Oleh-Oleh Sumba Timur (7)

Selasa subuh di airpot Bandung waktu mau pergi ke Waingapu, pak Joko bilang: ini perjalanan penyembuhan. Tadi malam, setelah tiga hari, kami sepakat: ya betul, ini perjalanan penyembuhan.

Mungkin nggak pada tahu. Pak Joko dan saya itu sebenarnya sedang sakit. Sepulang dari MetroTV itu saya terkena diare berat. Terpaksa Minggu pagi saya ke UGD RS Borromeus untuk dirawat, agar Selasa bisa ke Waingapu. Ina sudah geleng-geleng. Dokter memberi saya antibiotika dan mewajibkan istirahat Senin. Kalau tidak sembuh harus diinfus. Wah. Untung Senin sore saya mulai merasa membaik.  Padahal saya tidak istirahat, seharian annual meeting dengan pemegang saham PT Clarisense di Hotel Geulis.

Pak Joko juga lebih parah. Selama seminggu lebih ia terkena infeksi gigi. Dan hari minggu juga harus ke UGD untuk dirawat.

Jadi kami berdua sangat terpaksa berangkat ke Sumba Timur. Kalau tidak kepalang janji pada rekan-rekan di Waingapu dan dibelikan tiket, kami pasti minta tunda.

Jadi di airport, jam 530 pagi, saya lihat pak Joko masih lemas dan minum obat. Kondisi saya lebih lumayan, tapi masih tidak sehat. Tapi kami saling menghibur diri. Mari kita anggap ini perjalanan penyembuhan.

Begitu tiba di Waingapu, kami berdua agak kaget. Ternyata kami tidak diinapkan ke hotel, tapi mau menginap di desa. Wah, dalam hati saya, apa saya kuat? Saya lihat, pak Joko juga cemas. Tapi kepalang sudah tiba, bukan?

Tapi setelah menghabiskan waktu hari ke dua di desa, berjalan mencari air, dan berkunjung ke banyak tempat, anehnya kita bukannya sakit, tapi malah jadi sehat. Rahasia lagi. Di hari kedua kami belum makan pagi. Rupanya yang masak terlambat. Jadi seharian kami tidak makan, padahal harus menuruni lembah dan menaikinya kembali. Dua kali, mencari mata air dan sungai itu. Saking senangnya menemukan debit air yang ok, lupa lah sakit itu (Gambar 1).

Armein dan Joko di sungai sumber air

Gambar 1: Armein dan Joko di sungai sumber air

Mungkin sudah terlihat dari gambar-gambar, baju saya kok itu-itu terus. Ya memang, dua hari penuh saya tidak mandi dan ganti baju. Tidak ada air. Dan basah-basahan dorong mobil itu pun dilakukan dengan perut kosong. Tangan saya sampai gemetaran karena tidak punya energi lagi. Baju dan kaos kaki kering di badan. Kami baru mandi setelah malam itu pulang ke Waingapu. Itupun karena kami harus bertemu Bupati jam 7:30 malam di kediaman dinasnya.

Tapi herannya saya tidak merasa sakit (Gambar 2). Padahal di Bandung, baru kehujanan sedikit di lapangan parkir, saya bisa meriang masuk angin. Wah there is something great di udaranya savana Sumba. Sinar mataharipun nyaman di kulit. Betul, ini healing trip.

OK that is all folks. Demikian serangkaian laporan saya, untuk membalas kekosongan posting tiga hari. Hope you enjoy them.

Fresh air di sungai Sumba Timur

Gambar 2: Fresh air di sungai Sumba Timur

Advertisements

  1. caela.. ganteng bgt dah pak! =P

  2. koq sakit2 begitu memaksakan diri sih pa..

  3. Hi hi hi … baru tahu tampangnya Pak Armein …
    keren Pak … 🙂

  4. Menyenangkan ya Pak healing trip-nya…
    Oleh-olehnya buanyaakk…. 🙂

    Bapak-bapak yang biasa tampil rapi di kampus, bisa juga tampil *agak* lusuh ya… 🙂

  5. emh ………..




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: