Sila Ketiga di Kantor Pajak

Hari ini saya kembali bersatu degan begitu banyak orang yang terjebak di kantor pelayanan pajak untuk memanfaatkan sunset policy. Semua geleng-geleng kepala. Di negara ini untuk bayar pajak saja repot sekali. Tapi saya menemukan banyak kebaikan orang yang bersatu di kantor pajak hari ini.

Saya sebenarnya sudah tahu harus menyelesaikan SPT Tahun 2007 sejak Agustus lalu. Waktu itu saya mengalami pemeriksaan pajak 2006 yang cukup memusingkan. Akhirnya jalan keluar adalah dengan memanfaatkan sunset policy. Dan karena SPT 2006 berubah, otomatis SPT 2007 harus diperbaiki.

Nah saya buat kesalahan besar: menunda-nunda. Seandainya saya bereskan saat itu, paling-paling urusan di kantor pelayanan pajak 30 menit selesai.

Memang saya tunda karena saya masih sakit. Kemudian terlalu banyak yang diurus. Jadi tidak bisa memikirkan penyelesaian SPT 2007 itu. Sampai akhirnya saya putuskan di 24 Desember kemarin untuk memulai prosesnya. Dan memang tidak selesai, karena terpotong Natal dan liburan ke Pangandaran. Berkasnya baru saya berhasil selesaikan Senin kemarin.

Pagi ini jam delapan saya sudah ada di Bank BNI untuk mencairkan dana pembayaran kekurangan pajak. Lancar, dan langsung berangkat ke kantor pelayanan pajak Bojonagara, Asia Afrika. Wah macet di tamblong. Saya belok saja ke toko roti di tamblong, parkir di situ, dan lari ke kantor pajak. Takut banyak orang. Satpam di situ dengan ramah mempersilahkan saya parkir, karena macet total.

Dan benar, ratusan orang sudah memadati kantor pajak ini. Pas jam 9:01, nomer urut saya sudah 235. Waduh. Tapi tidak apa-apa, saya ambil form SSP untuk membayar pajak. Dan bergi ke loket Bank BNP. Aduh di sana saya dapat no antrian 19. Lumayan kan? Tapi ternyata komputer sistem pajak down. Rupanya tidak kuat melayani serbuan pembayar pajak. Jadi antrian tidak maju-maju. Padahal jam 12 siang pembayaran online tutup.

Setelah ngobrol-ngobrol aya baru sadar, SSP bisa di bayar di bank lain. Wah, mengapa saya tidak ke Bank BNI ya? Di situ juga bisa. Salah juga nih. Akhirnya saya lari ke Bank BCA Asia Afrika. Tapi saya dapat antrian ke dua puluh. Dan celaka. Sudah hampir sejam berdiri, tidak maju-maju. Rupanya komputernya macet. Aneh juga bank sebesar BCA tidak mampu memberikan nomer antrian. Jadi semua harus berdiri berjam-jam.

adilah kami mengobrol dengan sesama penyetor. Dari seorang bapak saya tahui saya bisa bayar di kantor pos. Jam 10 saya putuskan lari ke kantor pos. Karena di sana tidak butuh sistem online. Sampai ke kantor pos Asia Afrika, petugas membawa kabar buruk. Layanan SSP sudah tutup jam 9 pagi, karena sudah kebanyakan penyetor. Saya disuruh balik lagi Januari. Waduh payah nih, nanti sunset policynya tidak berlaku.

Akhirnya saya kembali ke bank BNP. Sukur antrian sudah berjalan, komputer sudah online. Jadi saya sudah bisa menunggu. Tapi majunya sangat lambat. Saya lari dulu ke Tamblong, untuk mencek mobil saya itu. Takut ada yang ganggu. Ternyata aman. Jadi saya lari lagi ke Bojonagara.

Di Bank BNP, saya bertemu lagi sang Bapak yang ada di BCA tadi. Jadi kami ngobrol dengan dia dan istrinya. Tiba-tiba datang seorang wanita sepertinya mahasiswi yang terengah-engah. Dia minta nomer antrian tapi satpam menolak, karena tidak akan keburu. Sudah terlalu banyak orang. Mukanya mau menangis, karena tahu tidak ada lagi tempat yang bisa melayaninya. Wah tidak happy kami melihat orang-orang ini tidak mendapat layanan.

Pas jam 11:45 saya dilayani. Wah senang, akhirnya saya bisa melakukan setoran SSP. Sambil dalam hati geleng-geleng. Mau bayar pajak saja susah begini. Memang saya datang sudah diujung deadline. Tapi tetap tidak bisa bayar pajak di negeri tercinta serepot ini.

Dan di situ baru saya tahu, ternyata satu orang bisa membayar sampai lima SSP. Jadi sebenarnya saya bisa menolong orang yang tidak kebagian no antrian. Saya tengok-tengok ke belakang orang-orang tadi sudah tidak kelihatan. Saya menyesal sekali, punya kesempatan menolong tapi karena tidak tahu jadi tidak berbuat apa-apa. Cuma bisa memandang kasihan tapi tidak melakukan apa-apa. Ya sudah, next time better.

Tepat jam 12:00 berbekal setoran SSP saya sudah bisa mengurus SPT 2007 untuk didaftarkan ke komputer. Tapi saya urus mobil dulu. Saya jalan ke Tamblong, masuk toko roti itu dan makan siang di situ. Sambil beristirahat sejenak. Kemudian saya kembali ke Bojonagara, sambil membawa kendaraan saya parkir di situ, karena sudah tidak begitu macet lagi. Waktu sudah pukul 12:30.

Untuk pembetulan SPT sunset Policy, kami disarankan menggunakan layanan di lorong kantor, bukan di ruang utama. Mulai antrian terjadi lagi. Sambil minum aqua, saya beringsut pelan-pelan sampai tiba di bagian pemeriksaan hampir pukul 14:00. Karena berkas saya sudah siapkan dengan baik, pemeriksaan berlangsung lancar, dan saya dibolehkan untuk memasukkan berkas ke loket komputer.

Begitu masuk ke loket di lorong saya menemukan tumpukan berkas yang tinggi. Wah ini memerlukan waktu berjam-jam, dan berkas saya paling akhir. Tiba-tiba saya ingat bahwa saya masih mengantongi no antrian 235. Saya lari ke loket ruang utama, mana tahu bisa dilayani di situ. Benar bisa, tapi waduh baru melayani no antrian 85. Sudah jam 2 lewat. Sampai besok juga tidak akan tiba ke 235.

Keajaiban terjadi. Tidak sengaja saya bertanya pada seorang ibu di sebelah saya. wah kalau no 235 itu bisa dilayani jam berapa ya? Dia cuma menggeleng bingung, tapi dia menunjukkan tiket antriannya bernomer 86, “Bapak mau saya uruskan sekalian?” Wah rupanya dia konsultan pajak, jadi dia tahu satu orang bisa mengurus lebih dari satu berkas. Saya tercengang, “Apa memang bisa ?”. “Bisa, ” katanya, “tapi Bapak sabar ya, saya bawa 40 berkas, punya Bapak berkas ke 41…”

Wah saya lari cepat-cepat ke lorong untuk mengambil berkas saya. benar masih di tumpukan paling atas, kemudian lari ke ruang utama. Pas ibu ini mau dipanggil. Jadi tiba-tiba file SPT 2007 saya sudah terdaftar. Memang mendaftarkan 41 berkas itu butuh waktu 1 jam! Tapi rasanya beda. Satu jam ini menyenangkan dibanding waktu antri di lorong tadi.

Jam 15:15 selesai, dan saya berterimakasih banyak pad sang ibu, sambil mengucapkan Selamat Tahun Baru. Di jalan macet tapi saya sudah terlatih seharian. No problem, masih ada yang lebih susah di Bojonagara. Jam 16:35
saya tiba di kantor, sambil bernafas lega sudah membereskan satu urusan dengan tuntas.

Hehehe, kok jadi menumpahkan seluruh kejadian hari ini di blog ini, ya? Saya ingin sharing keindahan dipersatukan dengan begitu banyak orang, dari berbagai kalangan, dari berbagai latar belakang, yang berbeda-beda. Semua bersatu, macet di kantor pajak. Semua ingin menjadi pembayar pajak yang baik, tapi mengalami kesusahan. Mengalami kekecewaan tidak bisa membayar tepat waktu karena sistem tidak mendukung.

Saya belajar bahwa kita harus punya cukup informasi untuk mengeksekusi apapun. Kalau saya tahu Bank BNI bisa menerima setoran SSP, saya tidak akan serepot itu. Dan kalau saya memaksa diri menyelesaikan urusan ini awal bulan ini, mestinya saya tidak serepot ini.

Tapi yang saya belajar banyak adalah bahwa dalam situasi seperti ini, saat kita dipersatukan dalam kesulitan, terbuka kesempatan untuk mengenal orang lain dan menyalurkan kebaikan. Saya sangat terkesan dengan keramahan semua petugas pajak di sana. Satpam di toko kue yang tidak ngomel mejaga mobil saya sampai siang, karena tahu saya butuh. Saya menyesal gagal menolong orang lain karena ketidak tahuan saya. Tapi sebaliknya saya terkesan dengan kebaikan hati seorang ibu di depan loket.

Di awal memang saya jengkel. Negara kita kok kayak gini, nyusahin rakyatnya. Tapi sepulang dari Bojonagara, saya berubah pikiran. Memang banyak yang harus dibenahi di negara ini. Tapi pegawai kantor pajak sudah bekerja keras dan ramah. Tinggal pemimpinnya nih, harus kompeten dalam membuat sistem layanan yang memuaskan. Dan justru dalam kerepotan ini saya bisa mengerti apa yang dialami rakyat kita. Dan saya bersyukur, kita ikut mengambil bagian dalam kerepotan ini.

Kita memang baru bisa menerapkan sila ketiga dalam kerepotan. Tapi saya merasa lebih bertumbuh dengan pengalaman bersama itu. Semoga situasi di tahun 2009 bisa lebih baik.

Selamat menjelang tahun baru, folks.


  1. darmawan

    wah ternyata sunsetnya diperpanjang s/d 28 Feb 2009..
    http://www.antara.co.id/arc/2008/12/30/perpanjangan-sunset-policy-respon-antusiasme-wp/

  2. Sunset policy ini sepertinya akan diperpanjang hingga Febuari 2009 loh pak …

  3. Jadi terharu nich ….. baca kisah perjuangannya Pak…

    BTW .. Selamat Natal dan Tahun Baru ya Pak …
    Semoga Terang Natal membawa segala kebaikan di tahun yang baru …

  4. wah, memang orang Indonesia selalu suka menunda2 pak…tapi terima kasih atas pengertiannya. DJP selalu berusaha terbaik untuk anda semua.

    salam

  5. saya sebagai salah satu pegawai pajak
    juga turut mengucapkan terimakasih buat pengertian bapak dan peran serta bapak dalam sunset policy
    dan terimakasih untuk kesabarannya

    semua hal yang bapak tulis, akan menjadi perbaikan bagi kami ke depannya. semoga bisa menjadi lebih baik lagi.

  6. faridwajdiarsya

    Wah tulisannya bagus. tulisannya bisa dikatakan sangat berbeda haluan dengan banyak orang, meski tidak untuk sekarang-sekarang ini.

    Pegawai pajak yang korup lah… pegawai pajak yang tidak familiar lah. Pelayannnya tidak bagus lah….

    Tapi dengan tulisan ini, kita seperti diberi penilaian berbeda tentang pegawai pajak.

    Hebat.

  7. wahhh…bagus tulisannya pak…

    mencoba untuk tidak subyektif dan negative thinking dalam memandang DJP,

    met tahun baru ya pak,
    semoga sukses,
    dunia dan akhirat

    keep smile🙂

  8. semoga dengan sunpol makin meningkatkan penerimaan ya pak…salam kenal aja deh

  9. bambangvj

    Salut buat DJP yang bisa memberikan pelayanan yang “bisa diterima” oleh orang sesabar Bapak….lebih salut lagi buat bapak yang masih tetap bersabar menulis kebaikan pelayanan DJP dan menularkan kebaikan buat orang lain…

    DJP telah berubah…mari kita dukung sepenuhnya…tutup jalan buat korupsi dan kolusi

    mari kita bangun bangsa ini dengan menjadi pembayar pajak yang baik……

  10. wijayanti

    Memang , masalah sunset policy, terutama di bulan2 terakhir tahun 2008 sempet jadi hot gossip di kalangan wp ya pak?
    sementara buat kalangan yang belum ber-npwp, topic yang paling hangat ya masalah NPWP.. yang kemaren ga tahu apa itu NPWP pun jadi rame2 bikin npwp, biar bisa bebas fiscal, katanya.
    Memang ya pak untuk masalah peraturan dari pemerintah seperti ini, kita bener2 harus tahu seperti apa ya peraturan yang sebenarnya.
    Setahu saya, buat wp lama yg terdaftarnya sblm th 2008, SPT yg masuk criteria sunpol adalah SPT sebelum 2007, shg otomatis buat SPT tahun 2007 masuknya SPT Pembetulan aja dan bukan SPT Sunpol.
    Bedanya?
    Untuk SPT Pembetulan ini, bila ada kekurangan pembayaran, atas keterlambatannya akan dikenai bunga 2% sebulan..(untuk spt tahun 2007 paling lambat dibayar tgl 25 maret 2008).
    Jadi kemungkinan pak, untuk spt yang kemaren bapak masukin dengan susah payah itu, mau tidak mau, kalo melihat ketentuan yg berlaku, akan ada bunga yang harus dibayar (ditagih dengan Surat Tagihan Pajak) , tapi ga papa pak, tetap semangat!!!!




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: