Gagal ke Dokter Mata

Tadi pagi selepas mendrop anak-anak ke sekolah, saya belok ke RS Mata Cicendo, mau periksa mata, karena mungkin harus ganti kacamata.  Tapi setelah menunggu dan antri lebih dari satu jam, saya memutuskan untuk membatalkannya.  Cari hari lain lagi.

Waktu masih jam 6:15 tapi sudah banyak pasien menunggu.  Rupanya pelayanan kesehatan mata ini sangat dibutuhkan.  Ada beberapa loket.  Dan saya coba antri di loket 1: Askes.  Loket ujung, umum, sudah penuh sekali.  Mungkin sudah lebih dari empat puluh orang.  Sekitar jam 7, semua loket buka, kecuali loket askes.  Lima belas menit kemudian baru loket askes dibuka.

Pas giliran saya, wah tidak bisa, karena untuk Askes, kita harus membawa rujukan dulu dari puskesmas.  Saya diminta pindah loket, ke loket umum.  Wah antrian sudah lumayan berkurang.  Tapi orang sedang berkerumun di loket satu lagi di sebelahnya.  Ternyata loket untuk bayar uang pendaftaran.  Bayar juga antri.

OK, saya tidak kompain, hehehe.  Namanya juga rumah sakit negeri.  Saya sudah bersyukur ada rumah sakit ini, dan petugasnyapun ramah-ramah.  Cuma saya kasihan masyarakat yang sudah sakit, datang dari jauh, masih harus antri berkerumun pula seperti itu.  Sebenarnya bisa menggunakan sistem antrian dengan tiket misalnya, yang pasti lebih cerdas dan manusiawi bagi yang sakit mata.

Perlu teknologi informasi nih.

Jadi alhasil, saya yang sudah datang jam 6:15 harus antri baru, sementara waktu sudah menunjukkan puluk 7:15, dan kemungkinan saya akan mendapatkan nomer antrian di atas limapuluh.  Tunggu dokter sampai jam berapa?

Yah sudahlah, cari waktu lain lagi.  Kerjaan banyak di kantor. Dan ini belum mendesak.  Saya cuma perlu konsultasi, karena kacamata saya kelihatannya kurang pas.  Melihat jauh susah melihat dekat repot. Di kampus, mahasiswa sudah mengangguk memberi salam, saya tidak lihat.  terkadang melihat jauh, muncul double vision. Jadi perlu konsultasi dan pengukuran ulang.  Perlu dicek silindrisnya.  Atau cari RS mata lain, ya, mana tahu ada yang bagus, tidak mahal, tapi tidak harus antri begitu.


  1. jokosarwono

    Kok tidak ke Balai Kesehatan ITB saja Pak?..:)

  2. Jackstar Harry

    Beberapa tahun yang lalu saya pernah ke Balai Kesehatan ITB. Karena waktu itu pemeriksaan dilakukan berbarengan, jadi saya tahu keluhan pasien yang sedang diperiksa:
    Dokter: “Ada keluhan apa?”
    Pasien: “Saya baru pake kacamata, tapi kok pusing rasanya. Katanya saya minus sekian-sekian”
    Dokter: “Periksanya di Cicendo, ya?? Hehehe…. Mungkin salah ukuran minusnya. Mari saya periksa.”

    Belum juga meriksa, pak Dokter udah suudzon ke Cicendo. Hohoho….

  3. ke bandung eye center?
    kaka saya ada yang spesialis mata, berminat pa? 🙂

  4. azrl

    @ayi: thanks ya. Akan kami pertimbangkan. Saya mau coba beberapa ide Ina dulu.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: