Ilmu Berumah Tangga

Setelah duapuluh tahun berumah-tangga, saya mulai mengerti. Banyak masalah di rumah tangga itu terjadi karena orang tidak belajar berumah tangga. Tidak punya ilmunya.

Untuk dapat mengerjakan sesuatu yang kompleks, orang perlu punya bekal ilmu. Orang belajar di sekolah penerbangan untuk menjadi pilot. Orang belajar di fakultas kedokteran untuk menjadi dokter. Bahkan untuk menjadi teller di bank, ada training minimal tiga bulan.

Lah orang berumah tangga ibarat orang tidak tahu berenang langsung terjun bebas ke sungai. Ya pasti mengap-mengap.  Dulu ada sekolah keputrian, SKKP dan SKKA.  Minimal ada sekolah untuk ibu rumah tangga.  Sekarang dua-dua, bapak dan ibu, terjun bebas tanpa bekal.

Jadinya kita learning by doing. Banyak kesalahan yang terjadi.  Tapi yang paling penting adalah kemauan untuk belajar. Memperbaiki diri. Dengan demikian, dengan berjalannya waktu, kita semakin mampu.

Saya rasa berumah tangga itu bertujuan untuk mengembangkan kasih sayang. Ukuran keberhasilan suatu rumah tangga adalah seberapa besar kita saling menyayangi satu sama lain.

Kalau begitu, apa ilmunya? Ilmunya adalah ilmu penguasaan diri. Kita mengerti kemanusiaan satu sama lain, dan belajar mengendalikannya sehingga ia diarahkan pada mengekspresikan kasih sayang. Maksud saya, setiap orang memiliki kebutuhan manusiawi. Maslow membagi kebutuhan itu dalam lima tingkatan, dari kebutuhan dasar sampai pada aktualisasi diri. Kebutuhan itu, entah sadar atau tidak, mewarnai perilaku kita. Denagn menyadari hal ini, kita semakin mengerti pasangan kita.  Dan ini membuat kita semakin mampu menyayanginya.

Belakangan ini Ina dan saya jarang berantem. Padahal kami masih emosional seperti biasa. Rupanya kami sudah saling menerima kerewelan masing-masing. Dan tidak saling menyiram bensin pada percikan emosi. Bila Ina spaning, suaranya meninggi, saya menanggapinya dengan biasa saja. Demikian juga saya perhatikan, saat saya mulai bersikap dan bersuara menyebalkan, Ina tenang saja. Tidak lima menit, kita bisa tenang kembali, menyadari emosi kita sudah lepas.

Jadi saya pikir agar kita semakin mampu untuk saling menyayangi, kita perlu membangun rumah tangga kita dengan saling pengertian. Dan itu membutuhkan ilmu. Sambil jalan kita belajar menguasainya.


  1. Wah, istri saya juga harus baca tulisan Pak Armen jg neh,,,

  2. Ummu masyhudi

    Tulisan yg bagus utk menyadarkn.tp kl mau belajar lebih dalam lagi,pelajarilah ilmu dienul Islam.insyaAllah smua yg dmaksud pak armin dah ada dlm Islam.tinggal gmn qt mau kembali ke ajaran Islam ato tidak.ato…malah lbh suka baca buku2 org barat(non muslim)yg mrk sndiri bingung utk apa qt ini hidup…

  3. “..Belakangan ini Ina dan saya jarang berantem. Padahal kami masih emosional seperti biasa. “. Wah, sebelumnya Pak Armein sering berantem sama istri? Kalau baca-baca tulisan Pak Armein kayaknya mesraaaa banget dengan istrinya, gak percaya kalau sering berantem dengan istri. Moga2 berantemnya karena hal-hal sepele ya pak.

  4. agus

    thanks ma info nya bro,smoga jadi cerminan buat ane




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: