Pakar

Di Indonesia, cepat sekali seseorang disebut pakar, terutama pakar bidang IT.  Ibaratnya, orang yang sudah bisa menggunakan Spreadsheet pun merasa layak disebut pakar.  Sebenarnya siapakah pakar itu?

Pakar-pakar yang muncul di media massa itu sebenarnya menggunakan konsep pundits. Pundits itu adalah orang yang dianggap ahli dan netral oleh wartawan untuk mengomentari suatu peristiwa.  Pundits tidak memiliki otoritas apa-apa.  Cuma tentu mereka dihargai karena kenetralan dan penguasaan akan isu yang sedang dibahas.

Kata pundit itu sendiri datang dari kata India/sanskirt: Pandita.  Pendeta.  Jadi wartawan memperlakukan pundit seperti kita memperlakukan alim ulama. Mereka tidak punya otoritas dalam pengertian legal atau formal. Bahkan tidak harus didengar mengingat banyaknya aliran yang dianut pendeta/ulama. Tetapi paling tidak mereka diasumsikan jujur dan tidak memihak.  Ia kan, ulama tidak diasosiasikan dengan yang paling cerdas tapi dengan yang paling jujur?

Nah, sayangnya di media Indonesia, pundits ini diterjemahkan menjadi pakar, atau expert.  Ini lain lagi.

Pakar itu membutuhkan komunitas, society kepakaran.  Ia harus menjadi anggota society itu.  Dan kepakarannya diakui oleh society itu.  Jadi bila seseorang dinyatakan sebagai pakar Fisika, maka pengakuan itu datang bukan dari wartawan tapi mesti dari masyarakat Fisika.  Pakar IT mesti datang dari komunitas IT.

Nah, di Indonesia hal ini sangat problematik.  Pakar kita tidak mau mempertanggunjawabkan pekerjaannya dalam society bidangnya.  Dia tidak aktif dalam societynya.  Tidak berkontribusi karya ilmiah di sana. Dia bahkan cenderung menghindari society nya.

Atau kalaupun dia membentuk society, society ini tidak dikenal luas.  Tidak mendunia.  Dan tidak ada yang tahu bagaimana society itu menegakkan sistem jenjang kepakaran.

Jadi sebaiknya bagaimana?  Saya kira, kalau kita tidak aktif di society ilmu tertentu, kita jangan mau disebut pakar bidang itu.  Istilah pengamat jauh lebih pas, jujur, dan adil.


  1. Nah, sayangnya di media Indonesia, pundits ini diterjemahkan menjadi pakar, atau expert. Ini lain lagi.

    hati-hati salah tulis Pak.. hehehe..

    Jadi bila seseorang dinyatakan sebagai pakar Fisika, maka pengakuan itu datang bukan dari wartawan tapi mesti dari masyarakat Fisika.

    berarti kalau gelar pakarnya didapat dari wartawan, lebih cocoknya pakar ke-wartawan-an dong Pak? (retoris :D)

    Atau kalaupun dia membentuk society, society ini tidak dikenal luas. Tidak mendunia. Dan tidak ada yang tahu bagaimana society itu menegakkan sistem jenjang kepakaran.

    Kalau menurut saya yang penting informasi tentang komunitas tersebut diketahui publik Pak supaya publik pun bisa menilai sendiri apakah komunitas ini bisa dipercaya atau tidak, tetapi cakupannya (publik) sepertinya tidak harus sampai mendunia.

    Apakah harus ada sistem jenjang-nya Pak? saya merasa aneh kalau ada sistem jenjangnya. bedanya dengan sistem special mention/award bagaimana Pak?

  2. davsam

    Pak.. ini mereferensi pada si “pakar” yang itu bukan ?
    hehe
    peace…

  3. Saya yakin seratus persen bahwa foto bapak asli.

    Hehehe 😀
    (Pakar dari Hongkong)

  4. azrl

    @davsam: honestly bukan 🙂 Lebih ke kita semua. Kalau “pakar” yang itu, siapa sih yang tidak mengakui ke pakarannya di “urusan” itu?

    @pebbie: ia, minimal jenjang pakar atau bukan. Karena mebership saja tidak cukup. Sebagai contoh di organisasi profesi insinyur elektro IEEE, anggota nya punya jenjang student, member, senior member, dan fellow. Tidak mungkin seseorang bisa fellow kalau anggota IEEE tidak menganggap dia itu pakar.

  5. jokosarwono

    can’t disagree Pak Armein… thanks sudah mengingatkan….

  6. aah.. saya ngerti maksudnya.

    siapapun bisa bergabung dalam komunitas tetapi untuk menjadi fellow bukan berarti yang menentukan statusnya hanya yang berstatus fellow, tapi diakui oleh seluruh anggota. betul tidak Pak?

    kalau cerita tentang Guru Besar di ITB bagaimana Pak? apakah ditentukan oleh yang sudah menjadi Guru besar saja (Majelis Guru Besar)? atau seperti IEEE? jadi penasaran.. Guru Besar ITB dan IEEE fellow yang pertama siapa ya? 😀

    PS:CMIIW

  7. azrl

    @ Jokosarwono: bangga baca kiprah pak Joko di persidangan Urip! Sebagai hadiah, saya quote statement Niels Bohr, pemegang nobel fisika dari Denmark:

    “An expert is a person who has made all the mistakes that can be made in a very narrow field.”

  8. azrl

    @pebbie: untuk IEEE ada prosedurnya, dan diusulkan oleh anggota lain. Anggota IEEE punya kode etik sehingga bisa percaya dengan keputusan anggota IEEE yang ditugasi untuk itu.
    Di ITB juga ada prosedurnya, tapi harus mengusulkan diri sendiri dulu. MGB juga harus setuju. Rasanya belum ada orang di Indonesia yang jadi fellow. Kalau orang Indonesia di luar setahu saya ada, lupa namanya.

  9. Ya ya ya, saya tahu siapa yang dimaksud Pak Armein. Gk perlu disebutkan Pak?




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: