Kacamata

Jumat kemarin saat saya bersiap presentasi di Artepolis, saya tersadar saya tidak membawa kacamata.  Tanpa kacamata jarak pandang saya paling satu-dua meter.  Saya tidak bisa melihat layar presentasi, bahkan audiens nya. Tapi the show must go on.  Ini menyadarkan saya pentingnya memiliki kacamata yang tepat.

Kacamata saya itu kacamata korektif.  Artinya lensa mata saya tidak lagi bisa mencapai fokus tertentu sehingga perlu dikoreksi dengan lensa kacamata.  Mata saya minus tiga.  Kiri dan kanan.  Saya tetap bisa melihat jauh, tapi tidak tajam.  Saya bisa melihat gambaran global, tapi tidak detail.

Tanpa kacamata, saya tidak bisa membaca petunjuk jalan, atau pengumuman.  Saya tidak bisa mengenali orang.  Sering orang rupanya sudah tersenyum menyapa, saya cuek saja.  Atau ada kenalan lewat, saya tidak tegur sapa.  Bahkan Jumat kemarin saat makan siang, saya menyapa rekan saya yang sedang antri, ternyata itu orang lain, tidak saya kenal.  Sosoknya mirip.

Kacamata bisa ketinggalan, karena saya sebenarnya tidak begitu cocok dengan kacamata ini.  Kelihatannya mata saya agak silindris.  Jadi kalau sering menggunakan kacamata ini, kepala saya kemudian pusing.  Tanpa kacamata jarang pusing.  Jadi pada umumnya saya bisa beraktivitas tanpa kacamata.

Keuntungan lain tanpa kacamata, saya bisa mudah melihat stereogram (gambar tiga dimensi yang di embbed dalam gambar dua dimensi).  Saya juga terlatih memiliki soft-eye, yakni mata panoramik.  Mata yang memandang luas tanpa fokus ke satu titik.  Ini berguna saat nyetir di perempatan yang ramai.  Saya bisa menyesuaikan diri dengan berbagai pergerakan mobil dari segala arah.

Saya pikir, kalau kacamata bisa membantu mata fisik, bagaimana dengan mata pikiran dan mata hati?

Kacamata untuk pikiran itu, saya kira, adalah bahasa ilmu pengetahuan.  Bahasa ilmu pengetahuan itu membuat kita lebih jelas memahami pikiran dan realitas alam.  Bahasa ilmu pengetahuan itu membuat pikiran kita menjadi tajam, untuk hal-hal yang jauh (makrokosmos) maupun dekat (mikrokosmos).

Kacamata untuk hati itu, saya usul, adalah bahasa perasaan dan keindahan.  Bahasa ini berempati dengan hati orang.  Ia membuat kita mengerti perasaan orang dan juga keindahan alam.

Kita perlu menolong kelemahan mata kita dengan kacamata.  Bukan hanya mata fisik, tapi juga mata pikiran dan mata hati.


  1. jadi teringat teman-teman tunanetra, mereka melihat dengan hati ya




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: