Kekalahan Trendi

Berbagai analisa dan pendapat diungkapkan atas kekalahan telak pasangan Trendi pada pilwakot Bandung kemarin itu.  Dan betul, ini pembelajaran yang baik tentang demokrasi dan pemilihan langsung.

Saya senang membaca analisa dari antara lain Pak Rinaldi, yang memperkirakan bahwa ketokohan Trendi masih di bawah Dada-Ayi.  Istilah beliau, pak Taufik kalah populer dan belum membangun confidence pemilih.

Di koran PR hari ini, tim sukses Trendi pun mengakuinya, dan membayangkan perlunya untuk memperkenalkan calon minimal dua tahun sebelum pilkada.  Saya pikir itu perlu, tapi tidak cukup.

Ini mirip mencari jodoh. Kenal saja tidak cukup.  Kita harus senang orangnya.  Kita harus percaya padanya.  Dan kita melihat kualitas dalam dirinya.  Jadi kenal saja tidak cukup.  Setelah kenal, kita harus tahu orangnya istimewa.

Nah bagaimana rakyat bisa tahu orang ini istimewa?  Di Amerika, Obama menggunakan media untuk memperkenalkan dirinya.  Dan, buset, istimewa sekali.  Seluruh dunia kena hipnotis, termasuk saya.

Tapi itu cara yang berbahaya.  Orang belum pernah melihat Obama memimpin.  Apakah dia terasah?  Kalau terjadi krisis, apa tindakannya?  Tidak ada yang tahu.

Yang lebih baik adalah detik ini juga sang calon terjun ke masyarakat.  Melakukan tindakan nyata.  Turun ke jalan, ke pelosok-pelosok.  Temui rakyat.  Bantu mereka.  Sapa mereka.  Semangati mereka. Beri mereka jalan keluar.

Kalau itu yang dilakukan, lima tahun lagi Pilwalkot diulang, calon kita ini akan jadi front runner.  Artis akan dilibasnya.

Tapi kalau baru muncul di masa pemilu, kurang meyakinkanlah.  Orang mending memilih artis.  Minimal baca koran politik serasa baca tabloid.

Saya sendiri berpikir dosen itu sebenarnya tidak punya banyak peluang menghadapi politikus kawakan.  Karena dosen itu keahliannya banyak di asah di kampus.  Ibaratnya kalau warga kampus memilih Rektor ITB, mereka akan pilih Trendi atau Dada-Ayi?  Menurut saya, Dada-Ayi has no chance.  Nah sebaliknya di Pilwalkot, peluang dosen memang berat.

Jadi, saya pikir yang terbaik adalah soal politik kita serahkan pada mereka yang profesional.  Yang memilih karir di situ.  Yang menekuni how to serve the public.


  1. Tetapi kalau memang punya niat baik untuk membuat perubahan lewat jalan politik, harus terus berbuat dan nggak menyerah seperti Obama kan Pak?

  2. DHeriS

    menurut saya sih, masih lebih baik menjadi akademisi yang baik dan bersedia dicalonkan menjadi walikota, daripada hanya menjadi akademisi yang baik…
    masalahnya, mesin politiknya belum cukup pengalaman dibanding mesin politik-nya Dada-Ayi….
    ditambah lagi, mesin politik Dada-Ayi memiliki batasan moral/norma yang jaaaauuuuhhh lebih longgar dibanding batasan moral/norma/etika/agama yang dimiliki mesin politik TRENDI….

    (salam dari salah seorang alumni itb yang senang memiliki kesempatan ikut memperkenalkan P Taufik ke warga, berharap Bandung lebih baik..)

  3. tul tuh pak…sebaiknya pak Taufikurrahman jadi pakar aja di bidangnya……

    salam kenal pak 🙂

  4. Kalau menurut saya, pak Taufik itu punya mesin politik yang sudah berpengalaman memenangkan pilkada di mana2 : PKS. Sayang, untuk pilkada Bandung ini, PKS terlalu SOMBONG… sekali lagi : SOMBONG. Terlalu yakin akan menang, karena melihat kemenangannya di pilkada Jawa Barat. Sementara dia lupa, lawan2nya bisa dengan cepat mereformasi diri. Apalagi Golkar. Golkar itu jagonya kalau dalam hal memperbaiki diri….

  5. Kalau pakar bahkan sampai artis dan pelawak sampai harus “turun” ke gelanggang politik berarti ada masalah di dunia perpolitikan yg sudah kebangetan …

  6. Saya sedih…tapi apa boleh buat, rupanya masyarakat Bandung masih menyenangi kang Dada.

  7. aWi

    tim sukses nya dada-ayi hebat. Sampai bergerilya ke seluruh aparatur di bawahnya. Masa saya dititipin pak RW, supaya milih no.1. Kok pak RW begitu. Begitu juga di tempat lainnya. Issunya sih, kalo kelurahan itu No.1 teratas, si No.1 akan memberikan Rp.500 juta !!! Makanya pas di daerah saya No.2 yang menang, pak RW-nya kesel banget. terlihat dari wajahnya yang suntuk, kesel sama hasil pemilu.

  8. kalo saya jadi GR, dimana mana terpampang dan tertulis Ayi ayi ayi..

    -ayi- bukan vivanda
    http://pbasari.wordpress.com/2008/08/11/mendukung-pimpinan-bandung-yang-setia-dengan-satu-istri/

  9. saya lupa, itu dada-ayi ya. yang dikampanyeukan hanya dada nya saja lho 😉

    ayi memang kurang populer (saya juga, tidak populer, sepopuler azrl). tapi trendi memang tidak dikenali oleh banyak kaum.

    ya sudah lah
    -ayi- bukan vivananda

    http://pbasari.wordpress.com/2008/08/11/mendukung-pimpinan-bandung-yang-setia-dengan-satu-istri/




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: