Pilgub Jatim

Pemimpin dan rakyat Jawa Timur sedang diuji. Pemilihan gubernur tahap II menghasilkan kemenangan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa), dengan suara 7.729.944. Mereka mengalahkan pasangan Kofifah-Mudjiono (Kaji) yang mengumpulkan 7.669.721. Selisihnya sangat tipis, hanya 60.223 suara dari 15.399.665 suara sah. Semua menahan nafas melihat hasil resmi KPU Jatim. Bagaimana pemimpin dan rakyat Jatim harus bereaksi?

Saya tidak ingin memihak. Kita mengerti persis perjuangan kedua kubu ini sudah habis-habisan. Dan rakyat pedukung mereka sangat banyak, tidak bisa diabaikan. Pasti pasangan Kaji sangat kecewa. Apalagi quick count sebelumnnya mengatakan pasangan Kaji menang tipis. Dalam setiap pemilihan, pastilah ada kesalahan dan kekurangan. Sehingga dengan perbedaan suara setipis itu, hasilnya bisa saja memihak Kaji.

Saya pikir, di sini kepemimpinan masyarakat Jatim benar-benar diuji. Pilgub adalah usaha mencari siapa yang harus melayani rakyat Jatim lima tahun ke depan. Saya sengaja menekankan kata melayani untuk menegaskan betapa tugas menjadi gubernur Jatim itu sangat berat. Jadi jelas orang harus berterimakasih kalau dipercaya (menang), tapi harus lebih bersyukur lagi pada Tuhan kalau dibebaskan dari tugas ini (kalah). Kita menawarkan diri untuk melayani, tapi ada orang lain yang diberi tugas itu. Jadi dalam hal ini kekalahan itu bukanlah penolakan. Tetap sangat terhormat.

Kalau Karsa dan Kaji mampu menembus putaran kedua, itu adalah pengakuan bahwa kedua pasangan ini adalah pilihan rakyat. Kalau kemudian Karsa dan Kaji ternyata membagi suara nyaris 50%-50%, itu adalah suara rakyat Jatim yang menganggap keduanya sama-sama layak. Jadi bagi rakyat Jatim tidak penting lagi Karsa atau Kaji. Keduanya sama-sama OK. Sama-sama putera-puteri terbaik Jatim.

Dan jauh di lubuk hati rakyat Jatim, mereka berharap kedua pasangan ini mengerti hati mereka, dan kedua pasangan ini saling bahu membahu membangun Jatim.

Sekarang bagian yang sulit. Kalau saya jadi Kaji, apa yang seharusnya saya lakukan? Saya akan menangis sepanjang hari. Tapi kemudian besok pagi saya akan menyatakan menerima hasilnya. Secara terbuka mengucapkan selamat kepada Karsa. Menawarkan dukungan penuh. Berdoa agar Karsa mampu memimpin. Bersyukur sudah mendapatkan 50% dukungan rakyat. Menjaga semua pendukungnya untuk berjuang bagi masa depan Jatim, tidak berbuat anarkis, namun sebaliknya memulihkan hubungan baik dengan pihak Karsa.

Kalau saya jadi Karsa? Saya juga akan menangis karena harus memimpin hanya dengan 50% pendukung. Akan mengakui secara terbuka kepemimpinan dan keberhasilan Kaji. Akan merangkul Kaji dan menjadikan kepemimpinan Jatim secara inovatif dan efektif sebagai kepemimpinan kolektif. Berusaha keras merangkul pendukung Kaji. Karena gubernur manapun tidak akan efektif kalau 50% rakyatnya kecewa.

Tentu tidak mudah, dan saya ini berbicara dari jauh. From the comfort of my campus. Bukan di lapangan.

Tapi faktanya begitu, kedua kubu tidak berhasil menang telak, sehingga secara statistik hasil KPU Jatim sebenarnya tidak akan bisa lain selain toss-up, lempar coin/dadu, random. Karsa tidak boleh merasa menang dan Kaji tidak harus merasa kalah. Ini sudah jalannya…

Jadi dasar keputusan kedua kubu sekarang bukan lagi pada perhitungan suara, yang sudah setingkat random itu, melainkan pada nurani dan kecintaan pada rakyat Jatim. Karena hasil itu mengatakan bagi rakyat Jatim Karsa dan Kaji are both OK. Keduanya adalah pemimpin Jatim. Jadi dengarlah apa kata rakyat. That is the real governor.


  1. sebagai rakyat jatim saya bangga, bahwa seluruh rakyat jatim menerima hasil yang bertolak belakang ini dengan tenang tanpa gejolak… bukti bahwa masyarakat jatim adalah masyarakat yang dewasa. saya juga bangga kubu ibu khofifah yang kecewa tidak emosional, lebih memilih mengajukan gugatan dan mengirimkan bukti-bukti kecurangan yang ditemukannya ke mahkamah konstitusi. nah… sekarang kita tunggu saja bagaimana kinerja mahkamah konstitusi. fair atau unfair?

  2. sepertinya di Indonesia agak berat untuk menggabungkan kekuatan politik selama yang dijual (atau setidaknya yang dibeli) dalam kampanye pemilihan cenderung ke karakter/karisma individu daripada ide.

  3. Wah saya sudah pindah kewarganegaraan, pak. Dari “negara bagian” Jawa Timur ke “negara bagian” Pasundan. Akan tetapi untuk masalah pilkada, sebenarnya saya punya pendapat sendiri, menurut saya rakyat Indonesia masih belum SIAP apabila dilakukan sistem demokrasi yang memungkinkan adanya pilkada baik pilgup, pilbup maupun pilkota.

  4. iroy

    yang terpenting bagi saya adalah kesejahteraan rakyat jatim. siapapun yang terpilih, saya harap mampu merealisasikan programnya sesuai dengan sosial masyarakat. mampu mensejahterakan rakyat, mampu memberi solusi atas korban lapindo. baik kaji ataupun karsa, kerja sama saling bahu membahu dalam meyongsong kesejahteraan rakyat jatim.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: