Marah atau Jangan?

Saya pernah mendapat nasehat yang berbeda.  Ada yang menasehati saya untuk selalu menahan diri, agar bisa tenang.  Ada juga yang menyarankan untuk bisa mengeluarkan kemarahan, agar bisa lega.  Kalau menurut anda, dalam menghadapi situasi frustrasi, lebih sehat mana?  Sabar atau marah?

Beberapa waktu lalu saya agak tersentak.  Saat ngobrol dengan rekan saya, saya share tentang hal-hal yang berat yang harus saya hadapi.  Teman saya itu nyeletuk, “Pantasan belakangan ini kok kelihatannya bapak tidak sabaran dan gampang marah…”

Wah, benar juga.  Diam-diam saya agak terpengaruh oleh nasehat yang kedua itu, dalam menghadapi frustrasi, marah saja supaya lega.  Hal ini membuat saya merenung.  Aakah ini baik?  Apakah ini sehat?

Frustrasi itu apa sih?  Biasanya frustrasi terjadi pada saat ada sesuatu yang menghalangi jalan kita.  Ada sesuatu yang memblok keinginan kita.  Dan hal yang terjadi itu tidak sesuai dengan apa yang menurut kita seharusnya.

Kalau frustrasi menumpuk, kita menjadi resah dan kemudian muncul kemarahan.  Dan harapannya setelah amarah dikeluarkan, kita menjadi lega.  OK bukan?

Tapi saya pikir-pikir lagi, marah-marah itu tidak terlalu OK.  Marah itu pertanda kita mulai lepas kontrol.  Kita tidak bisa mengendalikan perasaan kita.  Kita tidak bisa mengendalikan ucapan kita.  Kita tidak bisa mengendalikan tindakan kita.

Dan namanya tidak terkendali itu ya … buruk. Kualitas decision kita jadi kurang bagus. Akal kita, hikmat kita, kecerdasan kita tidak jalan.  Belum lagi hubungan pertemanan bisa rusak karena kita bisa berlaku keterlaluan dalam emosi kita itu.

Saya sempat melihat tayangan debat calon presiden Obama vs Mccain yang terakhir.  Di situ saya lihat McCain menggempur Obama habis-habisan.  Termasuk memperlakukannya tidak terlalu hormat. Tapi yang saya heran, Obama tidak memperlihatkan emosi yang terlalu banyak.  Cuma di akhir acara saat salaman saya melihat Obama tidak secerah biasanya.  Tetapi saya melihat Obama tidak lepas kendali.  Bahkan belum pernah kita lihat dia emosional.  Padahal pertempuran kampanye itu luar biasa.

Obama sudah menguasai ilmu menahan diri, menjadi tenang dalam segala situasi.

Jadi kalau tanya saya sekarang, akal saya menyimpulkan bahwa nasehat yang pertama yang lebih benar:  Orang harus sabar dan tidak gampang marah.  Kita harus belajar memandang situasi secara kreatif sehingga tidak mudah emosional.  Dan marah itu tidak boleh meluap.

Dengan cara itu, jiwa kita jadi lebih terjaga.  Pikrian kita selalu jernih. Otak kita terlindung dari serangan emosi.


  1. hmm… nampaknya itu tergantung kepada orangnya Pak. Sebab ada teman saya yang mengalami sedikit perbedaan kejiwaan. Dia yang selalu memendam amarahnya, namun akhirnya keluar seperti membabi buta. Hmm.. itu juga malah lebih gawat lagi nampaknya pak.
    trims.

  2. Aristoteles bilang:

    Anyone can become angry – that is easy, but to be angry with the right person at the right time, and for the right purpose and in the right way – that is not within everyone’s power and that is not easy.

  3. Saladinxc

    Saya lebih ingin menanyakan tentang bagaimana relevansi marahnya kita tersebut kepada lingkungan. Seperti halnya marah obama.. kalau dia marah langsung di tempat .. ya parah lah.. bakal jelek image nya..

    tapi bukan berarti dia harus memendam rasa marah tersebut kan. tadi juga dibilang kalo mendam marah itu jelek kan.. nah.. menurutku sih setuju ama umar bakri…

    marah boleh aja.. tapi di tempat yang baik, waktu yang baik, untuk tujuan yang baik (release) dan dengan cara yang baik. salah satu caranya adalah dengan mencari teman terbaik yang bisa menegerti kita

  4. Suatu kali saya menghadapi provokator kampungan pada suatu musyawarah di balai desa. Marah sekali saya mendengar omongannya, tapi saya menanggapinya dengan dingin dan tenang serta santun. Cuma waktu saya ngomong, saya sambil mematikan api rokok kretek (tuncek2) di telapak tangan. Panas bo… hahahahaha. Telapak tangan pun luka 😀 .
    Jadi saya bisa menyalurkan (menunjukkan) kemarahan saya tanpa melukai perasaan siapapun, kecuali telapak tangan sendiri.

  5. crappuccino

    @Oemar Bakrie: setuju pak! 😀

  6. Sabar lebih keren Pak 😀

  7. aji

    Ada tulisan dari kathy sierra di blognya, yang mungkin berhubungan dengan hal ini. Dia mengatakan: Angry/negative people can be bad for your brain

    http://headrush.typepad.com/creating_passionate_users/2006/04/angrynegative_p.html




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: