Sebal Karena Punya Uang

Sabtu kemarin Marco genap berusia 9 tahun. Semakin besar dan semakin pintar. Marco banyak belajar. Salah satu pelajaran berharga adalah betapa uang itu bukan hal yang utama. “Sebal nih punya uang…”, celetuk Marco.

Marco sudah menunggu lama hari ulang tahunnya. Dan jelas, dia ingin kado. Semua harus beri kado, katanya. Jadi Ina bagi uang pada kakak-kakak, supaya Sabtu pagi, dia bangun, kado sudah tersedia.

Rupanya ada kecenderungan baru. Orang menghadiahkan uang, bukan barang. Mungkin terpengaruh surat undangan perkawinan yang suka ditulis: tanpa mengurangi rasa hormat, harap kado jangan berbentuk karangan bunga atau barang. Dengan kata lain, uang semakin penting.

Jadi win-win, nih. Kita bingung mau beli apa, repot mau cari kado, tinggal cari amplop, isi uang selesai. Kita nggak repot, dan yang menerima juga senang, bukan?

Ina dan kakak-kakak beli kado. Ina cari kado yoyo, karena Marco minta terus. Sedangkan saya tanya dulu, mau nggak Marco terima uang saja. jadi Marco bisa pilih apa yang Marco suka. Marco mau. Jadi pagi-pagi dia bangun, dan betul dia sangat senang. Banyak kado sudah menanti. Dan dari saya ada amplop bertuliskan ucapan selamat dan ..uang. Marco memeluk saya, dan menyimpan uang itu dalam dompetnya.

Rupanya oom-oom dan tante-tantenya juag tidak lupa HUT Marco. Jadi selama dua hari mereka datang memberi selamat, dan memberikan kado: …uang. Dompet Marco mulai tebal. Tapi dia mulai tidak senang. Mulai terasa sama dia bahwa hadiah uang itu tidak special. Tidak mikir. Tidak pedulian. Tinggal ambil dari dompet. tidak kreatif. Sedangkan kado Ina dan kakak-kakak itu sengaja dicari, diusahakan.

Apalagi Minggu siang, tantenya memberikan kado buku bagus tentang binatang. Berjam-jam Marco membaca dan mewarnai buku itu. Jauh lebih senang ketimbang uang sedompet.

Ina mulai menggoda Marco. “Marco kan punya uang. Jangan minta-minta mama, dong. Beli sendiri..”. Lama-lama, dengan jengkel Marco mengumpat, “Ah! jadi sebal nih, punyanya uang…” Cuma bisa ditenteng, tidak bisa dimainin atau dipakai. Nggak bisa dibaca, diwarna.

Saya ngobrol dengan Marco, dan Marco jadi ngerti. Uang itu pada akhirnya cuma kertas. Tidak membawa kenikmatan dan kesenangan apa-apa. Beda dengan kado-kado barang. “Marco ngerti..”, katanya sambil menangguk, dan pergi memainkan yoyo-nya.

Diam-diam saya memandang Marco lama. Betapa Marco sudah menjadi kado yang luar biasa dalam hidup kami selama 9 tahun terakhir. Saya dan Ina berdoa untuk keselamatan Marco, untuk kebahagiaan Marco di hari-hari mendatang. Semoga kami terus bisa menjadi kado untuk Marco seumur hidup. Dan Marco bisa menjadi kado untuk banyak orang…

Advertisements

  1. mantan mahasiswa

    Selamat ulang tahun dek Marco. Semoga selalu menjadi cahaya kebahagian bagi orangtua, kakak2 dan juga semua orang di sekitar kamu.

  2. mel ultah ya.. semoga makin pintar dan full of love 🙂

  3. Wah..memang betul pak. Kl teman/sahabat sy nikah/punya baby, sy lbh suka mberikan kado..n perlu waktu lama utk mmilih yg pas, krn bìar jd special. Yg nerima&mberi sama2 bahagia..met ultah buat marco




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: