Perfect Lover (tAoFiL15)

Terkadang saya berjumpa dengan rekan saya yang belum dapat jodoh.  Sementara umurnya terus berjalan.  Saya pikir masalah mereka adalah mereka ingin mendapatkan pasangan yang sempurna.  Perfect lover.  Yaah. tidak akan ketemu atuh.  Karena perfect lover dibentuk, bukan dilahirkan.

Sabtu kemarin saya baca profil seorang penjahit pakaian di Bandung. Tailor.  Rupanya bapak ini laku keras.  pelanggannya orang-orang penting.

Tentu bisa saja mereka pergi shopping ke mall-mall atau butik dan beli baju bagus-bagus dan lebih murah.  Dan tinggal pakai saat itu juga.

Tapi tidak.  Rupanya mereka lebih senang dengan jahitan beliau, meskipun harus menunggu agak lama.  Karena pas sekali.  Sesuai dengan profil tubuh. Sempurna.

Saya pikir pasangan yang sempurna dengan kita itu tailor made.  Dibuat khusus untuk kita.  Diukur sesuai profil jiwa kita.

Dan untuk itu, ia harus dibentuk bertahun-tahun.  Ditumbuhkan.  Dipelihara.  Tidak bisa instan.

Terkadang pakaian menjadi sempit.  Baju yang bagus itu jadi tidak bagus lagi karena bentuk badan kita mulai mengembang tidak keruan.  Badan kita membesar.  Dalam hal ini, kita perlu diet.  Perlu olah raga.  Perlu melakukan usaha agar ia bisa pas lagi.

Jadi dalam menjadikan perfect lover, tidak cukup kita menuntutnya dari pasangan kita.  Kita pun harus menjadi perfect lover untuk nya.  Mengembangkan diri agar harmonis dengannya.

Saya pikir, you don’t go shopping around for a perfect lover.  Yang kita temukan di jalan, di mall-mall itu mungkin memang cantik, kasep.  Tapi itu biasanya didesain berukuran all-size, rata-rata, agar cocok untuk kebutuhan daya tarik massal.  Cocok untuk pop-culture.

Tapi untuk mendapatkan perfect lover, kita harus membentuknya.  Tailor made.  Dengan penuh kasih sayang, … berpuluh-tahun. By you!

Advertisements

  1. Jangan cari yg “mass production” ya Pak … hehehe

  2. mil

    salam kenal pa armin, saya salah satu “pelanggan” tulisan bapa, saya tunggu tulisan2 yg inspiratif-nya….

  3. F

    saya heran. ilustrasi yang bapak berikan kok selalu “kena” y?

    tailor made Vs mass production? ahaha, i’m loosing my words. 😛

  4. yaniwid

    Wah, kayaknya mass production kurang tepat. Karena, tiap orang itu unik. Hanya saja, yang lain itu mungkin bukan buat kita… Tapi perfect untuk pasangannya… 🙂

  5. @yaniwid

    Betul, setiap orang itu unik. Tapi kalau semua orang ikut trend yg sama (pop culture?) maka jadilah mereka produk massal …

  6. Hehe … asik Pak, jadi manggut-manggut tanda harus mempraktekkannya.

  7. ilustrasi yang tepat…..sungguh mengena.

  8. delfiana

    aduh sy baru baca nih,,
    bagus banget pak, ilustrasinya ciamik…:)

  1. 1 Perfect Lover « Something to look forward to

    […] sedikit excerpt hal ini dari blog-nya pak armein, terimakasih atas […]

  2. 2 21 tahun sumpah pemuda (dan pemudi) « Oemar Bakrie

    […] Pak Armein tentang the Art of Falling in Love (tAoFiL) bagian ke 15 intinya mengingatkan kita bahwa there is no perfect lover unless you make him/her so and vice-versa […]




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: