Tentang Kehilangan (TAoFiL 14)

Cinta itu perasaan yang sangat kuat, yang bisa menggerakkan dunia.  Tapi ia punya lawan berat: takut kehilangan.  Takut kehilangan si dia.  Dan perasaan itu bisa sangat kuat, sehingga perlu diatasi.  Kita perlu belajar tentang kehilangan dan keterpisahan ini.

Terkadang kita heran melihat perasaan cemburu.  Perasaan itu begitu kuat, mengharu-birukan hidup orang. Saat perasaan itu hinggap, maka pikiran dan perasaan seseorang bisa lumpuh.  Penuh diisi dengan pikiran buruk tentang orang yang sangat dicintainya.  Bahkan dalam kasus tertentu, terjadi kekerasan dan pembunuhan sadis akibat cemburu ini.

Atau kita juga bisa melihat hbungan yang tidak sehat.  Satu pihak mendominasi pihak lain.  Seenaknya. Pihak yang didominasi sebenarnya tidak senang.  Tapi ia terpaksa menelan keadaan ini, karena ia ingin mempertahankan hubungan itu.  Ia takut kehilangan.

Rasa cemburu pada dasarnya juga adalah rasa takut.  Takut kehilangan.  Takut kekasih hatinya diambil orang.  Takut si dia direbut orang.

Tidak ada yang tahu mengapa manusia sangat rentan dengan perasaan takut ini.  Sebuah spekulasi mengatakan bahwa rasa takut ini terjadi sejak jaman purba dulu, saat orang purba dengan kekerasan dan brutal merebut harta milik dan pasangan hidup seseorang.  Dan konon ini mengusik proses transfer gen dalam evolusi ke generasi berikut.  Jadi dalam diri kita, di bawah sadar kita, ketakutan ini diwariskan sampai ke generasi sekarang.

Bagaimana mengatasinya?  Ini contoh klasik pertentangan antara akal sehat dengan tindakan bawah sadar. Saat ini, tidak ada lagi orang purba yang merebut si dia secara brutal.  Jadi reaksi kitapun harusnya lebih rasional.  Dengan akal sehat, kita harus berani kehilangan.  Kita harus berani hidup tanpa si dia.  Kita harus membuka mata lebar-lebar, bahwa di dunia ini lawan jenis itu bukan hanya satu orang.  Ada milyaran orang, yang bisa lebih baik.

Solusi ini memang terasa seperti kejam.  Tapi untuk mengatasi rasa takut kehilangan –yang mendasari cemburu dan bertahan dalam hubungan yang tidak sehat itu– kita harus bisa melihat sebenarnya hidup sendiri itu, tanpa si dia itu, not that bad.  Belum lagi kemungkinan pengganti yang lebih baik itu cukup besar.

Tidak jarang, kita harus terpisah beberapa saat untuk memahami hal ini.

Sebenarnya, kehilangan dan cinta itu adalah laksana angin dan api.  Api kecil seperti nyala korek api atau lilin akan padam ditiup angin.  Sebaliknya, api besar seperti kebakaran hutan akan membesar ditiup angin.

Demikian juga cinta.  Cinta yang kecil akan padam oleh keterpisahan.  Sedangkan cinta yang besar akan meluap oleh keterpisahan.  Seperti tiupan angin itu.

Jadi jangan sedih, kecewa, cemburu bila kita terpisah dan kehilangan di dia.  Keterpisahan ini akan menyaring cinta sejati dari sekedar infatuation.


  1. davsam

    Pak Armein.. IMHO… u definitely define what am i feeling that i just can’t define it for so long…rite now!!! saya harus banyak belajar dari bapak tentang cara mendefinisikan perasaan.. dengan kata2.. hehe…

    perihal cinta sejati seperti api yang tertiup angin besar..
    wow… itu kata2 favorit saya bulan ini pak… thx.. hehe

  2. kita bisa berkata seperti ini bila kita sudah berada diluar badai tersebut. Bila kita ada dalam badai tersebut, yang kita butuhkan adalah teman yang mengingatkan kita akan hal ini. Kita tidak mungkin bisa berpikir sejernih itu. Itulah gunanya teman2 yg ada di sekitar kita.

  3. ren

    terima kasih banyak buat tulisannya, pak….sangat membantu saya dalam memahami diri sendiri dan hubungan yang sedang saya jalani 🙂 ….maklum, lagi long distance, pak…hehehe :p




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: