Usia Ayah

SMS tadi pagi dari Tomohon membuat Ina dan saya tersenyum bengong.  William, ayah saya baru dikabari bahwa ia sebenarnya lima tahun lebih tua dari usia resmi.  Ternyata ayah kelahiran 1929, bukan 1934 seperti yang selama ini kita semua anggap.  Lha?

Di sekitar tahun 1940an ayah saya tinggal di desa Raanan Lama dan bersekolah SD kecamatan Motoling.  Rupanya Kepala Sekolah SD ini kuatir anak-anak Raanan Lama tidak bisa melanjutkan ke SMP Amurang karena ada pembatasan umur.  Anak-anak kampung Raanan Lama rupanya terlambat masuk SD, sehingga semua terlambat lulus.

Maka diam-diam demi masa depan anak didiknya, Kepala Sekolah ini kemudian mengubah tahun lahir.  Semua anak-anak yang bermasalah usia ini dibuat lebih muda lima tahun!  Alhasil, ayah saya tercatat lahir 1934.  Demikian pula banyak adik-adiknya.  Baru kemarin informasi ini terbuka, dan banyak orang tua hari ini sedang terhenyak bengong, menyadari mereka sebenarnya lima tahun lebih tua dari usia resmi.

Tidak banyak orang yang senang dengan pertambahan umur.  Ada keinginan, yang sebenarnya tidak logis dan tidak realistis, bahwa kalau bisa kita tidak tambah-tambah tua.  Seakan-akan tua itu buruk, dan muda itu bagus.

Orang lupa bahwa pisang matang lebih enak dari pisang mentah.  Durian matang lebih enak dari durian muda.  Semakin bertambah usia kita semakin istimewa kita.  Saya sendiri sering terhenyak.  Betapa banyak kebisaan saya sekarang dibanding masa saya masih mahasiswa dulu.  Betapa banyak yang sudah saya peroleh hari ini.  Saat saya mahasiswa dulu tidak ada Ina dan anak-anak.  Tidak punya keponakan.  Kalau saya jujur, I am much better now.  Dan akan semakin baik dengan menjelangnya tahun-tahun mendatang.

Tentu orang bisa bilang kita tidak muda lagi.  Cuma, who cares? Itukan bergantung dari referensi.  Di banding mahasiswa ITB hari ini, saya memang lebih tua.  Tapi dibanding SBY, masih mudaan saya.  Apalagi dibanding ayah yang barusan ketambahan usia lima tahun.

Tadi pagi datang lagi SMS berikut dari Tomohon.  Terbesit rasa terimakasih kepada sang Kepala Sekolah. Ia berani melakukan sesuatu yang bisa membawanya ke penjara demi masa depan anak-anak didiknya.  Tanpa itu, ayah saya bisa endup kembali menjadi petani desa.  Dengan perubahan usia ini, ia berhasil masuk SMP Amurang, SMAN 1 Manado, dan kemudian lulus S1 di Jakarta di tahun 50an, dan lulus S2 di San Francisco di awal 70an.  Suatu prestasi yang luar biasa di masa itu bahkan bagi kebanyakan anak Indonesia. Dan sukar ini dibayangkan tanpa intervensi sang Kepala Sekolah itu.

Dan melalui rute hidup itu, ayah bisa berjumpa ibu di akhir lima puluhan di Sukabumi.  Dari perkawinan mereka itu, saya lahir.  Dari saya, anak-anak saya lahir.  Dan saya bisa bersekolah di ITB dan kerja di sini.  Dan menulis blog ini.  You see, impak-impak dari tindakan Kepala Sekolah itu benar-benar perlu disukuri.  Memang kita bisa berandai-andai, saat itu hal lain yang terjadi, sehingga jalan hidup alternatiflah yang terjadi.  Dan mungkin saja jalan alternatif itu jauh lebih hebat.  Tapi itu berandai-andai.  Sedangkan yang beneran terjadi itu sudah awesome.

Oleh sebab itu, ayah dan ibu sedang merayakan kenyataan bahwa ayah sekarang berusia 79 tahun lebih. Dan sehat walafiat.  Dan dihormati dan disayangi anak-anak dan cucunya.


  1. “Pisang matang lebih enak dari pisang mudah. Durian matang lebih enak dari durian muda”.
    Setuju Pak.
    Tetapi apa bambu matang (tua) lebih enak dari pada bambu muda? 😀
    Kayanya enakan bambu muda (rebung) dech Pak … bisa disayur, kalau yg udah tua, enaknya dibikin pagar. Masa pagar enak di makan?
    😀
    Just kiding …

  2. Arwana

    Selamat buat sang ayah yg tiba2 dpt rejeki tambahan umur 5 thn. Bukankah kita diajarkan harus cerdik untuk mencapai tujuan. Kepala sekolah harus diberi apresiasi karena niat tulusnya untuk memajukan pendidikan anak2 didiknya. Saya kira dia melihat peluang dan dia mengambilnya bukan utk diri sendiri tapi org lain. Sekrng banyak org mengambil peluang org lain dgn cara yg kurang terpuji. Kt sdh melakukan yg mana ya…

  3. Arwana

    Selamat buat sang ayah yg tiba2 dpt rejeki tambahan umur 5 thn. Bukankah kita diajarkan harus cerdik untuk mencapai tujuan. Kepala sekolah harus diberi apresiasi karena niat tulusnya untuk memajukan pendidikan anak2 didiknya. Saya kira dia melihat peluang dan dia mengambilnya bukan utk diri sendiri tapi org lain. Sekrng banyak org mengambil peluang org lain dgn cara yg kurang terpuji. Kt sdh melakukan yg mana ya…?

  4. Kayaknya ini tipikal jaman darurat, waktu perang dulu Pak. Catatan tahun kelahiran ayah saya juga “dimudakan” 3 tahun supaya masih bisa masuk SMP setelah penyerahan kedaulatan RI … Begitu di SMP ayah saya kelihatan yg paling bongsor, bahkan sudah kumisan … hehehe

  5. Kayaknya zaman dulu tanggal dan tahun kelahiran gampang diubah, sesuai dengan kebutuhan. Tapi syukurlah ayah bapak mendapatkan keberuntungan dengan lebih dituakan…lha kalau sekarang malah penginnya dimudakan agar masa untuk pensiun lebih lama.

  6. pas masa sekolah gitu ga ketauan ya pak?? keren.. hehe..
    tp kan brarti usia itu sebenernya cuma angka ya.. buktinya ayah bapak bisa merasa usianya masi 5 taun lebih muda dari usia sebenarnya [sebelum kemarin]. hehehehe..

  7. steve paat _ makassar

    kisah hidup yang menarik pak, dan ini enak diceritakan ke anak cucu, biar mereka tahu dan menambah motivasi untuk bersekolah terus,

    btw kapan bisa ke motoling pak? he..he..




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: