Vonis

Di bulan-bulan ini sekitar lima tahun lalu dunia saya gelap. Saya merasa ada di dasar laut. Gelap dan berat. Di tangan saya ada vonis dari dokter bahwa usia saya mungkin tidak lama lagi.

Saat itu memang banyak hal membebani pikiran saya. Akhirnya saya berbicara pada Ina untuk mengambil asuransi jiwa. Anak kami sudah empat. Saya ingin ketenangan pikiran. Anything can happened to me, kan ya.

Untuk jenis tanggungan yang saya pilih, Bumiputera mengharuskan saya melakukan test kesehatan, general checkup. Dipilih laboratorium Pramita di Jalan Martadinata. Prosedur sederhana ini ternyata mengejutkan saya.

Dari segala macam test, ada test treadmill jantung. Dada kita dipasang elektroda, dan kita harus jalan/lari di atas alat teradmill ini. Pulsa listrik jantung kemudian direkam dalam bentuk gelombang-gelombang. Saya tidak tahu apa yang terjadi, mungkin ada glitz atau apa, kurva yang dihasilkan tidak baik. Ditambah dengan tingginya kolesterol dan trigliserida, serta bobot badan mencapai 80 kg, dokter menjatuhkan vonis buruk: usia tidak akan panjang karena penyakit jantung. They talked about 4 or 5 years. Jadi either saya harus bayar premi lebih atau tanggungan diturunkan.

Saya keluar dari lapangan parkir Pramita dengan keringat dingin dan mata merah. Tiba-tiba semua yang saya lakukan selama ini tidak ada artinya lagi. Yang ada di pikiran hanya Ina dan anak-anak yang masih kecil. Saya melihat pepohonan sepanjang jalan Riau, dan menyesal mengapa selama ini saya tidak menikmatinya. Dunia saya berhenti berputar. Saya tidak bisa cerita apa yang saya rasakan berhari-hari. Pertama, sukar untuk digambarkan. Kedua, sudah lewat.

Kemudian saya memutuskan untuk fight back. Saya teringat beberapa tahun lalu Prof Sugijardjo pernah memberikan saya buku tentang heart disease, karangan Dr Ornish. Buku ini percaya penyakit jantung itu reversible. Bisa dipulihkan. Ina membelikan saya alat olahraga, dan mengatur diet saya. Kemudian saya mulai mengubah pola hidup dan pola kerja.

Orang mulai bilang saya kurusan, bobot mulai dekat ke 70 – 71 kg. Kemudian saya ke berbagai RS untku check up jantung. Hasilnya sehat, dan tidak ada tanda-tanda sakit jantung. Saya curiga dulu itu akal-akalan asuransi saja. Tapi kan dokter-dokter itu disumpah. Saya ambil hikmah nya saja, I have to change the way I live my life.

Saya mulai stop bekerja seperti workaholic. Semua yang saya sukai, hobby, mulai saya lakukan. Saya jarang pulang malam lagi, kecuali benar-benar perlu. Saya mau menghabiskan waktu saya lebih banyak dengan keluarga. Saya suka diam-diam bolos kerja untuk mengantar Marco belajar berenang. Saya mulai tidak merengut kalau Ina terlalu lama milih barang di toko. Kalau ada tubrukan jadwal rapat atau antar anak, saya cenderung pilih antar anak. Saat pak Budi Rahardjo dan pak Ofyar ajak saya main band, hayu lah. Di kantor saya ada gitar dan amplifier. Kalau sudah Jumat sore, saya bisa mainkan sepuasnya.

Tidak berarti saya menjadi tidak produktif. Saya menjadi lebih tekun sebenarnya. Lima tahun terakhir saya memilih tugas yang berat: Kepala PAU Mikroelektronika, Kepala Pusat Sumber Daya Informasi, dan kemudian Kepala PPTIK. Saya mengurus DSP Research Groups, dan ikut mendirikan PT Clarisense. Belum urusan panitia ini itu, dan urusan kegiatan mahasiswa. Rekan saya pada berkelana ke mana-mana, saya memilih duduk di kantor saya di ITB menyelesaikan tugas saya satu demi satu. Saya belajar bagaimana melayani warga kampus, mengurusi mereka yang menjadi amanat saya. Time could be running out, kan ya.

Saya sudah tidak percaya lagi vonis sialan itu. Tapi dalam hati kecil saya punya was-was juga, sedikit. Karena saya ngotot, akhirnya asuransi menawarkan jalan keluar. Premi tetap sama. Kalau saya meninggal di tahun pertama, kami cuma dapat 25% benefit. Di tahun ke dua, dapat 50%. Di tahun ketiga, 75%. Kalau saya selamat lewat tahun ke empat, maka besar tanggungan 100%. Saya terima.

Hari ini genap lima tahun, dan saya masih hidup. Pagi-pagi saya masih bangun. Tiap tahun general checkup. Dan tidak ada gejala apapun yang mengkuatirkan. Jantung normal.

Jadi, vonis itu sebenarnya mentrigger saya untuk menekuni apa yang penting. Setiap hari saya syukuri. Kita diingatkan bahwa umur di tangan Tuhan. Kita akan dipanggil pada waktu yang tepat. Selama belum dipanggil, kita semua punya tugas. Punya amanat. Itu yang harus kita lakukan tiap hari.

Dan hari-hari saya sekarang sangat cerah. Surrounded by people I love so much, and love me back even more..


  1. Jadi, kita harus divonis dulu ya, Pak, biar kita “sadar”? Hehehe…

  2. eindgun

    sETUJU PAK,
    Saya juga jadi lebih berpikir lebih tentang kesehatan gara-gara akhir ini jantung gw selalu berdebar-debar. Hikmahnya malah skrng saya rajin olahraga dan hidup lebih santai

  3. Terima kasih pak sudah share.
    Saya jadi semangat mau jogging lagi.
    Doakan saya pak! (kayak benteng takeshi)

  4. H.M

    HAHAHA.. Ayah saya juga pernah d vonis dokter seperti itu, malah lebih parah.. D vonis umurny tinggal 1bulan lg.. Ayah saya panik seperti bapak, besokny dy langsung berangkat k Jakarta, menemui dokter keluarga.. Ternyata, tidak ada penyakit apa2.. Ayah saya tentu lega, pulang dengan kabar baik.. Sejak itu, pola hidupny juga berubah seperti bapak.. Dari 2 kisah trsbt, saya menarik kesimpulan, kadang qta perlu dtakuti lbh dahulu agar dapat merubah sesuatu.. Semua indah pada waktuny.. 🙂

  5. Memang kadang perlu ada shock therapy dalam hidup kita. Tergantung bagaimana kita menanggapinya. Ada yang bermuram durja dan menyerah, tapi ada juga yg fight back.

  6. bapa..
    memang divonis apa? duh saya koq serem ya?

  7. serem pak, tapi ok juga tuh vonisnya, bikin hidup bapak dan keluarga lebih senang kan? =P

  8. eindgun

    Pak armien,
    Saya link yang artikelnya, cukup inspiring neh

    http://indranesta13.wordpress.com/

  9. dhikaprast

    Kesehatan sering bukan menjadi prioritas dan sering dikalahkan oleh kesibukan dan keasyikan kita. Vonis dan segalam macam penyakit yang (akan) datang beruntun merupakan alarm yang mengingatkan kita, bahwa kemampuan kita ada batasnya. Kita hanya lah manusia biasa dengan berbagai keterbatasan.

  1. 1 Work Smart Not Work Hard « Indra Gunawan’s Weblog

    […] Kemaren gw baca-baca blog pak armin tentang kesehatan dan bekerja, ternyata bener tuh klo work hard terkadang suka bisa berpengaruh buruk dengan kesehatan kita, klo mau baca detail baca deh artikel ini Vonis […]




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: