Percaya Diri

Bagaimana cara membangun rasa percaya diri (PD)? Ini hal yang penting dalam hidup. Cuma sayangnya tidak banyak orang yang membicarakannya. Kita kurang PD untuk membicarakannya 🙂 Saya pikir membangkitkan PD itu sama dengan belajar berenang. Harus banyak latihan.

Saat saya tingkat satu, kami punya matakuliah Sosiologi. Kami harus membuat karya tulis untuk dipresentasikan di kelas. Sebagai anak TPB, dari latar belakang IPA, kami cukup arogan dan… bodoh. Memandang enteng ilmu sosial. Tidak heran dosen Sosiologi kami jadi sasaran kritik bahkan cemoohan terselubung.

Tapi kami lupa, atau mungkin lebih tepat, buta. Saat saya presentasi, saya gagap. Bibir gemetar, pikiran blank, telapak keringatan. Padahal kami masih bicara di depan teman sekelas. Beda dengan dosen kami yang dengan tenang dan santai berani menghadapi hostile audience.

Atau hal yang sepele. Anak saya memilih jalan kaki dibanding harus bicara ke supir angkot. Ceritanya, angkot Gunung Batu suka nakal. Seharusnya di depan RS Hassan Sadikin, angkot harus lurus mengikuti bawah jalan layang. Tapi kalau tidak ada yang turun di sepanjang Jalan Pasteur, dia belok kanan lewat Jl Dr Otten. Nah kita harus teriak, “Mang, saya lurus…”. Anak saya lebih baik jalan kaki ketimbang minta supir ikut jalur yang benar.

Gara-gara tidak PD, kita tidak bisa mengeluarkan semua kemampuan kita. Di rem rasa malu.

Saya banyak belajar dari teman-teman saya untuk urusan PD-PDan ini. Saya beruntung kenal Batara Simanjuntak seorang teman sekelas TPB T-07 yang pintar berbicara di kelas. Batara berhasil membuat kami memakai seragam kemeja putih dan jeans biru setiap Selasa. Ia berhasil membuat kami berontak dari upacara mahasiswa KM, dan keluar lapangan basket secara demonstratif. Sebenarnya saya terkadang mengajari Batara Kimia dan Fisika di aula Barat. Tapi saya sangat terkesan dengan kemampuannya yang satu ini. Dan diam-diam saya serap ilmu PD Batara.

Saat saya tingkat tiga, saya memutuskan masuk GMKI, sebuah organisasi mahasiswa Kristen, terasosiasi dengan kelompok Cipayung yang sering kritis terhadap pemerintah. Di situ saya menyaksikan Philip Tarigan, Ketua Cabang GMKI Bogor, memimpin Konperensi Cabang GMKI Bogor yang selalu panas. Meskipun Philip tergolong adik saya, dia mendemonstrasikan skill luar biasa menghadapi gempuran mahasiswa-mahasiswa yang pintar besilat lidah dan garang-garang. Terpesona, saya serap ilmu PD Philip.

Pengalaman menarik lain saya dapat dari yunior saya Hotasi Nababan, Sipil 83. Saat kami mahasiswa, kami harus mengikuti acara di Cipayung Bogor. Karena tidak punya uang banyak, jadi kami naik bus umum, Bandung-Jakarta. Tapi bus jalan tidak cukup cepat, sedikit-sedikit ngetem, sehingga saya bilang ke Hotasi kita bakal telat nih. Tiba-tiba dia berdiri, jalan menuju sopir bus, dan menjelaskan di depan seluruh penumpang bahwa kita ada acara dan tidak bisa terlambat. Eh, supir bus mengangguk, dan tancap gas.

Harus saya akui, ke-PD-an Batak-Batak ini secara tidak langsung menjadi teladan saya, minimal inspirasi saya. Dan banyak lagi orang lain, teladan lain, yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Kita lihat bagaimana mereka yang PD-PD itu in-action, dan kita pelajari, lalu kita serap.

What next? Latihan, pengulangan. Berkali-kali. Kegiatan GMKI, yang harus selalu bicara itu, sangat menolong. Setelah gagap di 1981 itu, saya bisa bicara santai dan tenang di depan large audience baru tahun 1986. Takes 5 years. Hari ini saya bisa berjalan ke depan audience tanpa persiapan dan pikiran kosong, dan simultan memikirkan apa yang hendak disampaikan sambil mulut bicara.

Inspirasi terbesar saya sebenarnya datang dari ibu-ibu. Ibu-ibu, saat memperjuangkan anaknya misalnya, tidak peduli apapun. Dia akan mengeluarkan semua kemampuannya tanpa bisa dicegah atau malu. Dia akan cerewet, berteriak, bahkan menangis meraung untuk itu. Saya dengar inang-inang di pelabuhan Belawan sampai nekad telanjang untuk menghadang pembersihan satpol terhadap mereka.

Saya pikir itulah sebenarnya teladan utama. Saat kita memperjuangkan kepentingan orang yang kita cintai. Saat kita berusaha mencapai tujuan mulia. Kita tidak lagi mengizinkan apapun menghalangi kita, termasuk rasa risih, segan, atau malu.

Jadi kunci utama untuk bisa PD adalah berkonsentrasi pada tujuan mulia, dan memperjuangkannya.


  1. yaniwid

    Akhirnya tulisan tentang PD muncul juga. Trims ya Pak… 😉

  2. romy

    nah lho..
    Kalo seperti saya yang ke-PD-an gimana pak??
    Gimana caranya mengurangi ke-PD-an, maklum “terkontaminasi” oleh batak-batak juga hehehe..
    Secara asalnya saya dari Medan, jadi dulu pas SMU bergaul dengan teman-teman yang notabene batak semua, jadi dah ketularan PD..
    Horas bah…

  3. Tetep aja saya orangnya gak PD-an… Hehehe…

  4. Pak Armein ternyata sudah sempat “diracuni” Batara Sakti Simanjuntak di TPB ya? Sayangnya saya baru ketemu dia beberapa tahun belakangan dalam beberapa kesempatan di HAGI. Wah … kalau dulu saya ketemu dia mungkin saya bisa lebih PD juga … hehehe.

  5. Sebagai tambahan, Pak:

    “Muka Badak”

    Seringkali PD itu identik dengan “Muka Badak”.

  6. alhamdulillah, blog bapa ini setidaknya sudah membuat saya PD untuk berkomentar (apalagi kalo dibalas)
    latihan PD bisa dalam hal apapun ya..

  7. dah lama ga liat pbsari comment. Mgkn skrg dah PD lagi buat comment ( 🙂 Kaburrrrrrrrrrrr

  8. Sampai seakrang saya punya penyakit itu pak, gk bisa PD, bahkan udah gk normal kayanya. Parah.

  9. DARUS

    klo gw sih PD ga PD sama Adja…..ga ada Perobahan yang penting hidup gw penuh enjoy….hiksss…-)

  10. es. Simanjuntak

    Orang Batak memang PD banget. Horas!

  11. Batara Simanjuntak

    Halo rekan Armein & Oemar, apa kabar ?
    He he he, sehabis keluar barisan upacara KM di lapangan basket dulu itu aku diintrogasi oleh senior-senior KM di kantin dalam. Seru juga ya mengenang masa kuliah.

  12. azrl

    @Batara: Wah senang bisa kontak lagi, boss! Sedang di mana? Kalau sedang ke Bandung jangan lupa ke kampus. Ditunggu




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: