Energi Biru

Salah satu kehebohan di Indonesia tahun ini adalah teknologi Energi Biru, penemuan Djoko Suprapto dari Nganjuk. Ia mengklaim bisa mengubah air menjadi solar. Dan tidak tanggung-tanggung, Presiden pun percaya. Tapi semua detail teknologi ini dirahasiakan, dengan berbagai alasan. Dan sampai hari ini, ya itu, rahasia. Seperti beli kucing dalam karung.

Saat masyarakat mengalami kesulitan, biasanya muncul berbagai ide. Atau orang sakti yang mengklaim bisa membereskan masalah. Tidak terkecuali, ide Energi Biru Djoko Suprapto. Dia sangat yakin, bahkan memberikan tumpukan rumus-rumus sebagai buktinya. Tapi ini tidak boleh dibuka, dan tidak boleh dimengerti publik. Pertama, takut dicuri. Kedua, berbahaya.

Padahal penemuan ilmiah itu perlu dikaji oleh komunitas ilmu. Itu prinsip dasar. Dan ilmu itu harus dikembangkan oleh ahli yang menjadi anggota komunitas ilmuwan. Di luar itu, hal ini adalah penipuan atau pelanggaran asas profesional.

Maksudnya, kalau penemuan itu akal-akalan, jelas ini ngawur. Kalau penemuan ini betulan, ada resiko berbahaya. Meledakkan seluruh Nganjuk, misalnya. Either way, you lose.

Kepada empat orang yang dia perlihatkan tumpukan itu, ia wanti-wanti soal ini.

"Jangan bertanya apapun karena itu sama halnya dengan menggali informasi dan
itu sangat berbahaya bagi saya. Anda berempat juga ilmuwan kan. Pasti
tahu etika itu," kata Djoko (lihat Tempo).

Luar biasa! Setelah melanggar prinsip, azas, dan nilai dunia ilmiah, Djoko Suprapto masih punya nyali untuk mengkotbahi empat orang itu tentang etika.

OK, bukan berarti air tidak bisa menjadi solar atau sumber energi listrik lainnya. Tetapi pengetahuan kita saat ini mengatakan proses nya membutuhkan energi yang lebih besar ketimbang energi yang bakal dihasilkan. Hukum Termodinamika pertama bilang no free lunch. Energi hanya bisa dikonversikan, bukan dibuat.

Segala sesuatu yang dirahasiakan itu cenderung menipu. Dalam hal peristiwa energi biru ini, saya menganggap ini penipuan. Keberanian untuk mendemokan mobil yang digerakkan dengan Energi Biru tipuan ini di depan Presiden sungguh mengerikan.

Sebelum kita ramain-ramai mencaci Djoko Suprapto, lebih baik kita introspeksi. Djoko-Djoko lain ada banyak di sekitar kita. Saat kita menipu di kuliah, memasukkan tugas bukan bikinan kita, kita sudah menjadi Djoko. Saat kita menipu dengan bon-bon palsu di tempat kerja, kita sama saja. Saat kita menulis makalah yang isinya tidak dipertanggungjawabkan, kita sama saja. Saat kita memasukkan laporan penelitian atau studi yang dibuat asal-asalan, sama saja.

Dalam masyarakat terbuka, open society, kita perlu saling mencek dan memverifikasi. Kalau anda kebetulan ikutan organisasi, kelompok, perusahaan, atau komunitas yang penuh rahasia, yang sering menipu, yang tidak menjelaskan keputusan, yang tertutup,… segera lah keluar. Run for your life.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

    Google photo

    You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: