Running Organization

Kalau anda menjalankan suatu organisasi, mengoperasikannya, apa yang perlu anda perhatikan?  Banyak hal, tentu saja.  Tapi saya pikir, kalau anda ingin tidur nyenyak, anda perlu memastikan Return on Asset (RoA) lebih besar dari Cost of Asset (CoA).

Setiap organisasi memiliki aset.  Aset utamanya bahkan bisa merupakan jati dirinya.  Ada tiga hal yang harus dilakukan pada aset: memelihara, mendayagunakan, dan mengembangkan aset.

Angka pertama yang harus anda cermati adalah CoA.  Berapa biaya yang diperlukan untuk memelihara aset ini?  Misalnya anda memiliki mobil Kijang.  Untuk memeliharanya, anda perlu bayar oli, cuci, services, dan STNK.  Ini lah biaya anda memiliki Kijang.

Nah dapat uang dari mana untuk menalangi CoA ini?  Kita perlu mengkaryakan aset kita.  Misalnya me-rental kan Kijang kita itu.  Karena aset ini dioperasikan, maka timbul biaya operasi.  Jadi pastikan pemasukan hasil operasi itu lebih besar dari biaya operasi + CoA. RoA bisa dihitung proporsional dari margin (pemasukan minus biaya operasi).

Kalau RoA ini bisa lebih besar CoA, maka organisasi anda akan jalan baik.  Kita tidur nyenyak.

Tapi dalam kasus tertentu masih ada yang gelisah: investor.  Biaya operasi sudah ok, tapi penggantian biaya membeli Kijang itu bagaimana ?

Nah, di sini kita perlu memastikan Return on Investment (RoI) lebih besar dari sebuah angka target yang memadai.  Angka target ini biasanya lebih tinggi dari bunga deposito atau kertas berharga (securities) lainnya.  (Otherwise, investor memilih untuk menanamkan dananya ke surat berharga ini).

Jadi margin kita harus lebih besar lagi, supaya kita sebagai manager maupun kita sebagai investor bisa tidur nyenyak.

Rekan saya, seorang dosen di STEI, menjelaskan penerapan konsep ini sebagai berikut.  Ia membeli sebuah mobil Kijang dengan cara membayar uang muka kemudian mencicil.  Uang muka ini adalah investment. Tiap bulan dia harus membayar angsuran + biaya pemeliharaan.  Ini adalah CoA nya.  Kemudian ia menyewakannya.  Dia perlu mencari uang sebanyak CoA ini.  Dan tidak sukar, karena kalau cicilannya Rp 4 juta sebulan, dan biaya sewa 400.000 perhari, ia cukup mencari sepuluh pelanggan perbulan.  Setelah tiga tahun, cicilan mobil ini lunas, dan ia langsung menjualnya ke pasar mobil bekas dengan harga jauh lebih tinggi dari uang muka.  RoI bisa tiga-empat kali lebih besar, (uang muka Rp 25 juta, dan harga jual Rp 100 juta).

Terakhir saya tahu beliau sudah punya delapan Kijang dengan cara seperti itu.  He just have to watch those numbers.


  1. briliant ya.. untungnya gede 😀




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: