Rumah Seribu Cermin

Konon jaman dahulu kala di sebuah desa terpencil di Jepang terdapat sebuah rumah.  Rumah ini ajaib.  Dindingnya terdiri dari seribu cermin.

Suatu hari seorang anak kecil yang masih belajar jalan masuk ke rumah ini tanpa sengaja.  Anak ini pemberani dan penuh antusias.  Di dalam rumah itu, ia mendadak melihat seribu anak kecil muncul di dinding.  Ia tersenyum.  Dan wah, seribu anak kecil senyum. Tersenyum kembali ke padanya. Ceria, cakep.  Anak ini senang sekali.  Ia tertawa, dan semua seribu anak-anak tertawa bersamanya.  Tidak tahu bawa itu cermin, dan itu sebenarnya wajahnya.

Ketika orangtuanya menggendongnya pulang, ia terus menengok ke rumah ajaib itu dengan senang.  Betapa menyenangkan rumah itu.  Seribu anak tersenyum dan tertawa bersamanya.  Ceria, cakep.

Beberapa waktu kemudian, seorang anak kecil lainnya tidak sengaja masuk ke rumah ajaib ini.  Anak ini penakut.  Di dalam rumah mendadak ia melihat seribu anak kecil.  Anak ini merengut.  Dan seribu anak merengut kepadanya.  Ia mendelik, dan seribu anak ikut mendelik.  Cemberut, jelek.  Maka menangislah anak ini keras-keras.  Seribu anak pun ikut menangis.  Tidak tahu bahwa itu cermin, dan itu sebenarnya wajahnya.

Ketika orangtuanya menggendongnya pulang, ia tidak mau melihat ke rumah itu.  Trauma.  Betapa mengerikan rumah itu.  Seribu anak mendelik dan membencinya.  Cemberut, jelek.

Ah, kita lupa dunia itu seperti itu.  Wajah orang lain adalah cermin.  Bila kita cemberut padanya, ia cemberut balik.  Tapi bila kita tersenyum pada dunia dan berbagi antusias, ia tersenyum balik dan menyambut kita dengan gembira.  Dan betapa menyenangkan dunia ini jadinya.

(Ditulis ulang dari folklore Jepang).


  1. diego_mexico

    Tapi kan ada pak orang yang disambut senyum ramah, tampangnya tetep senga’. Itu cermin burem kali ya pak?

  2. putri

    wah ada cerita seperti ini… saya setuju lho, hehehe

  3. Cerita bagus Pak Armein dan sangat menginspirasi .. Terima kasih untuk sharingnya.

  4. penyamun

    saya pernah dengar cerita ini dari Bpk Anthoni Dio Martin, mungkin ada yang tidak kenal. bedanya, analogi yang digambarkan waktu itu adalah seekor ular..
    saya suka sekali cerita ini. sangat mengispirasi saya, bila mana ketika emosi saya lagi memuncak…

  5. ak mlh baru dgr crt spt itu lo.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: