Batu Loncatan

Orang ingin maju.  Ingin ke tempat yang lebih tinggi.  Salah satu caranya adalah dengan menggunakan batu loncatan.  Meskipun pendekatan ini sering membuahkan hasil, saya tidak merekomendasikan cara ini untuk maju.

Batu loncatan itu adalah sebuah metafora.  Bayangkan anda ingin menyeberangi sungai beraliran deras.  Anda tidak ingin basah.  Maka anda mencari batu-batu pijakan. Di atas batu pijakan itu anda meloncat.  Dari satu batu ke batu yang lain.  Sampai tiba di seberang.  Selamatlah anda tiba di sana.

Memang kita membutuhkan batu sebagai landasan, bukan tanah lembek.  Sebab loncatan kita itu akan menekan pijakan kita. Kalau landasan kurang kuat, maka tekanan itu akan menyebabkan landasan itu turun melesak ke dalam.  Akibatnya loncatan tidak bisa terjadi.

Pendekatan batu loncatan ini baik digunakan saat kita menyeberang.  Tapi saat kita menggunakannya untuk menata karir, timbul banyak masalah.

Kita masuk ke dalam sebuah organisasi hanya untuk sementara.  Kita membuat program dan kegiatan hanya untuk sementara.  Sebagai tumpuan untuk mencapai tujuan yang tebih tinggi.  Kita mengambil ancang-ancang kemudian pindah ke organisasi dengan jabatan yang lebih tinggi.  Kita kemudian meninggalkan organisasi asal kita begitu saja.

Sekilas, nothing wrong with it, bukan?  Orang perlu berkembang dong.

Masalah pertama, kalaupun kita kemudian berkembang, kita itu berkembang sendiri, sedang organisasi kita tidak.  Organisasi yang kita lewati itu tidak menjadi lebih baik.  Tidak jarang, organisasi yang ditinggalkan itu menjadi rusak, melesak akibat loncatan kita.

Masalah kedua, perkembangan kita bisa tidak kokoh.  Tumpuan yang sudah kita bangun itu kita tinggalkan begitu saja.  Kita itu bukan seperti pohon jati, tetapi seperti pohon merayap. Sama-sama bisa mencapai tempat tinggi.  Tapi pohon jati tinggi dengan bertumpu pada akar, sedangkan pohon merayap menumpang tumbuh di tembok. Tidak jarang, pohon merayap ini merusak tembok.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kita tidak boleh pindah kerja bila kondisi organisasi sudah tidak kondusif lagi.  Tentu pindah itu adalah hal yang baik.  Apalagi pindah karena alasan promosi.

Tapi saya membayangkan batu loncatan itu haruslah digunakan sebagai fundasi.  Seperti fundasi rumah.  Di atasnya kita bertumpu.  Tapi tidak kita tinggalkan.  Kita bahkan membangun dinding dan atap di atasnya.  Sehingga batu itupun terlindung dari hujan dan menjadi bagian dari suatu bangunan yang megah dan indah.


  1. Wah…inspiring banget, Pak. Manusia memang cenderung untuk egois, memikirkan kepentingan sendiri di atas kepentingan orang lain/organisasi.
    Thanks for sharing this, Pak. Cukup membuat saya berkontemplasi lagi soal konsep batu loncatan, apalagi dalam dunia kerja

  2. Pernah ada seseorang terpromosikan ke jabatan yg lebih tinggi, “good for him”. Hanya saja bagi komunitasnya “good for us too” dalam arti sudah nggak ngerecokin kita2 disini … hehehe …

    Kalau “kendaraan politik” bagaimana Pak ?




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: