Bencana Tidak Memilih Bulu

Saat bencana menerpa, ia tidak pilih-pilih orang. Orang baik atau orang jahat sama-sama terkena. Banjir, gempa bumi, tanah longsor bisa menimpa siapa saja. Sakit penyakit, kegagalan, dan penderitaan bisa datang pada siapapun. Kalau begitu, ngapain kita beribadat, hidup lurus, berbakti kepadaNya kalau ternyata kita juga mengalami bencana dan cobaan begitu berat?

Memang, namanya manusia, mau dia orang baik atau tidak, beragama atau atheis, selama dia masih hidup dan tinggal di dunia ini, dia akan mengalami percobaan yang sama, bencana yang sama, ujian yang sama. Dia akan menghadapi situasi yang sama, pergumulan yang sama. Orang baik yang mengharapkan ia akan mendapatkan better luck, akan kecewa.

Jumat malam minggu lalu saya ketakutan. Saya sedang latihan Bandos ketika saya mendapat SMS dari Gladys. Telah terjadi sebuah kecelakaan. Gladys sedang merayakan kelulusan kelasnya dengan acara api unggun di Villa Istana Bunga. Tiba-tiba api menyembur terkena spiritus, dan beberapa anak terkena api. Termasuk Gladys. Mereka segera dibawa menuju UGD RS Advent. Segera saya tinggalkan tempat latihan, dan lari ke UDG RS Advent. Sambil berdoa, dan heran, mengapa bisa terjadi hal seperti ini? Di UGD sudah banyak orang tua yang lain. Kami semua bersyukur keadaan tidak parah, dan anak-anak segera pulih. Gladys hanya luka ringan, dan rambutnya terbakar.

Jadi kalau begitu apa sebenarnya beda orang baik dengan orang jahat?

Menurut saya bedanya ada pada cara kita bereaksi. Cara kita bersikap. Cara kita berespons.

Orang beriman akan melihat ujian sebagai kesempatannya untuk naik kelas. Orang tidak beriman akan melihat ujian sebagai resiko dia untuk jatuh atau dipermalukan. Orang beriman selalu mampu melihat aspek positif dan peluang dari sebuah disrupsi. Orang tidak beriman selalu melihat aspek negatif dan ancaman dari sebuah disrupsi.

Dan ini sebuah keajaiban: Tuhan selalu menjadikan peristiwa apapun untuk akhirnya membawa kebaikan. Apapun peristiwanya, kita yang berpikiran positif akan selalu mengupayakan kebaikan keluar dari situ.

Jadi, sudah pasti kita semua akan menghadapi berbagai ujian. Tapi justru ujian itu adalah kesempatan untuk naik kelas bukan? Untuk mendapatkan pembuktian dari kualitas kita bukan?

Tidak ada yang menyukai bencana atau cobaan yang berat. Tetapi kita harus bersiap-siap. Jadi saya kira kita harus menguasai sebuah ilmu untuk selalu mengupayakan kebaikan dari apapun yang terjadi.

Saat saya membelai Gladys yang terbaring di UGD, airmatanya mengalir. Dan saya bersyukur Tuhan masih menjaganya dari luka yang membahayakan. Semua korban malam itu juga boleh pulang. Saya bersyukur saya bisa berada di sisinya saat bencana terjadi.

Bencana memang tidak memilih bulu. Tapi cara kita bereaksi dan menyikapinya itu akan memperlihatkan siapa kita itu.  Jadi jelas saat kita hidup bersamaNya, kita bisa mempunyai sikap yang tepat dalam menghadapi bencana.  Kita bahkan bisa yakin bahwa ada sesuatu yang istimewa di balik disrupsi itu.


  1. Kalau ujian membawa kita kepada sesuatu yang lebih baik, kenapa kita tetap memilih tidak mengalami ujian bila kita disuruh memilih ya? (bertanya-tanya dalam hati)

  2. Bencana tak jarang akan membuat para korbannya yang berhasil bertahan akan menjadi lebih kuat. Bencana juga bisa menjadi sebuah pelajaran berharga. Dengan menemui atau bahkan mengalami, kita akan tahu bagaimana bencana itu terjadi. Dengan demikian kita bisa memetik pelajaran, agar di kemudian hari bisa menghindarinya. Semoga Gladys dan teman-teman lainnya juga bisa memetik hikmah dari peristiwa itu.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: