Ayam Wong Solo dan David Backham

Memang tidak ada hubungan langsung antara pendiri restoran Ayam Wong Solo dan David Beckham. Yang satu adalah entepreneur, dan satunya lagi bintang sepak bola. Banyak orang menganggungkan entrepreneur, sehingga semua harus menjadi enterpreneur, seperti pendiri restoran sukses ini. Tapi kalau semua seperti itu, kita semua rugi. Karena kita tidak bisa menikmati permainan David Backham karena dia harus buka restoran dong ya?

Saat semua pada ingin jadi pegawai, terutama pegawai negeri, banyak orang menyarankan kita menjadi enterprenur. Prof Iskandar Alisyahbana, mantan rektro ITB dulu, pantas menjadi bapak entreprenur ITB, karena smua dosen dan mahasiswa disuruh belajar wirausaha. Silicon Valley penuh kisah sukses entrepreneur muda, macam Steve Jobs atau Bill Gates.

Di Indonesia, pendiri restoran Wong Solo itu pun jadi model yang dikagumi. Semua didorong menjadi seperti dia. Kalau tidak jadi entrepreneur, rasanya kurang sip.

Tapi tidak semua berbakat. Tidak semua punya tujuan hidup seperti itu. Tidak semua harus menjadi entrepreneur.

Karena memaksa diri, banyak entreprenur stress. Hidupnya tidak bahagia. Dia menjalankan sesuatu yang bukan jiwanya. Dan kita semua rugi.

Mungkin anak-anak kita itu berbakat menjadi Albert Einstein, Leonardo Davinci, Sigmund Freud, Abraham Lincoln, yuliu Caesar, atau Alexander Agung. Atau Beethoven, Beatles, Madonna. Atau Michael Phelps, David Beckham. Saya bisa buat daftar panjang, tapi you got the point. Mereka semua tidak seperti Steve Jobs, Bill Gates, atau pendiri Wong Solo.

Betapa ruginya dunia ini kalau kita tidak mempersembahkan our real talents, dan malah menjadi pengusaha yang biasa-biasa saja.

Kita sebenarnya tidak terlalu banyak entrepreneur. Kalau satu entrepreneur sukses bisa mempekerjakan 100 orang, maka kita sebenarnya hanya butuh 1% entreprenur dalam populasi. Sebab bila jumlah entreprenur lebih dari itu, mereka akan berebut employee dan pembeli. Lihat saja di pinggi jalan. Kalau warung yang sama berderet banyak sekali, siapa yang akan menjadi pelanggan mereka?

Saudara kita penganut Hindu membagi empat dharma penganutnya: brahmana, ksatria, waisya, dan sudra. Entreprenur itu berdharma pedagang (waisya). Implisit disitu ada pengertian jangan semua menjadi pedagang. Bijak sekali. Kalau brahmana atau ksatria bersikap seperti waisya, dunia kacau, seperti yang kita lihat hari ini.

Jadi saya pikir, entreprenur itu suatu pekerjaan yang hebat dan mulia. No question about it. Cuma kita jangan over do it: semua ingin mau jadi entreprenur. Sayang bukan. Hidup itu tidak hanya tentang berusaha bisnis atau mencari rejeki. Hidup tentang memenuhi penaggilan hidup kita.

Lebih baik tetap melihat banyak David Backham daripada semua jadi pengusaha ayam Wong Solo, bukan?


  1. Arwana

    Bener pak talenta kita sudah diatur berbeda-beda spy bisa saling melengkapi. Saya pengen jadi entreprenur pdhal sy sdh bekerja tetap di bidang yg lain. Akhirnya nggak fokus dua2nya, tidak maksimal dan cukup memusingkan.

  2. Wah.. cukup membuka jalan pikiran saya.. terima kasih Pak.. 😀
    betul sekali ya Pak, kalo semua jadi dosen, siapa yang diajar ya Pak? hehe

  3. Kadang saya pikir orang Indonesia kurang kreatif. Karena selalu ingin ikut dengan orang lain. Temannya sukses buat warnet, langsung ikut-ikutan buat warnet juga. Padahal kalau misalnya dia buat warung di sebelahnya warnet temannya, mungkin dia akan lebih sukses daripada temannya.Budaya “mencontek” inilah yang harus dihilangkan.

  4. sipz pak !!
    benar – benar memberikan pandangan yang berbeda !!
    saya setuju kata bung arwana, intinya mah saling melengkapi !!

  5. heryazwan

    Benar, Pak. Tidak semua orang harus jadi pengusaha. Sekarang aja, kita sudah pusing, apalagi menjelang lebaran, betapa banyaknya pedagang kaki lima yang memenuhi bahu jalan. Sampai2 di Tanah Abang, katanya sekarang jalur yang biasanya dapat dilalui 3 mobil, tinggal 1 mobil. Eh, ini mah masalah disiplin dan hukum ya?
    Intinya, memang bagaimana memenuhi panggilan hati masing2 orang. Mau jadi apakah saya? Siapakah saya? Apa bakat saya yang paling menonjol? Apa yang saya sukai?

    Salam kenal Pak.
    Kesasar dari blognya Ikkyu San…

  6. namanya pengusaha wong solo = Puspo Wardoyo Pak… hehe..
    es poligami… jus dimadu…

  7. Yang Di Atas emang adil kok Pak. Ada yang jadi presiden, ada yg jadi rakyat. Ada yang jadi polisi, banyak juga yang jadi maling. Ada yang suka CR7, ada yang belain Sheva sampe mati-matian…hehe… Dan tentu saja, ada yang ngompori jadi enterpreneur kayak Pak Iskandar Alisyahbana, dan ada juga yg ngeliat sisi lain enterpreneur seperti Pak Armein ini. Kalo Pak Iskandar bagian ngegas, Pak Armein bagian ngerem. Lah kalo semua ngegas ntar bisa nabrak. Tp kalo semua ngerem ya gak jalan2.

    Hehe…just my two cents, Pak 🙂

  8. mohon tanya,

    pak armein ini lebih prefer pak Samaun atau pak Iskandar yah?

  9. Munggang

    Salam kenal Pak …

    Tapi, menurut saya, entrepreneur memiliki arti yang lebih luas, bukan sekedar “penjual”. Entrepreneur adalah orang yang mampu merealisasikan ide2nya menjadi kenyataan. Karena itulah tiap orang dihimbau untuk menjadi entrepreneur.

    Siapapun dia, entah peneliti, guru, atlet, artis, politikus maupun karyawan kantoran biasa, selama punya mimpi/ide dan mau serta berhasil merealisasikan mimpi/ide itu dapat dianggap sebagai seorang entrepreneur.

  10. kita sudah digariskan dan ditakdirkan oleh yang diatas mempunyai jalan sendiri2 dan kala semua jadi entrepreneur terus sap yang jadi pembelinya, maka dari itu jalani apa saja semuanya dengan suka cita dan penuh semangat

  11. julmix

    dari tulisan bapak sebelumnya ada benernya juga pak.. PRIORITY! ya itu maksud saya, ada kalanya kita harus membedakan ingin, ingin sekali dll, jadi contohnya gini kita ingin jadi dosen di ITB, tapi sekadar ingin karena kalo ditanya we dont know how to answer it? mungkin karena prestis dll.. tp kondisinya kita sekarang kerja kantoran, ok maksud saya,karena cita2 kita ingin menjadi dosen, dan kondisi kita sekarang employee, ya kita berusaha excel di kerjaan kita sekarang, dan jadi pembicara di berbagai seminar,.. siapa tau ujung2nya kita ditawari jadi dosen..

    ini juga bisa diaplikasikan ke kondisi enterprenuer.. artinya kalo kita sekadar ingin, ya kita cukup baca business week, financial times, dll, terus aplikasikan ke pekerjaan kita.. dan menurut saya CEO, COO, CIO dll itu ada jiwa enterpreneur dan dia at least lebih safe dibandingin kalo buka bisnis sendiri..

    so, menurut saya as long as kita kreatif, bisa menentukan pilihan hidup, kita bisa dapet one whole package contohnya kayak pak ridwan kamil dosen arsitek yang ngerambah jadi artis 🙂

  1. 1 Tulisan Kritis Analogis « Infinitum Dialectica™

    […] saja baca disini kemudian […]




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: