Tukang Parkir

Pengemudi mobil mengenali tiga macam tukang parkir di Bandung: berseragam kuning, berpakaian preman, atau petugas secure parking.  meskipun tugas utama mereka mengatur parkir kendaran, ketiganya memiliki sikap yang berbeda.  Layak dipelajari.

Tukang parkir berseragam kuning itu mengurus jalan-jalan terbuka.  Mereka dibekali karcis parkir Pemkot.  Dan setiap orang parkir membayar harga yang tetap, sesuai karcis parkir.  sudah menjadi rahasia umum tidak semua pungutan disetor ke kas Pemkot.

Parkir preman lain lagi.  Bemodalkan peluit mereka seakan-akan mengatur kendaraan.  Tapi sebenarnya mereka bertugas mengumpulkan uang.  Untuk dibagi-bagi.  Untuk mereka, kerapian parkir tidak penting.  Yang penting uang masuk.  Kalau tidak bayar, mereka ngamuk.  Ini semi pemerasan.

Pengalaman paling menyenangkan itu berhadapan dengan petugas secure parking.  Mereka tidak memungut uang langsung, karena uang dipungut di loket.  Mereka sibuk menata kendaraan agar tertib.  Gaji mereka tidak berhubungan dengan jumlah pungutan.

Ketiga tukang parkir ini adalah cerminan profesional hari ini.  Kalau kita menjadikan tempat kerja sebagai tempat cari uang, maka kita sama dengan parkir preman.  Kita tidak tertarik menjalankan tugas kita.  Dharma kita.  Kita tertarik dengan uangnya.

Dosen memeras mahasiswa, polisi memeras pecandu narkoba, jaksa memeras terdakwa, dokter memeras pasien, pejabat memeras masyarakat, ulama memeras jemaat.  Saat tugas kita berubah menjadi tempat mencari uang, mencari rejeki, maka kita tidak beda dengna parkir preman.

Atau mungkin kita masih profesional.  Tapi kita mengantongi uang pekerjaan untuk diri sendiri.  Tidak mencukupkan diri dari gaji.  Maka kita sama dengan tukang parkir berseragam kuning.

Kita harus belajar memenuhi dharma kita, tugas kita, dan mencukupkan diri dengan gaji yang ditetapkan.  Bila tugas kita laksanakan dengan baik, setia, penuh dedikasi, maka hukum alam bekerja: kita akan direward dengan kecukupan.

Mungkin kita sudah sekolah tinggi-tinggi, atau berjabatan tinggi.  Tidak ada salahnya belajar dari tukang parkir bukan?

Salam hangat.


  1. kmastion

    read…!
    anda benar2 mengajari saya membaca.

  2. jangan takut minta karcis !

    mreka minta uang kita, kita minta karcis

  3. Menusuk Pak, langsung ke ulu hati dan merambat ke semua pembuluh darah saya. Many thanks for this 🙂

  4. analogi yang sangat baik pak… 🙂

    ada satu jenis tukang parkir lagi, tukang parkir itb. Udah parkiran kecil, motornya banyak, pas jam sibuk tambah capek nggeser2 motor biar tetep longgar, kerjanya 24 jam, cek stnk manual, denger2 jg kalo ada motor ilang gajinya dipotong…. Salut buat mereka

  5. tajam sekali tulisan bapak..mesti banyak yang tersinggung..
    inspiring words 🙂

  6. saya ga nemu analogi yang pas, jika kerja memang demi mendapatkan uang-tertarik dengan uang; tapi tidak korupsi, tidak maksa, tidak peduli hasil dan proses. just lempeng.
    tukang parkir macam apakah itu?

  7. Semoga kita jangan gengsi untuk belajar dari tukang parkir…
    Biasanya orang Indonesia gengsi nomor satu sih.

    salam kenal pak
    EM

  8. Budi

    Tukang parkir baju kuning mungkin mesti dibuatkan sub-class-nya, Pak, untuk keperluan identifikasi setidaknya. Pernah terjadi, ketika karcis parkir diminta, ybs malah menantang, “Situ maunya berapa lembar” sambil memberi setengah gepok karcis. Kalo begini mah, barangkali yg terjadi bukan “..tidak semua ..disetor ke kas Pemkot.”, tapi “..semua tidak masuk kas Pemkot.” Kemungkinan lain, ini tukang parkir preman dalam penyamaran. Dua-dua-nya layak jadi metafor juga untuk macam2 peri kegiatan di lingkungan sekitar kita.

  9. Betul, analogi yang pas untuk mewakili bagaimana kita berperilaku dalam bekerja. Menarik sekali pak!

    Saya mau share beberapa hal pak.

    1. Parkir ber-karcis di Bandung biasanya setorannya tidak karcis-based, tapi fixed-based yang ditaksir berdasarkan ramainya suatu lokasi parkir. Jadi, ngga perlu merasa rugi kalau lupa minta karcis dan menduga tukang parkirnya akan beruntung seribu perak. Tidak ada orang yang kaya raya jadi tukang parkir seperti ini, tapi banyak orang di atasnya yang kaya raya dari parkir model ini, karena banyak kebocoran di tengah dan sulit di-audit.

    2. Sebagai dosen ITB, rasanya saya cenderung termasuk yang ketika. Dalam hal ini, saya digaji relatif tetap, dan tidak menerima uang langsung dari mahasiswa atau mahasiswa tidak menjadi variabel langsung yang menentukan sikap saya terhadap mahasiswa. Namun,… saya tahu persis, di kampus lain (tidak semua), ada posisi interaksi dosen-mahasiswa yang berhubungan langsung dengan aliran uang atau hadiah (dari mahasiswa ke dosen), sehingga sikap dosen sangat tergantung dengan kelancaran dan besarnya aliran tadi. Persis seperti tukang parkir preman. Semoga hal ini tidak akan pernah terjadi di kampus ITB.

  10. azrl

    @ayi: Mbak, pekerjaan seperti itu menurut saya adalah pekerjaan orang financial, seperti di bank. Bekerja seluk-beluk tentang uang. Dan perlu lempeng, lurus, tapi bisnisnya ya uang. Kalau dianalogikan urusan parkir, ini mungkin orang yang berinvestasi di bisnis parkir.

    @aa: Ia pak, saya dengar di kampus lain, mahasiswa harus bawa sesajen ke dosennya. hehe, seram.

  11. Saya ketawa ngakak baca jawaban Pak Armein buat Pak AA ” … sesajen untuk dosen … ” huahahaha

  12. eh pa oemar, di universitas saya enggak terima sesajen lhooo..
    emang kita teh mbah dukun? 😀

  13. pa armein, maksud saya; saya ga dapat analogi yang pas sebage tukang parkir yang mana..

    sebenernya sih, karena saya tidak mencukupkan gaji artinya saya.. tukang parkir kuning! hehehehe.. tapi apa saya mencari tambahan penghasilan di luar karena gaji yang umr ini, sama dengan tidak mensetor pungutan ke kas? ga doung.. (denial nih denial ha ha ha)

  1. 1 Tulisan Kritis Analogis « Infinitum Dialectica™

    […] Coba saja baca disini kemudian disini […]




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: