Tua

Kita bisa banyak belajar pada anak kecil.  Tapi kita bakal belajar lebih banyk lagi pada orang yang sudah tua. Orang yang sudah tua adalah tempat kita bercermin akan masa depan kita.

Pada anak kecil, kita bisa melihat jiwa yang murni, penuh antusias.  Anak kecil menginspirasi kita untuk hidup dengan bebas.  Tanpa takut atau gelisah.  Tanpa stress.

Pada orang yang sudah tua, apa yang bisa kita pelajari?  Ada sebuah saran yang bagus sekali untuk dicoba.  Kita diajak membayangkan bahwa hari ini kita sudah berusia lanjut.

Katakanlah hari ini kita berusia 80 tahun.  Kemudian, bayangkan kondisi badan kita.  Mungkin sakit-sakit.  Punggung agak bunkuk.  Persendian melemah.  Paru-paru berfungsi terbatas, akibat merokok.  Kekuatan otot menurun.

Kondisi mental kita mungkin melemah.  Pikiran dan ingatan tidak bagus lagi.  Kita mulai pikun.  Rewel.  Dan kembali seperti bayi.

Kondisi keuangan kita mungkin merosot.  Kita hidup berkekurangan.  Tidak bisa membayar obat, karena tabungan dan pensiun tidak ada.

Dan yang parah, kita bisa menyesali diri.  Banyak hal yang ingin kita kerjakan, tidak sempat kita lakukan.  Tidak ada legacy, atau peninggalan yang bisa dibanggakan.  Tempat yang kita ingin kunjungi tidak bisa lagi kita datangi.  Atau si dia yang kita diam-diam naksir, tidak pernah kita sapa.

Dan mungkin saat kita wafat, kita membayangkan tulisan obituary apa yang akan ditulis orng tentang kita.

Semua ini kita coba bayangkan, dan kalau perlu kita tuliskan pada secarik kertas.

Kemudian, langkah berikutnya, mari kita mulai membayangkan.  Seandainya kita diberi kesempatan untuk mundur sekian tahun, menjadi kita pada umur sekarang, apa yang akan kita lakukan untuk mengubah semua itu?  Dala  penyesalan, apa hal-hal we wish we have done?

Nah, bayangkan keajaiban itu terjadi.  Dengan mesin waktu, kita mundur ke usia kita sekarang.  Hari ini juga, kita mulai melakukan hal-hal tersebut.  Hari ini juga kita mulai membangun legacy kita.  Hari ini juga kita berhenti melakukan hal-hal yang merusak hidup kita nanti.

Kita bisa melihat pada orang-orang tua di sekitar kita.  Saat saya pulang ke Tomohon, menjenguk ayah ibu saya, saya lebih banyak diam dan mengamati mereka.  Mengagumi mereka. Mempelajari sikap hidup mereka.  Apakah kita ingin menjadi seperti mereka nanti?  Apa yang ingin kita tiru dan apa yang ingin kita hindari?  Langkah-langkah di atas bisa membantu kita.


  1. hehe.. ntah knapa makin hari saya merasa makin mirip dengan ibu saya..
    dan ternyata tman2 saya yg lain juga merasa mereka makin mirip dengan orangtuanya masing2..
    jadi.. memang harus belajar dari yang lebih tua.. =D

  2. Wahh, menarik sekali PaK, bisa jd bahan renungan.. Sy coba:)

  3. Selamat pak, sudah pulih kembali kesehatannya. Mohon maaf waktu sakit/diopnemae kemaren saya nggak sempat jenguk.

  4. yaniwid

    Belajar dari yang lebih tua ya ?
    Untuk beberapa hal, saya banyak belajar dari Bapak…. dan blog ini 🙂
    Thx ya Pak…

  5. kata orang, bukannya hidup itu ada di masa sekarang? jangan hidup di masa lalu atau hidup di masa depan. prepare mungkin iya, tapi berandai2 nanti tua ngapain; koq suka bikin sesak napas ya. barangkali salah saya yang menanggapinya. krn 10 thn lagi, rasanya saya ga bisa jadi seperti pa armein sekarang 🙂 [kita beda 10 thn ada ga? ada kan?]. barangkali blogstatnya juga tak terkejar..

  6. semacam roadmap gitu pak? atau upaya mengurangi penyesalan di hari tua. memang umur cepet berlalu… sangat rugi kalau kita tak sadar serta tidak ‘beramal’ ke sesama, menebar kebaikan dan mencegah kejahatan.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: