Genuinely Fake

Hati-hati barang palsu.  Demikian saran yang sering kita dengar.  Kita takut tertipu barang palsu, karena asumsi kita barang palsu atau bajakan itu berkualitas rendah.  Tapi di era digital ini, perbedaan barang palsu dan barang asli itu tidak ada.  Bahkan bangsa Jepang menggunakan metoda bajakan untuk maju secara teknologi.

Software bajakan berfungsi sama dengan aslinya.  Hardware selalu bisa dibajak. Di Cina sepeda motor dan mobil pun bisa dibajak.  Persis sama.  Dan berkat komputer bajakan dan software bajakan, banyak orang di dunia ketiga bisa menikmati berkat dari teknologi komputer ini.

Jadi membedakan asli dan palsu itu sukar.

Salah satu slogan anti Obama di pilpres Amerika adalah bahwa “he is a fake”.  Tim McCain, lawan politiknya, berupaya menggambarkan bahwa Obama itu palsu.  Ia hanya ahli citra.  Sebenarnya di balik citra itu, dia bukanlah pemimpin yang baik, sebaik McCain.  Apalagi Obama belum se teruji McCain. (Dan menarik, mendadak McCain memilih Sarah Palin yang lebih hijau lagi sebagai calon wapre untuk mencounter image Obama).

Sebenarnya setiap orang memiliki sisi baik dan sisi buruk.  Tidak ada yang sempurna.  Cuma tentu orang tidak semangat menonjol-nonjolkan sisi buruknya, ya.  Natural.

Jadi orang yang asli itu memiliki sisi baik dan buruk.  Itu sudah pasti.  mungkin tidak fifty-fifty, tapi adalah.  Kita harus berasumsi begitu.  Tapi kalau kita membaca buku otobiografi atau blog Obama, kita tidak boleh terpengaruh untuk melakukan judgemnt dari karakter.  Karakter muncul pada tindakan.

Saya sendiri merasa risih kalau hanya membaca blog ini orang menarik kesimpulan tentang saya, misalnya.  Tentu tidak cukup, ya. Pada saat yang sama, blog ini tidak dimaksudkan untuk membuat citra tertentu.  Saya jelas jauh dari sempurna.  You just ask Ina for it.

Jadi kelebihan dan kekurangan sesorang merupakan satu paket.  Dan itu merupakan suatu proses perjalananan dan proses belajar.

Point saya barangkali adalah di dunia ini batasan asli dan palsu itu semakin tidak jelas.  Apalagi di dunia digital, di mana palsu dan asli itu bisa identik.  Produk bisa genuinely fake.

Tapi semoga karakter orang tidak ya?


  1. karakter orang ga mungkin bisa bajakan kayak software, pak.. hehe.. yg genuinely fake pada akhirnya pasti kliatan juga. =)

  2. Genuinely fake? … jadi ingat jaman ORBA ada istilah “stabilitas yg dinamis” serta ada institusi (you know what) yg berfungsi sebagai “stabilisator sekaligus dinamisator” … hehehe




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: