Engkaukah dia?

Seorang wanita membereskan meja kerjanya. Hari sudah mulai gelap. Waktu untuk pulang. Ia menghela nafas. Hari-hari begitu sepi. Di manakah dia?

Seorang pria mematikan komputernya. Cukup kerja hari ini. Ia bersandar meregangkan otot lehernya. Pikiran kembali melayang. Lima belas tahun lalu, mereka berdua berjalan di pepohonan kampus. Di rumput hijau dengan daun berguguran. Kuliah dan tugas dijalani bersama. Kebersamaan menumbuhkan kerinduan. Pergi makan ke kantin, atau menahan lapar karena uang tidak cukup, dijalani bersama. Menemani saat ia sakit terbaring sendiri di pelosok Bandung. Hhh, di manakah dia?

Sang wanita berdiri mengambil mantelnya. Ia berdiri, mengalungkan tasnya dan berjalan ke luar. Hari ini ia tidak ingin pulang dulu. Ia ingin menyusuri tepi jalan, sambil pikirannya melayang ke masa silam. Saat ujian akhir akan tiba, di sore itu, mereka duduk di tepi lapangan basket yang kosong. Mereka memandang satu sama lain. Apakah kita akan menikah? Engkaukah si dia itu? Apakah kita benar-benar yakin tidak ada si dia yang terbaik?

Sang pria masih teringat nada keraguan saat itu. Mungkin ini hanya perasaan sesaat? Karena kita selalu bersama, berjuang bersama? Bagaimana kalau ternyata perasaan ini luntur dan kita saling menyakiti? Ia menghela nafas dan menggeleng. Ia berdiri, mengambil jaketnya dan turun ke lantai satu. Supirnya menyapa, ia hanya menggeleng. Ia tidak ingin pulang, ia ingin berjalan kaki menghabiskan malam dalam kesendirian.

Taksi menawarkan jasanya, namun sang wanita menggeleng tanpa menoleh. Lampu temaram mulai menerangi jalan. Ia teringat sore itu sebuah keputusan dibuat. Bulan depan bulan wisuda. Itu saat kita berpisah. Engkau ke kiri, aku ke kanan. Engkau ke timur, aku ke barat. Engkau ke utara, aku ke selatan. Mari kita uji perasaan kita. Kalau rindu ini tidak luntur, cinta pasti akan mempertemukan kita. Dan kita akan menikah.

Sang pria menyarungkan tangannya ke saku jaket. Ia mengangkat bahunya dan berjalan menunduk. Masih teringat sentuhan saat ia membelai pipinya. Mereka sama-sama berjanji. Kalau perasaan ini hanya sesaat, maka semoga engkau menemukan si dia yang sejati. Menikahlah. Aku akan sangat berbahagia.

Tidak terasa sang wanita membelai pipinya sendiri. Terkenang sentuhan terakhir yang ia rasakan sebelum berpisah. Ia akan sangat berbahagia seandainya aku menemukan si dia yang sejati. Aku juga akan berbahagia kalau ia menikah dengan gadis pilihannya.

Sang pria menggeleng kecil. Lima belas tahun tidak ada yang bisa menyentuh hatinya. Tidak pernah rindu itu luntur. Tapi cinta tidak pernah mengantarnya kembali. Berarti dia sudah menemukan si dia yang sejati. Ia sudah berjanji. Akan harus berbahagia dengan kebahagiannya. Ia hanya tersenyum mengingat semua desakan agar dia berumah tangga. Mereka tidak tahu mengapa. Ia mau dipindah ke kota asing ini untuk mencoba melupakannya. Meskipun sebenarnya sia-sia.

Sang wanita tersenyum kecil mengingat desakan semua. Mengapa kamu belum menikah? Bagaimana bisa? Di hatiku bertahta si dia. Yang menyentuh pipi ku sore itu. Cinta tidak mempertemukan kita. Dia sudah menemukan gadis nya. Aku berjanji untuk berbahagia dengan kebahagiaannya. Ia mau dipindah ke kota asing ini untuk mencoba melupakannya. Meskipun sebenarnya sia sia.

Suasana malam semakin ramai. Dimana-mana orang bersenda gurau di teras-teras kafe. Ramai dengan segala macam bahasa. Jam pulang kerja memadatkan trotoar. Orang menenteng tas belanja. Berseliweran dari segala arah.

Sang pria mencoba berjalan menghindari para penjalan kaki. Tapi mata basah mengaburkan pandangan. Ia menabrak seorang wanita. I am sorry.

Sang wanita mencoba berjalan menghindari para pejalan kaki. Tapi mata basah mengaburkan pandangan. Ia menabrak seorang pria. I am sorry.

Sedetik mereka saling pandang. Kepedihan lima belas tahun mengubah penampilan. Genangan butiran airmata mengaburkan pandangan. Ah, mereka tidak saling mengenali.

Sang pria berjalan ke kiri. Sang wanita berjalan ke kanan. Mata yang basah memandang ke langit.  Ahhh, di manakah dia? Aku ikut berbahagia dengan kebahagiaanmu..

——

(Belajar bikin cerpen, Hope you like it, :-)).


  1. teruskan pak.. masih ngegantung hehe😛

  2. Wah, di PPTIK ada virus buat Cerpen dan Puisi ya Pak?…:)

  3. menarik …
    alurnya bagus🙂

  4. kuke

    aku malah bayangin ini jadi video-klip aja🙂

  5. bagus2. Nanti klo perlu, dibuat bersambung. Soalnya klo cerita bersambung itu gimana gitu. Membuat org pingin baca dan baca terus.🙂

  6. sulistyo

    sepakat sama kuke pak.. jadi film pendek bakal bagus..😀

  7. Udah terpukau kenapa open ending pak?

    Cerita di atas banyak menyentuh kehidupan nyata, kita tak tahu sebetulnya pada siapa hati ini berlabuh, sampai saat kita sudah kehilangan dia. Sulitkah memahami hati kita sendiri? Keinginan kita? Semoga anak, ponakan saya ikut baca tulisan ini…..agar tak perlu menunggu sampai 15 tahun kemudian…

  8. davsam

    Sepertinya cerita ini adalah suratan takdir bagi saya…
    (psst, maklum baru patah hati…)
    Pak… mengapa dikau mengingatkan aku kembali Pak ???
    mengapa???

  9. wah pak…saya sampe kaget…kok tiba2 nongol tulisan seromatik ini…apa karena udara bandung yang dingin dan mataharinya yang bersinar malu2…
    pak..pak…saya pernah ntn film yang mirip banget ama cerpen ini kejadiannya…anime jepang judulnya ‘5 cm’. saya bisa membayangkan tiap adegannya…tinggal dikasih scooring piano aja pak…pas banget…

  10. Wow… Cerpennya bagus Pak. Ditunggu cerpen2 berikutnya.

  11. huaa.. cliffhanger!
    terus pak! ^^b

  12. bagus pak.. ^^
    bikin jadi novel aja gmana?? khukhu

  13. eu..
    (mau komen hihihi tapi ga tega)

  14. H.M

    Saya kira sebuah analogi dr suatu kasus.. Ternyata Anda membuat cerpen.. Ha3.. Ada2 saja..

  15. samitha

    Cara bercerita bagus. Kalau untuk konsumsi ibu2 harus happy end, he3 (disitu kejutannya). Yang berikutnya yang lebih kompleks ya.

  16. anggie

    Om.. kok mengharukan sih ceritana? hiks…




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: