Secangkir Minuman

Saya sebenarnya cukup mandiri.  Saya bisa mengurusi diri sendiri.  Termasuk membuat secangkir kopi atau teh untuk saya nikmati.  Tapi kalau di rumah saya selalu minta Ina membuatkan minuman saya.  Melalui secangkir teh itu, she communicates her love to me.

Sejak saya mahasiswa, saya sudah tinggal jauh dari orang tua.  Jadi saya belajar mengurus semua kebutuhan saya.  Saya belajar mengatur keuangan sendiri, belanja kebutuhan sendiri, cuci baju sendiri, memasak sendiri, dan tentu yang termudah dari semua itu adalah menyiapkan secangkir minuman.

Mungkin memandang secangkir minuman sebagai ekpresi cinta itu berawal dari masa saya berpacaran dengan Ina.  Ina tinggal di rumah orang tuanya di Gang Sukasari, Jalan Pajajaran.  Sore atau malam sehabis kerja saya berkunjung ke rumahnya.  Dan Ina selalu menyiapkan secangkir kopi nescafe dengan creamers untuk saya.

Buat saya saat itu terus terang kopi nescafe dengan creamers itu barang eksotik.  Saya lama tinggal di asrama.  Jadi saya terbiasa dengan air putih, atau teh yang dibuat massal dalam teko besar.  Kalaupun minum di luar itu, ya coca cola, teh botol, atau yang sejenis.

Dan disiapkan khusus Ina untuk saya itu membuatnya terasa special.  Di situ saya mulai bisa membedakan minuman.  Ada yang dibuat sembarangan, dan ada yang dibuat dengan perasaan.  Ada yang dibuat asal-asalan, ada yang disiapkan dengan hati-hati.  Saya bisa tahu.  Paling tidak terasa seperti tahu.

Sebenarnya saya dulu peminum kopi.  Tapi sekitar tiga tahun lalu saya berhenti.  Saya menggantinya dengan teh.  Dan setiap malam, selesai makan malam, Ina selalu menawarkan dibuatkan secangkir teh.  Tepatnya segelas besar, sebenarnya.

Ina akan mengambil air aqua, dan memasaknya sampai mendidih, dan menuangkan ke dalam Mug atau Gelas besar.  Kemudian ia mengambil teh celup yang masih baru untuk dilarutkan ke dalam Mug ini.  Gula secukupnya ditambahkan dan diaduk, lalu disajikan.  Sering saya ditemani untuk menghabiskannya.  Karena mendidih, maka perlu waktu cukup lama untuk menghabiskan teh se Mug itu.  Jadi kami bisa ngobrol, catching up.  Sambil saya menghirup minuman itu.

Kalau air tidak mendidih, saya pasti tahu.  Kalau teh celupnya bekas pakai, saya pasti tahu.  Jadi kalaupun saya pulang larut malam, dan Ina sudah lelah, dia tetap akan berusaha untuk mendidihkannya dan menyiapkannya seperti itu.  Karena sebenarnya bukan soal minum teh.  Saya bisa buat sendiri, kan.  Tapi itu soal berkomunikasi.  Soal berekspresi.

Itu yang membuat saya selalu senang setiap hari.  Karena bisa mendapatkan secangkir teh, yang disiapkan dengan cinta.


  1. Oh jadi ini resepnya ya … he he he… Selama ini, saya menganggap teh yang disedikan istri, biasa saja. Nampaknya perlu belajar banyak.
    Salam buat istri Pak …

  2. stefanus

    wah baca cerita ini jadi seperti
    yang di iklan salah satu merk teh.
    jadi perasaan orang yang bikin
    tersampaikan ke orang yang minum..

  3. Emang betul. Teh dengan komposisi teh celup, gula, plus cinta rasanya jauh lebih enak.

    Jgn banyak2 loh gulanya. Selain menghindari kencing manis(diabetes), jg supaya rasa teh yang nikmat bisa terasa.

  4. bagus untuk dijadikan iklan teh..

  5. Wah .. Pak Armein dan Ibu romantis sekali ..

  6. co cweet..

    nikah ahh…

  7. putri

    wah… perlu di catat *hahaha*,
    seperti kuliah “jika sudah menikah” *hahaha*




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: