Mekanistik vs Organik

Mari kita membangun mesin kemakmuran di Indonesia, demikian ajakan seorang kolega saya di ITB.  Niat mulia ini patut disambut baik. Cuma saya agak tergelitik.  Kok mesin sih?  Harusnya kan orang dan komunitas.  Harusnya bersifat organik, bukan mekanik.

Di abad ke sembilanbelas dan duapuluh, peradaban di dominasi oleh penemuan mesin-mesin.  Mulai dari mesin uap, mesin berbahan bakar, sampai ke mesin listrik.  Dan mesin-mesin ini merajai pembangunan ekonomi.  Dengan mesin, produktivitas meningkat.  Jumlah produk yang dihasilkan tiap tahun meningkat tajam.  Sehingga mesin identik dengan alat otomatis yang menghasilkan uang.  Jadi kalau kita bisa mendesain mesin pembangun kemakmuran, maka akan ada suatu mekanisme otomatis yang membuat rakyat sejahtera.  Begitu kira-kira idenya.

Tapi di jantung dari konsep mesin adalah mekanisme untuk mentransformasikan energi, sehingga kerja orang jadi lebih mudah.   Tuas atau katrol adalah contoh sebuah mesin sederhana.  Sesuatu yang berat bisa diangkat manusia dengan tuas atau katrol.  Kemudian energi itu bisa diperoleh dari energi pembakaran. Dengan menggabung tuas, katrol, dan energi panas menurut hukum termodinamika, jadilah motor bakar.  Tinggal masukkan bensin, tekan gas, maka sepeda motor atau mobil kita melesat.

Persoalannya, mesin itu pengubah energi.  Dan itu tidak cukup untk membangun kemakmuran.  Kita perlu pengubah informasi.  Dan kemakmuran itu sekarang datang bukan lagi dari pabrik, tapi dari otak manusia.

Jadi yang perlu kita bangun adalah ekosistem yang bersifat organik.  Komunitas ekonomi. Soft factory.  Social entrepreneur.

Kalau mesin itu berisikan benda mati, komponen pengubah energi, maka organ itu berisikan benda hidup.  Dalam bentuk dasar, sel-sel hidup membentuk jaringan, dan jaringan membentuk organ.  Organ membentuk makhluk hidup yang lebih besar, seperti manusia.

Nah, manusiapun bisa membentuk organisasi.  Membentuk komunitas. Dan komunitas inilah yang menjadi produktif, menghasilkan karya bernilai ekonomi.  Jadi kemakmuran kita bangun oleh sebuah ekosistem organik, bukan oleh mekanisme mesin.

Tentu tidak ada yang salah dari keinginan membangun mesin kemakmuran itu.  Apalagi niatnya memang mulia.  Cuma saya pikir istilah yang dipakai itu bisa membawa kita pada paradigma industri abada 19 dan 20.  Untuk abad 21 sekarang ini, lebih baik kita menggunakan paradigma konwoeldeg economu, dan ekonomi berbasis komunitas.  Dan ini bersifat organik, bukan mekanistis.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

    Google photo

    You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: