Mentalitas Kalah

Kalah sebelum bertanding ada di mana-mana.  Kita tidak berani mencoba.  Kebaikan juga sering kalah dari keburukan karena… ya itu, kebaikan sudah menyerah duluan.

Seperti yang saya tonton tadi malam.  Ada pertarungan dua petinju kick boxing di acara TV the Contender.  Seorang petinju jangkung keburu takut pada lawannya yang kekar sebelum naik ring.  Sebenarnya si jangkung punya peluang untuk menang.  Tendangannya berhasil melukai dan merobohkan si kekar di ronde pertama.  Tapi karena takut, kemampuan si jangkung tidak keluar semua.  Akhirnya si kekar berhasil bangkit memasukkan pukulan telak, sehingga menang KO di ronde kedua.

Konon dalam menghadapi ketidak-pastian, ada dua gaya yang saling bertolak belakang.  Gaya tarik berusaha mendekatkan kita pada sasaran karena potensi keuntungan.  Gaya dorong berusaha menjauhkan kita dari sasaran karena potensi kerugian.  Nah rupanya semakin dekat kita pada sasaran, semakin kuat kedua gaya itu.  Tapi gaya tolak lebih kuat dari gaya tarik, sehingga orang menjadi ketakutan.

Contoh, seorang cowok naksir cewek.  Gaya tarik akan membuatnya mendekat.  Ia membayangkan asiknya bila cintanya berbalas.  Tapi ada gaya tolak yang membuatnya menghindar.  Ia membayangkan malunya kalau cintanya ditolak.  Nah, saat si cowok jauh dari cewek itu, gaya tarik lebih besar, sehingga ia ingin mendekat.  Tapi saat sudah dekat, gaya tolak membesar melebihi gaya tarik.  Sehingga ia takut, dan tidak berani bertindak.  Dan ia lumpuh.

Dalam pertandingan The Contender tadi itu, gaya tarik adalah hadiah $150,000 bagi sang juara.  Sayangnya bagi si jangkung ketakutan dihajar lawannya itu lebih besar dari daya tarik uang itu.  Akhirnya dia lumpuh, dan kalah.

Pada saat kita mau berbuat baik, atau sesuatu yang menjadi impian kita itu dalam kondisi mengandung resiko, mengapa kita menyerah pada gaya tolaknya?  Kita berusaha mundur teratur?  Menurut saya karena kita dikuasai rasa takut.

Rasa takut yang tidak pada tempatnya perlu kita buang jauh-jauh.  Rasa takut itu diberi Tuhan agar kita takut padaNya, hormat padaNya, bukan takut pada musuhNya.

Jadi kita perlu mengerti tentang realitas gaya tarik dan gaya tolak yang berkecamuk dalam diri kita.  Kalau kita bisa mengatasinya, maka kita akan lebih happy dan sukses…




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

    Google photo

    You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: