Beda Korupsi di Indonesia dan di AS

Banyak korupsi di Indonesia, itu sudah jelas. Dan kita tidak boleh bangga. Tapi kita juga harus mewaspadai korupsi ala AS. Kalau korupsi di Indonesia itu memasyarakat, maka korupsi di AS itu menginstitusi. Sama-sama berbahaya.

Suatu hari saya baca di koran sebuah kisah sedih di India. Seorang ayah dari keluarga miskin meratapi kematian putri satu-satunya. Rupanya anak ini diinfus di rumah sakit kemudian keracunan infus. Setelah diselidiki, ternyata labuh/botol infus ini palsu. Biro pembelian rumah sakit ini disogok seorang pemasok. Supaya untung, pemasok ini mengambil semua labuh infus bekas, mencucinya di rumah, dan mengisinya dengan air. Dia pikir air ini bersih. Ternyata labuh terkontiminasi berbagai penyakit. Akhirnya putri sang ayah ini mati di rumah sakit akibat infus ini.

Inilah maksud saya dengan korupsi yang memasyarakat. Semua anggota masyarakat, termasuk masyarakat kelas menengah ke bawah, mencari nafkah dengan menipu dalam berbagai bentuk. Mulai dari pemasok sampai ke pegawai rumah sakit. Akibatnya bisa tidak terduga, dan dibayar mahal oleh masyarakat sendiri.

Krisis keuangan di AS itu juga dipicu oleh korupsi. Tapi dilakukan oleh orang kaya, dan didukung oleh orang kelas menengah yang ingin kaya tanpa bekerja. Berbagai skema trik penipuan canggih diinovasikan, kemudian di bawa ke pasar saham dan perbankan yang dilindungi oleh peraturan legal. Karena penipuan ini canggih, maka aparat hukum mengalami kesulitan mencegahnya.

Salah satu skema adalah dengan menawarkan kredit rumah pada orang yang tidak memiliki penghasilan cukup. Kredit ini dibungkus dengan berbagai skema finansial, termasuk asuransi dan bond/obligasi, kemudian dilepas ke pasar sekunder, lalu pengemas ini kabur membawa uang dari pasar. Semua legal. Kecuali bahwa skema keseluruhan ini pasti gagal, karena pada dasarnya orang yang mendapatkan kredit rumah itu pasti tidak mampu membayarnya. Penggerak primernya gagal, sehingga skema sekundernya pasti ikut ambruk.

Model penipuan sejenis adalah dengan skema piramida yang ditemukan oleh Charles Ponzi di tahun 1919. Skema Ponzi ini adalah dengan mengumpulkan dana dari masyarakat melalui jenjang piramida, dengan janji mendapatkan bunga tinggi setiap tahun. Dowliners mengumpulkan uang dengan janji yang sama, tapi uang itu digunakan untuk membayar bunga mereka yang di atas piramida.

Skema Ponzi ini pasti ambruknya. Ini fakta. Tapi keserakahan membutakan orang pada fakta ini. Keinginan duduk-duduk dan mendapatkan untung dari bunga itu menjebak orang. Saat saya mahasiswa dulu saya frustrasi mencoba menerangkan pada teman saya bahwa skema piramida ini pasti ambruk. Ia tidak percaya. Demikian juga banyak sekali anggota masyarakat lain. Bandel. Nggak mau dikasih tahu.

Dan ini yang dilakukan Bernard Madoff. Penipu ulung Wall Street ini berhasil menginstitusionalkan skema Ponzi dalam wujud baru: Bernard Madoff Investment Securities. Sebuah nama keren, yang dihormati di Wall Street. Membuat orang serakah percaya. Anda bisa duduk-duduk dan mendapat bunga 15-22% setiap tahun. Kok bisa? Ya itu, tidak ada yang tahu. Pokoknya Madoff itu jenius. Dan tidak tanggung-tanggung. Omset penipuan Madoff ini mencapat $50 miliar! (kira-kira Rp 600 triliun, 60% dari APBN Republik Indonesia 2009).

Ini adalah contoh korupsi institusional. Korupsi yang dibangun di atas regulasi finansial yang sepertinya sah dan legal.

Pola nya sudah sangat jelas. Korupsi jenis skema Ponzi ini memangsa orang serakah. Orang yang berpikir bisa menjadi kaya dari duduk-duduk. Orang yang percaya pada proses penggandaan uang tanpa perlu tahu persis mekanismenya.

Jadi saran saya, jangan pernah mau main uang, mencari nafkah melalui pasar uang sekunder. Jangan pernah mau percaya bahwa uang bisa beranak uang, kecuali kita benar-benar menguasai bidang itu. Pada prinsipnya itu adalah skema Ponzi yang dibungkus rapi secara legal. Kecuali anda ada di puncak piramida, just forget it. Dari semua pemain saham, cuma orang macam Warren Buffet yang berhasil. Yang lain, ya itu, downliners yang menyetor uang ke Buffet dan kawan-kawan.

Dan saran saya yang lebih tepat barang kali: jangan serakah. Dan jangan pernah ingin kaya tanpa bekerja atau menghasikan inovasi nilai.


  1. mastion

    setuju pak! i am with you…
    stop thinking easy..,work hard, play harder!!

  2. Anehnya bisnis bisnis jualan mimpi laris manis di indonesia.. Tanda kalo kita org2 serakah tapi malas??

  3. Kalau dalam keyakinan agama saya, kami diajarkan untuk tidak melakukan praktek riba. Dan penjelasan singkat bapak membuat saya semakin memahami arti larangan itu. Riba itu menghancurkan.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: