Archive for July 30th, 2008

Malcolm X

Kekerasan bertubi-tubi kaum kulit putih Amerika Serikat pada kaum kulit hitam mengeraskan hati Malcolm X. Iapun tumbuh dengan penuh kebencian kepada orang kulit putih. Tetapi di akhir hidupnya, ia berkesempatan keluar Amerika, naik haji ke Mekkah, dan mengunjungi banyak negara Afrika. Di sana ia melihat sendiri perjuangan kaum kulit putih membantu para kulit hitam Afrika. Dan iapun menyesal dan berubah. Ia melawan segala bentuk rasisme, termasuk rasisme terhadap kulit putih.

Continue Reading »

Salah satu ketakutan terbesar yang saya rasakan adalah takut gagal. Kegagalan itu menghantui saya. Dalam skala kecil, ketakutan akan mendapatkan hasil yang tidak sesuai keinginan, misalnya dalam pekerjaan, perlahan menghantui saya. Sampai suatu saat dokter Rizal (alm) bilang, saya kemungkinan stress. Harus diopname segala.

Continue Reading »

Faktor genetika?

Baru-baru ini ada perdebatan lucu di mailing list dosen ITB, yakni mencoba mengerti persoalan perilaku homoseks. Mungkin terpicu pemberitaan pembunuhan berantai yang menghebohkan itu. Perdebatan hangat terjadi karena ada dosen yang percaya bahwa perilaku homoseks tidak terhindari karena ada gen itu dalam tubuh manusia.

Continue Reading »

Di akhir 1950an lahir dua kakak beradik berkulit hitam Michael dan Christopher Darden. Mereka dari keluarga miskin dengan delapan anak, di Richmond dekat San Francisco, California. Karena sering kelaparan, Michael dan Chris sejak kecil belajar mencuri. Mereka berotak sangat encer. Bertahun-tahun, sampai mereka menjadi pencuri yang sangat ahli. Sampai mereka SMA,  Chris terancam drop-out. Setelah lama merenung Chris melakukan titik balik, berhenti jadi penjahat, sedangkan kakaknya Michael terus.

Continue Reading »