orang saja tidak becus. Ia menerima realitas bahwa ia hanyalah kelas pemimpin domba di padang, alias gembala. Itupun domba suka ada yang nggak nurut. Bertahun-tahun ia fokus belajar memimpin domba, belajar menyayangi domba yang bandel, sehingga ia sukses menjadi gembala yang baik. Life is good in Midian.

Tapi Tuhan punya rencana lain.  Tiba-tiba sebuah semak di padang rumput Midian menyala berkilau. Musa gemetar ketakutan.  Dan dari dalam semak menyala, keluar titah Tuhan: “Aku perintahkan kamu untuk kembali ke Mesir dan memimpin bangsamu keluar dari sana….!”

Yang menarik, Musa menolak habis-habisan. Tidak seperti capres-capres atau caleg-caleg Indonesia yang berebut, Musa tidak mau. Terbayang di benak Musa ketidakmampuannya, dan kekerasan hati orang sebangsanya.  Lebih enak saya di Midian, jadi gembala domba dan membangun rumah tangga.

Berkali-kali Tuhan meyakinkan Musa bahwa Tuhanlah akan memimpin langsung. Musa tidak boleh takut.  Tapi Musa mencoba menghindar, sampai Tuhan hampir murka besar.  Musa akhirnya menerima, meninggalkan kehidupan nyaman di Midian, dan memulai perjalanan yang tidak pernah berhenti dan tidak pernah berakhir sampai akhir hidupnya…

Dan… what a journey it was… Dahsyat…

Semua yang ditakutkan Musa terjadi.

Tetapi semua janji penyertaan Tuhan padanya pun terjadi.

Musa membelah laut merah. Menuntun bangsanya dalam perang melawan musuh, dalam kelaparan dan kehausan, dalam ketakutan wabah penyakit, dalam kesendirian di gurun.

Bahkan  ia harus menghadapi pemberontakan dan kemarahan bangsanya sendiri. Sehingga pada satu titik, Tuhan begitu murka dan berniat membasmi semua yang sudah berontak melawan Musa. Dan yang luar biasa, eh Musa malah sujud pada Tuhan mohon bangsanya diampuni. Ternyata di lubuk hatinya, Musa mencintai bangsanya begitu dalam. Ia belajar kedalaman cinta itu bertahun-tahun pada domba-domba di padang rumput Midian. Sehingga pemberontakan mereka tidak mengubah cintanya. Itulah sebabnya ia sanggup memimpin bangsanya.

Di semak menyala itu, Tuhan tidak salah pilih.

Empat puluh tahun lamanya dengan penuh kasih sayang ia menuntun bangsanya yang keras kepala itu di padang gurun menuju tanah kebebasan. Tidak ada generasi Musa yang berhasil tembus ke sana kecuali dua orang. Musa pun tidak. Tapi ia berhasil mengantarkan anak cucu bangsanya ke gerbang tanah merdeka, bebas dari perbudakan.

Ketika tiba waktunya Musa untuk kembali ke haribaan Tuhan, bangsa nya meratapi Musa. Berbulan-bulan mereka berhenti hanya untuk meratapi kepergian pemimpin terbesar yang pernah mereka punya.

Di akhir hidupnya Musa tidak memiliki apa-apa.  Tapi Tuhan memberikan hadiah yang tidak terperi.  Ia diantar ke sebuah gunung sebagai peristirahtannya yang terakhir.  Ahh, di situ Tuhan memperlihatkan tanah kemerdekaan yang dijanjikan.  Tanah yang segera akan dihuni anak cucunya sebagai bangsa yang merdeka. Kakek Musa memandang ke seluruh tanah yang indah itu dengan mata yang bersinar, hati yang meluap, badan yang gemetar penuh sukacita. Ia menutup mata dengan senyum bahagia, dengan bayangan anak cucu seluruh bangsa yang sangat dicintainya berlari-lari riang bukan lagi sebagai budak.

Dan di akhir perkabungan, seluruh bangsa bersumpah untuk mencatat semua yang dilakukan Musa, semua yang diajarkan Musa. Dan di tanah merdeka nanti mereka bersumpah akan menceritakan perbuatan dahsyat Musa kepada anak cucu.  Tentang keberaniannya, tentang kegagahannya, tentang kepintarannya.  Terlebih lagi tentang cintanya yang tanpa syarat pada mereka. Setiap hari, pagi dan petang.

Bangsa ini bersumpah tidak mau menikmati hari-hari kemerdekaan itu tanpa Musa di hati mereka. Beribu-ribu tahun bangsa ini tetap memegang sumpah suci ini, membacakan buku Musa pada anak-anak mereka, sampai hari ini. Setiap hari, pagi dan petang.

Perjalanan bangsa Indonesia itu adalah perjalanan 230 juta orang. Perjalanan ini adalah perjalanan meninggalkan perbudakan kemiskinan dan kebodohan. Kalau bukan Tuhan yang bekerja, no way ada yang bisa memimpin perjalanan itu.

Saya pikir jangan pernah ada yang mau berebut menjadi pemimpinnya, kecuali ia mencintai bangsa ini tanpa syarat. Kecuali ia sudah pernah sujud gemetar menerima perintah di depan semak menyala…


  1. Ardy

    Masih calon pendeta aja udh mantap tulisannya…
    apalagi kalo jadi pendeta…

    Salut…

    Salam n Selamat Tahun Baru

  2. joice

    Benar2 artikel yang inspiring pak….

    GBU.

  3. mangstabh

  4. bangsa bani israil yah…? yang paling pintar, penuh siasat, dan suka ngeyel. actual benar topiknya dengan 1) pemilu dan 2) agresi israel. sesuatu yang perlu saya camkan dan pelajari, nuhun pak.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: