Salah Era

Almarhum Prof Samaun Samadikun senang meledek kami yang kurang hands on. Generasi simulator, katanya. Jaman beliau dulu tidak ada kalkulator. Jadi semua pintar menghitung luar kepala. Kemudian rangkaian elektronik dicoba langsung dengan komponennya, bukan dengan komputer. “Ah salah Bapak lahir duluan,” balas kami tidak mau kalah, “jadi Bapak salah era…”.

Beruntung sekali kami bisa mengenal sosok Prof Samaun Samadikun. Beliau, yang wafat dua tahun lalu, datang dari generasi sebelumnya. Namun ia mengerti akan perkembangan zaman. Dan ia mengizinkan kami untuk mengembangkan diri sesuai tuntutan zaman. Di era sekarang, segala sesuatu harus diselesaikan dulu di atas komputer, baru kita berani pergi ke komponen implementasi. Dan beliau mengerti dan menyesuaikan diri. Sambil geleng-geleng tidak terima melihat pakar elektronika sibuk membuat software.

Memang fun melihat orang lain salah zaman, salah era. Sambil kita lupa betapa kita juga sering salah era. Perilaku kita tidak lagi sesuai dengan tuntutan zaman.

Zaman sekarang adalah zaman pengetahuan. Ilmu pengetahuan menjadi begitu penting dalam setiap aspek kehidupan. Kita yang ignoran, tidak pedulian, tentang hal ini akan terlihat lucu. Salah zaman.

Masih banyak yang percaya akan nilai ujian, GPA, dan ijazah. Akibatnya orang belajar hanya untuk mendapatkan nilai tinggi. Bahkan kalau perlu nyontek. Nilai tinggi itu prestasi yang harus dihargai. Tapi bila kita tidak mendapatkan yang paling esensi, pengetahuan, maka itu benar-benar sia-sia. Buang waktu, dan buang umur.

Ekonomi saat ini adalah ekonomi pengetahuan. Ekonomi berbasis ilmu. Lewat sudah zaman di mana pengusaha dan pedagang itu seakan mempunyai kemampuan ajaib. Sekarang ilmu dagang itu bisa dipelajari di perguruan tinggi. Bisnis terbesar hari ini, mulai dari IT, biotek, transportasi, energi, kimia, dll berbasis ilmu dan teknologi. Dan dijalankan dengan organisasi yang diinovasi ilmuwan di bidang manajemen.

Tanpa kekayaan pengetahuan, kita benar-benar salah zaman.

Apa prasyarat menjadi bagian dari masyarakat pengetahuan? Prasyaratnya adalah learning society. Masyarakat yang tiadk berhenti belajar. Kita yang terus melalap ilmu-ilmu baru. Kita yang melihat paper jurnal yang baru seperti anak remaja melihat lagu rilis terbaru. Setelah prasyarat ini terpenuhi, maka kita meningkat juga menjadi penghasil ilmu. Mengapa paper itu harus tulisan orang? Mengapa bukan tulisan kita? Saat kita sudah rutin melakukan juga produksi pengetahuan, maka kita sudah menjadi bagian masyakat pengetahuan.

Tahap selanjutnya adalah memasuki masyarakat inovasi. Masyarakat yang menggunakan ilmu pengetahuan itu untuk memecahkan permasalahan masyarakat. Kita tidak lagi mencari solusi yang irasional, tahayul, melainkan mencari solusi saintifik. Masyarakat inovasi inilah yang menopang ekonomi pengetahuan.

Bulan ini bulan kami mengenang Prof Samaun Samadikun. Suatu kenangan yang indah, menyenangkan, dan membanggakan. Masih jelas terngiang seruannya, agar kita setia memenuhi panggilan zaman. Jangan sampai kita salah era…


  1. Mudah-mudahan negara kita juga tidak sedang salah era …

  2. “Beruntung sekali kami bias…”
    salah ketik pak? membacanya juga jadi bias🙂

    saya pernah dengar waktu pengajian, ada hadits yang kurang lebih terjemahannya begini:
    “jadilah orang ‘alim (berilmu/pakar), atau (kalau tidak bisa) jadilah penuntut ilmu (muta’alim), atau menjadi pendengar (mustami’an), atau orang yang cinta (dengan ilmu(meski tidak menguasai), cinta dengan para pencarinya atau majlisnya). Dan janganlah menjadi yang ke-lima (sudah bodoh, benci pula dengan ilmu)”

    mudah-mudahan kita tidak salah era..




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: