The Curse of Part timers

Semakin banyak orang bekerja penuh sebagai part timer. Bekerja full-time sebagai part timer. Dan ini membawa banyak masalah, baik bagi profesionalitas maupun bagi diri sendiri.

Bingung ya. Bekerja full time sebagai part timers? Apa maksudnya?

Selama ini kita membedakan bekerja full-time dengan part-time. Kerja penuh dengan kerja paruh waktu, sampingan. Kerja full-time artinya seluruh waktu dicurahkan untuk suatu pekerjaan. Seperti dokter. Pagi ke rumah sakit, periksa pasien. Siang ke klinik untuk praktek. Sore praktek di rumah. Malam sewaktu-waktu ke rumah sakit atau dipanggil ke rumah pasien. Jadi sehari-hari menhjalankan satu macam tugas: menyembuhkan orang.

Sedangkan kerja sampingan itu seperti kerja tambahan. Pagi ke kantor. Siang jualan asuransi. Malam urus MLM. Dalam sehari, pekerjaan yang dilakukan bisa bermacam-macam. Memang memusingkan. Biasanya ini dilakukan untuk menambah pemasukan. Jadi orang tetap melakukannya.

Nah, sekarang situasi menjadi kacau. Saya perhatikan, banyak sekali orang bekerja sampingan secara penuh waktu. Atau orang bekerja penuh waktu secara sampingan.

Begitu banyak yang harus diurus. Begitu banyak fungsi yang harus dikerjakan. Begitu beragam proyek yang harus diselesaikan.

Ini merambah sampai ke kampus. Dosen harus mengajar. Membimbing mahasiswa. Merumuskan kurikulum. Membuat rencana penelitian. Membuat aturan mahasiswa. Mengatur praktikum. Mengatur ruang. Mengatur listrik dan kebersihan WC. Mengelola fasilitas. Mengatur pegawai. Mencari dana riset. Mendirikan badan usaha. Mengikuti program pemerintah. Menjalankan proyek. Mengelola keuangan. Mempelajari aturan pengadaan barang. Mengatur pembayaran pajak. Dan masih banyak lagi.

Semua ini menuntut resources, waktu, kompetensi, dan usaha yang beragam.

Akibatnya orang sangat sibuk, tapi semua itu adalah seperti pekerjaan sampingan. Kualitas seadanya. Sering mengecewakan pihak yang harus dilayani. Institusi yang hendak dibangun malah tercerai berai.

Dan bukan hanya itu. Bekerja sampingan-sampingan seperti itu sangat merusak integritas pribadi. Otak dipaksa bekerja berbagai fungsi sehingga kewalahan. Konsentrasi harus selalu tinggi tapi berubah-ubah, sehingga tubuh jadi tegang. Tubuh akhirnya patah dan menjadi lemah. Stres dan sakit merajalela. Hubungan kekerabatan dan keluarga dikorban kan. Hati kecil memberontak karena kita tidak bertumbuh menjadi apa yang kita mau. Sebaliknya kita ditarik sana sini untuk memenuhi begitu banyak kewajiban.

Inilah apa yang saya sebut the curse of part timers. Kita sibuk tapi orang lain, keluarga, dan diri sendiri menjadi korban.

Bagaimana menghilangan kutukan ini?

It takes courage. Ketabahan dan keberanian untuk menghentikan ini, dan kembali pada jati diri dan darma kita. Kita harus kembali pada apa yang menjadi panggilan hidup kita. Dan kita melakukannya dengan penuh totalitas.

Pertama, kita harus mengerti tidak pernah ada orang yang sukses dengan mengerjakan segala sesuatu secara sampingan. Correct me if I am wrong (CMIIW), tapi sejujurnya saya belum pernah melihat orang yang berhasil tanpa totalitas. Kita yang tidak mau melawan kutukan ini, tidak mau keluar dari jebakan kerja sampingan ini bisa dipastikan akan mengalami kegagalan dan kekecewaan hidup.

Kedua, buang jauh-jauh rasa takut dan iri akan ‘rejeki’ orang lain. Seakan-akan kalau kita tidak ambil kerjaan ini, orang lain akan mengambilnya dan saya kehilangan rejeki. Belajar tidak serakah. Kita memang perlu mencari rejeki. Tapi orang yang keluar dari kutukan ini tidak pernah hidup kekurangan. Rejekilah yang datang mencarinya dan menemuinya.

Ketiga, hidup secara total. Anut faham totalitas, sebagai lawan dari faham sambilan. Cari apa tujuan hidup kita, apa bakat kita, apa minat kita, apa kompetensi kita. Dan hidup dan tumbuh kembangkan itu secara maksimal. Kalau kita pohon anggur, tidak perlu berusaha menjadi pohon durian. Jangan iri melihat pohon durian yang gagah itu, karena pohon anggur yang berbuah subur dan manis itu tidak kalah istimewa dengan pohon durian. Anda akan dipuja penggemar anggur di seluruh dunia. Jangan sampai memaksa diri menjadi pohon durian, sehingga malah aneh. Anggurnya tidak istimewa, apalagi duriannya.

Kalau anda sering merasa gelisah, merasa something is wrong, merasa tidak sukacita, tidak happy, atau bahkan sakit, pusing-pusing, sakit perut, mungkin anda sedang terkena kutukan. The curse of part timers. Anda tidak sedang mempersembahkan your best talents pada kehidupan ini.

Tumbuhkann keberanian untuk keluar dari kutukan ini. Berpindahlah pada hidup penuh totalitas.


  1. joko

    Setuju pak, uang materi bukanlah satu hal yang paling penting. Masih banyak hal penting lain yang harus jadi penyeimbang.

  2. mil

    wah pas banget ini pa armien….

  3. madeyusadana

    Satu lagi Pak..Totalitas yang Iklas didepan Tuhan…dengan keiklasan didepan Tuhan..semua masalah akan selesai…

  4. pak armein kalau dosen mengurusi soal manajemen kampus bukannya memang bisa (bukan hanya sekedar jadi pekerjaan sambilan). Jadi rektor, dekan, atau kaprodi itu kan pekerjaan manajemen yang memang harus dilakukan oleh dosen. Apa perlu meng-hire profesional supaya jadi rektor, dekan, atau kaprodi terus membiarkan para dosen diatur oleh profesional ini?

  5. kmastion

    @WIkan

    hmmm..setuju dengan pertanyaannya.
    berarti kerja kaprodi kita itu apakah “sambilan?”

  6. rere

    mengena sekali, karena situasi ini yang sedang saya alami

  7. azrl

    @wikan dan kmastion: saya pikir kaprodi, dekan atau rektor itu masih tugas dosen juga. Tapi mungkin hanya orang-orang tertentu, yang bisa melakuikannya secara totalitas ya. Saya pikir apa yang kita lakukan itu perlu dilakukan sungguh-sungguh, jangan hanya sebagai sampingan.

  8. iya pak…rasa-rasanya kita memang harus fokus di satu titik tertentu. Kalo ndak gitu..buyar semuanya.

  9. *merasa dijitak*
    Saya malah lebih menikmati pekerjaan sampingan saya, Pak😀

  10. Saya pernah mengalami hal ini, dan pada akhirnya saya memutuskan untuk berkonsentrasi di satu hal saja. Namun ada dampaknya, hubungan saya dengan orang-orang di hal lain yang saya tinggalkan menjadi dingin, banyak yang menilai saya tidak konsisten.

    Tapi menurut saya, saya cukup konsisten karena tanggung jawab saya di hal lain tsb sudah selesai, dan saya sudah memutuskan untuk lebih fokus di satu hal saja. Bagaimana menurut Bapak?

  11. comeloge

    wah pengalaman pribadi ya pak … sampai sakit2?😀

  12. well….gmn dengan orang yg agak bermasalah dengan multitasking dan memiliki strategi hidup memprioritaskan hal-hal secara bergantian?

  13. esti

    Setuju sekali Pak dengan tulisan ini.
    Ini yang saya alami saat ini, dan sepertinya memang harus fokus di satu sisi saja, dg lebih enjoy… ikhlas, pasti lebih menyenangkan.

  14. Kalau di Indonesia ada perkecualian pak… ada orang2 yg mengalami hal2 yg bapak sebutkan tadi, tapi mereka melakukan itu karena terpaksa, nggak enak ama orang, terutama kalau orang2 itu pada minta tolong kepada kita dengan penuh perasaan🙂 Akhirnya di Indonesia muncullah pekerjaan yang dinamakan tukang cuci piring yang kerjaannya menyelesaikan pekerjaan orang yang nggak selesai…🙂

  15. ehmmm…
    pola pikir memang harus dirubah …
    krn bisa mnegubah cara dia bekerja🙂

  16. Tulisan yang sangat bagus pak Armein.

    Hidup ini adalah totalitas…!! Setiap kali kita kerjakan setengah-setengah maka hasilnya pun setengah2……

    btw kapan bisa main ke Salatiga lagi? hehehe…

    Salam,

    Johan




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: