Never Kill Your Dream

Saya pernah mengalami berbagai kesusahan. Baik menyangkut pekerjaan, keluarga, maupun kesehatan. Tapi saya rasa semua bisa diatasi. Kecuali kalau kita kehilangan mimpi, atau kemampuan bermimpi akan masa depan.

Lucu juga mengingat masa-masa lalu. Saat saya masih kecil dan bermimpi masuk ITB. Kemudian saya lulus SMA dan diterima di ITB. Itu di tahun 1981. Sukar menceritakan perasaan saya saat mencubit-cubit lengan saya sendiri di depan papan pengumuman di kampus IPB Bogor. Nama saya muncul di daftar.

Peristiwa itu mengubah hidup saya. Saya percaya akan mimpi, akan cita-cita. We are unstoppable. Apapun yang kita impikan bisa terwujud. Karena kita mau bekerja keras, berusaha keras. Dan mimpi itu yang menyalakan api dalam jiwa kita. Api itu yang membuat kita tahan panas terik, derasnya hujan, dinginnya salju, dan hempasan angin.

Tapi kemudian apa yang terjadi? Banyak anak muda, setelah berhasil menamatkan kuliahnya, mulai melihat kenyataan lain. Organisasi tempatnya bekerja tidak memelihara apinya. Perlahan-lahan api mengecil. Tugas-tugas menumpuk. Deadline harus dipatuhi. Kegagalan menghantui, sehingga kita play safe. Tidak lagi mengambil resiko.

Tiba-tiba kita mulai menyadari keterbatasan kita. Menyadari betapa apa yang kita kerjakan sehari-hari itu, deadlines itu, adalah deadlines yang diterapkan orang lain pada kita. Agenda orang diterapkan pada kita. Dan agenda itu tidak membawa kita pada mimpi kita.

Pikiran-pikiran yang melemahkan semangat mulai masuk. Kita mulai belajar menerima apa yang ada. Perlahan pikiran membisikkan bahwa impian kita itu sebenarnya terlalu besar. Tidak realistis. Kita harus terus mengerjakan apa yang ditugaskan.

Maka mulailah kita mengikuti sistem yang ada. Agenda yang ada. Perintah yang ada. Kita belajar untuk menerima proyeksi orang lain pada diri kita.

Tapi ada sesuatu dalam diri kita yang berontak. Sesuatu yang menolak menerima kenyataan ini. Menolak untuk lari dari mimpi. Dan konflik ini bisa membuat kita menderita. Dan yang paling tragis adalah saat api impiannya mati. Ia tidak punya mimpi lagi. Api itu menjadi padam. Dan sungguh gelaplah hidupnya.

Saya pikir hal ini menjadi masalah bagi banyak orang. Ia mempunyai mimpi yang besar. Tapi setiap hari ia melangkah menjauhi impiannya. Apa yang ia kerjakan setiap hari tidak membangun impiannya.

Saya kira kita tidak punya alternatif, selain mengikuti suluh pelita impian itu. Selama kita hidup, kita tidak boleh kehilangan nyala itu. Impian itulah sebenarnya jati diri kita. Semua manusia memiliki kesamaan dalam begitu banyak hal. Yang membedakan satu dengan yang lain adalah impiannya. Jadi nyala api itu harus dipelihara. Harus dijaga. Karena ia akan menjadi mercusuar bagi perjalanan hidup kita. Tanpa itu, kita tersesat seperti kapal ditengah samudera gelap.

Kemudian, janganlah kita mematikan semangat dan impian orang lain. Tindakan kita, ucapan kita, bahkan pikiran kita janganlah menutupinya mencapai impiannya. Begitu cara kita take care each other.

Jadi, jangan matikan impian anda. Perbesar apinya, dan jadikanlah itu suluh bagi jalanmu.


  1. Arwana

    Banyak kali mimpi saya tdk jd kenyataan, tp yg sy dptkan terkadang lebih dari yg saya impikan. Dulunya sy stress tapi akhirnya saya sadar kalau mau maju harus siap utk memperbesar kapasitas saya, terutama kapasitas hati agar siap menampung segala situasi dan kondisi. Jd sayapun tetap bermimpi, apakah terwujud atau tidak itu lain persoalan, iya nggak? GBU

  2. F

    phew, saya termasuk orang yang percaya kekuatan impian. it works nicely on me.

  3. Gue banget nih Pak 😦
    Apinya sudah tidak ada. Idealisme sudah mulai terikikis, yang ada tinggal tunggu perintah dan dikejar deadline yg diterapkan orang lain (baca: bos) pada kita. Menyedihkan.

  4. Huaaa,,, saya jadi semangat membaca tulisan Pak Armein ini,,
    betul pak,, setuju sekali saya pak,, quote favorit saya adalah
    “My Limit is My Imagination”
    -sebenarnya yang menentukan batas kemampuan kita adalah imajinasi kita sendiri-
    jika saya boleh bertanya, Apakah Bapak sekarang sudah merealisasikan mimpi Bapak?
    Apakah dahulu bernaung di Sillicon Valley adalah impian bapak juga?

  5. haha,betul sekali,pak. dan terkadang,spt kasus saya pribadi dulu (http://www.nicnocquee.com/blog/?p=168),makhluk bernama ‘Teman’lah yang menjaga bahkan mengobarkan api impian 🙂

  6. JC

    tp bagaimana jika mimpi itu tidak sejalan dengan realita kehidupan?mimpi dan passion untuk menjadi peneliti, namun setelah digeluti, kenyataan tidak se-manis mimpi yang dimiliki..




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: