Beragama di Era Postmodern

Anda ingin sukses di tahun 2009? Taat beragamalah. Demikian hasil penelitian Dr. Michael McCullouch dan Dr. Brian Willoughby dari University of Miami yang akan diterbitkan pada jurnal The Pychological Bulletin edisi 2009. Orang taat beragama memiliki kemampuan pengelolaan diri yang menjadi kunci sukses abad ini.

Beragama di era post modern ini memiliki tantangan luar biasa. Saat ilmu pengetahuan dan teknologi mendominasi kehidupan, konsep hidup beragama menjadi tersisih. Orang masih mengaku beragama, tapi dalam hatinya timbul keraguan besar. Hatinya percaya Tuhan, tapi pikirannya melihat banyak realitas baru yang lebih bisa dijelaskan melalui ilmu pengetahuan ketimbang pengetahuan agama.

Riset Dr McCullough ini juga pantas dipuji karena dilakukan di lingkungan akademis yang sering tidak toleran terhadap agama. Bukan rahasia lagi, banyak ilmuwan tidak tertarik untuk mengangkat agama dalam konteks intelektual. Kalaupun ada, biasanya ilmuwan ini sudah memiliki keyakinan agama yang kuat, kemudian mencocok-cocokkan ilmu pengetahuan dengan keyakinan agamanya. Tapi kedua peneliti ini tetap melakukan riset tanpa motivasi seperti ini, lebih karena semangat keilmuan, bukan dakwah.

Dan hasilnya sangat berguna.

Menurut riset McCullough, orang yang taat beragama memiliki kemampuan psikologi untuk mengelola diri, mengendalikan diri. Ia bisa berdisiplin tanpa disuruh atau diawasi orang lain. Ia mampu memacu dirinya sendiri tanpa cambukan orang lain. Ia sanggup mendorong diri sendiri tanpa dorongan orang lain. Ia dapat memimpin diri sendiri tanpa paksaan orang lain. Ia dapat mengatasi dorongan-dorongan impulsif.

Dan semua pengelolaan diri ini menjadi kunci utama kesuksesan dalam hidup. Sudah menjadi rahasia umum bahwa peluang sukses dimiliki semua orang. Tapi sukses tidak didapat karena waktu dihabiskan untuk hal-hal yang tidak berguna. Sukses tidak diraih karena orang tidak berhasil mengendalikan dirinya. Jadi McCullough menyarankan untuk menerapkan praktek-praktek beragama, disiplin beragama, dalam hal-hal yang kita anggap bernilai tinggi.

Kasarnya, kalau anda seorang atlit, maka anda harus memperlakukan latihan olahraga tiap hari seperti sebuah ibadah. Suatu yang kudus dan mulia. Sesuatu yang akan membuat anda masuk sorga. Dengan disiplin agama seperti ini, anda akan menjadi atlit yang berhasil.

McCullough memperingatkan kita tentang perbedaan beragama intrinsik dan ekstrinsik. Beragama intrinsik adalah memperoleh dan menyerap nilai-nilai dasar dari agama, yang tidak selalu dilihat orang. Beragama ekstrinsik artinya beragama kulit, yang bisa dilihat orang lain. Beragama intrinsik dijalankan karena keyakinan akan nilai-nilai agama. Beragama ekstrinsik lebih karena dorongan sosial, dan ingin mendapatkan status dan acceptance di tengah masyarakat.

McCullough mengatakan beragama intrinsik lah yang akan berhasil mengelola disiplin diri. Sedang beragama ekstrinsik tidak membangun disiplin diri, jadi tidak bermanfaat bagi pencapaian kesuksesan hidup.

Karena kesuksesan ditentukan oleh apa yang kita lakukan saat tidak dilihat orang.

Saya ingin mengajak kita untuk memiliki resolusi tahun 2009. Tekad diri untuk 2009, bahwa kita akan belajar mengendalikan diri. Belajar disiplin pengelolaan diri. Belajar untuk tidak tunduk pada impuls-impuls tubuh kita. Melainkan belajar untuk menumbuhkan sikap kreatif dan produktif. Berdisiplin menjaga pikiran kita untuk tetap memikirkan hal-hal yang luhur dan positif. Belajar mencintai dan mengasihi dengan lebih konstan.

Untuk itu kita perlu taat dan berdisiplin seperti sikap taat beragama. Dan itulah salah satu fungsi sangat penting beragama dalam era postmodern ini: pengelolaan diri dan pengelolaan kehidupan.


  1. Ilmu pengetahuan terkadang menjadi alasan untuk orang menjadi bersikap atheis, sebagaimana di sebuah milis yang saya ikuti, evolusi.

  2. irwan

    Taat beragama? Wah, ntar jadinya kayak timur tengah dong. Berantem molo. Ada pertanyaan:

    Why are semites keep tearing each other apart? For centuries! By semites I mean both arabs and jews. I mean, we, the citizen of the planet, are sick of the atrocities they both have been continuously doing. What’s wrong with their teachings? I mean, both (judaism and islam) seem racists to me. Judaism teaches jews supremacy, and islam teaches arab supremacy. Both have a (despective) word to refer to people outside of their group (goyim and kafir). Judaism teaches it’s OK to kill / steal from gentile, and islam teaches the blood of non-believers is halal. I’ve also seen how both of them (arabs and jews) pray. Strikingly similar, making this back-and-forth movement, just like a person with autism. Freaky. How can they believe such lies, inhumane and racist teaching? I know they both are fighting over the right to occupy the so-called holy land, for whatever resource it is contained within (water, oil, sandworms, whatever). But deep inside, there’s also a freaky motive, based on stories in their semitic fairy tales, talmud and quran. Holy land my a**, it looks more like wasteland to me (middle east). The arabs have al-qaeda / hamas / the like, and the jews have irgun, chabad lubavich, etc. Same sh**, different whores (Hagar vs. Sarah). Happy nuking. When will they launch nuclear missiles at each other? I’m looking forward to that, I’ll be sure to watch it on TV, and feel relieved that at last their kind — the reason why there’s a war — are wiped off the map. The world will have much less hateful persons by then. Wo bu xihuan semites! Zàijiàn.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: