Recovery Days

Hari-hari ini adalah hari-hari menyenangkan untuk saya.  Atas nasehat dokter, saya harus beristirahat dan berekreasi sehingga pulih.  Jadi meskipun saya tidak lagi di rumah sakit, saya masih belum bekerja.

Sebelum sakit, saya praktis bekerja 12 jam sehari.  Berangkat dari rumah jam 6 pagi, dan pulang ke rumah jam 7 malam.  Setiap hari, bertahun-tahun.

Saya memang menyenangi pekerjaan saya.  Menyenangi tugas-tugas di kampus.  Bertemu mahasiswa dan kolega.  Dan sering juga berjumpa mitra kerja dari luar kampus.

Namun rupanya ada yang harus saya perbaiki dari pola kerja saya.  Tidak saja kita harus menyenangi pekerjaan kita, tapi juga kita tetap harus memiliki pola kerja yang sehat.  Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang, setiap hari, bertahun-tahun haruslah sehat.  Meskipun kita menyenanginya, itu tidak cukup.  Sesuatu itu haruslah sehat.

Sebagai contoh, kita bisa menyenangi rokok atau minuman alkohol.  Kita bisa menyukainya, dan bahkan ketagihan.  Tapi bila kita melakukannya terus menerus maka ambruklah tubuh kita.

Saya merasa semakin hari semakin sehat.  Dan ini menyenangkan semua orang, apalagi ina dan saya.  Tapi kalau saya tidak mengubah pola kerja atau pola hidup saya, maka kejadian yang sama akan terjadi lagi.  Ibaratnya kita sembuh dari kecanduan alkohol, kemudian kita kembali rutin menujm alkohol.

Oleh sebab itu, hari-hari ini saya gunakan untuk menata ulang pola kerja. Saya banyak merenungkan beban yang saya pikul selama ini, dan mulai mendistribusikannya kepada kolega saya.

Bertepatan dengan bulan Ramadhan, saya juga menjalankan ‘puasa’ kerja.  Saya sudah minta ijin kepada atasan saya untuk memulihkan diri.  Saya minta bantuan kolega-kolega saya untuk membantu mengambil alih sementara tugas-tugas saya.  Saya masih ke kantor hampir setiap hari di ITB.  Tapi paling-paling sejam, untuk keep in touch.  Minimal selama bulan ini.  Menata ulang.  Mensortir.  Semoga setelah lebaran saya bisa tancap gas kembali.  Tentu memilih rute yang lebih sehat.

Sisa waktu saya digunakan untuk berekreasi, menemani anak-anak saya.  Tadi siang saya menemani Marco di Giant dan Griya, sambil menunggu Ina berbelanja.  Senang sekali bisa mengobrol banyak hal dengan Marco.

Hari ini juga saya menemani Ina belajar menyetir mobil.  Ina sudah punya SIM A, tapi selama ini belum berani menyetir sendiri.  Mumpung saya ada, saya menemaninya menyetir mobil.  Saya yakin akhir bulan ini Ina sudah trampil, melebihi supir angkot.

Tentu saya menyempatkan diri mengunjungi blog ini, mengisi paling tidak satu posting sehari.  Terimakasih untuk kunjungan dan doa-doanya.  Salam hangat dari kawasan Gunung Batu Bandung.


  1. cpet pulih y pak..

    bu ina jgn diajarin nyetir kayak supir angkot lho.. o_O bahaya.. hehe.. =P

  2. Romy

    Semoga cepat pulih pak..
    Tuhan Yesus memberkati..

    Salam hangat dari bandung utara a.k.a ciumbuleuit

  3. Semoga segera fit seperti sedia kala Pak Armein dan pola kerja yang baru tidak akan pernah membuat Pak Armein sakit lagi.

    Salam, Bandung.

  4. Saya yakin akhir bulan ini Ina sudah trampil, melebihi supir angkot.

    Wah … benchmark-nya kok angkot sih Pak ? hehehe … Istri saya dulu juga begitu sampai masa berlaku SIM-nya habis belum berani nyetir karena setiap kali dia nyetir saya yg deg-degan …

    BTW, semoga cepat pulih kembali Pak.

  5. Kezia

    sekarang berenang sama akuu… ^^ hhe…
    makanya ppa jangan setress aja..
    main aja sama si jamie…

    hwhwhw.. ^^

  6. IG

    wuah.. ada kezia juga akhirnya ngasih comment.. 🙂

    hehehe.. betul tuh kezia.. papanya dijaga, biar kalo kerja ga lama2, mesti istirahat.. 🙂




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: