Mengaku salah

Mengaku salah dan minta maaf itu sering sukar dilakukan. Entah mengapa, kita merasa dengan mengaku salah atau meminta maaf, posisi kita menjadi lebih rendah atau lebih sulit. Padahal sebaliknya, dengan mengaku salah kita memperlihatkan bahwa di hari ini kita sudah lebih bijak ketimbang di hari kemarin.

Ada dorongan besar dalam diri setiap orang untuk bisa lebih hebat dari orang lain. Minimal tidak lebih rendah. Mungkin ini pengaruh evolusi. Kita ingin lebih unggul dari orang lain supaya peluang kita untuk mewariskan gen kita ke generasi berikut lebih tinggi.

Nah kalau kita mengaku salah, apalagi dalam perdebatan, kita merasa dikalahkan. Kita merasa saat itu posisi kita turun relatif lebih rendah dibanding lawan kita itu.

Tapi itu cuma perasaan kita saja. Kenyataannya tidak begitu.

Ukuran kebesaran seseorang itu ada pada seberapa dekat ia pada kebenaran. Seberapa banyak ia tahu tentang apa yang benar dan berupaya untuk hidup dalam kebenaran itu.  Seberapa besar ia berkembang dalam kebenaran.

Sebab kebenaran itu sesuatu landasan yang kokoh untuk membangun sebuah kebesaran. Bila kebesaran kita hendak didasarkan pada ketidak benaran, maka landasan kita tidak kokoh. Saat kita membesar, beban menjadi berat, dan landasan kita patah. Kebesaran kita ambruk.

Dengan orang mengaku salah, dia menjadi lebih tahu tentang kebenaran, dan mau mengambilnya sebagai landasan yang baru. Ia bertumbuh. Lebih baik dari hari kemarin. Sehingga hari-hari esoknya menjadi cerah. Ia bisa menjadi besar, dan kebenaran itu kuat untuk menopang kebesarannya.

Memang ini problematik secara semantik, tapi saya percaya, mengaku salah itu membuat orang mengaku akan kebenaran. Saat mengakui kita salah, kita mengakui apa yang benar. Dan ini yang membuat mengaku salah itu terhormat.

Jadi saya pikir, saat kita menyadari sebuah kesalahan, jangan tunda-tunda. Detik itu juga kita mengaku salah dan menyelesaikannya, artinya menghentikan kesalahan dan berpindah ke kebenaran.

Ada banyak cara untuk tumbuh mencapai kebesaran. Mengaku salah adalah salah satunya.


  1. Menurut saya, perkembangan gen bersifat statis tidak dipengaruhi oleh evolusi. Sesungguhnya gen unggul sudah ada dalam diri kita. Hanya saja perlu ada sesuatu yg mentriger agar muncul (hanya saja bahasa ini oleh orang evolusionis, disebut sebagai evolusi). Jadi memang sebelumnya sudah ada. Khusus untuk teori ini saya tidak mau mengaku salah Pak he he he…

  2. azrl

    @Hardjo: ia betul, dan saat kita punya anak, ia mewarisi gen orang tuanya. Begitu cara pertumbuhan spesies terjadi, dengan merekombinasi gen-gen itu ke generasi berikut, ya. Jadi orang tidak concern dengan memperbaiki gen. Ia lebih concern tentang mewariskan gen, kan ya.

  3. Alfiyan

    Tiga kata tabu yang masih sulit kita ucapkan Pak:
    – Maaf
    – Tolong
    dan
    – Terima Kasih

    Terima kasih, Pak…. sudah membuka lagi pikiran kita semua..

    Btw, keren ya dosen ITB sempat nge-blog… Sayang, di ITS jarang atau hampir ga ada dosen yang nge-blog…

    Alfiyan,
    Elektro ITS




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: