Akhirnya…?

Setelah jalan-jalan jauh, ibu saya pulang dan berkata, “Akhirnya tiba di rumah, senang sekali sudah di rumah lagi…” Lho, kok begitu? Bukannya lebih senang jalan-jalan? Kalau lebih senang di rumah, ngapain kita tadi capek-capek pergi ya? Hehe.

Seperti Marco, misalnya. September 2002, Ina, Marco, dan saya pergi jalan-jalan ke Manado. Marco ketakutan di jalan, karena itu pertamakali dia pergi jauh. Tapi lama-lama dia senang. Bisa naik taksi, kereta api, pesawat terbang, dan berbagai suasana yang baru. Kurang lebih seminggu kami menikmati perjalanan itu.

Sampai waktu pulang. Marco tidak sadar, tahu-tahu kita sudah tiba kembali di Bandung. Saat taksi berhenti di depan rumah, Marco membelalak: “Ha… rumah??”. Tiba-tiba dia menangis meraung. Rupanya ia masih ingin jalan-jalan. Belum pengen udahan. Lucu sekali.

Beda memang ibu saya yang sudah lanjut usia dan Marco yang saat itu baru mau tiga tahun.

Tapi saya melihat kita sering begitu. Kita senang kalau sesuatu pekerjaan atau tugas sudah berakhir. Akhirnya… Seakan-akan tugas itu siksaan. Seakan-akan itu beban. Seharusnya terbalik, kan ya. Pada saat kita selesai, kita bilang, waah kok sudah selesai? Seperti Marco itu.

Perhatikan, saat kita sedang berdua kekasih hati. Waktu kok berjalan cepat sekali? Sebaliknya, di ruang kuliah atau kantor, kita lihat-lihat jam, kapan ini selesai?

Saya percaya orang harus bekerja pada bidang yang dia sangat senangi. Passion nya. Sampai lupa-lupa waktu. Tugas berubah menjadi kesenangan. Kerja menjadi hobby. Bahkan bisa terheran-heran, “lho kok hobi saya ini dibayar segini banyak…?”

Saya pengen mengajak kita melakukan tindakan yang ekstrim. Jangan pernah mau bekerja, mengerjakan suatu tugas, yang kita tidak excited. Yang kita tidak sabar mau menunggu besok hari untuk mengerjakannya.  Seperti Pak Iwan, mantan kepsek SMA nya Gladys, yang pergi ke sekolah pukul 4:30 pagi setiap hari berpuluh tahun.

Anda bisa bilang, yah, habis kerjaan saya emang begini. Saya kan dapat gaji mengerjakan ini? Kalau saya menolak, bos saya bisa marah. Saya bisa di pecat.

Listen, saya kira kalau kita tidak mengerjakan yang kita senang, kita tidak lebih dari budak. Yang mengerjakan sesuatu karena takut.

Saya tidak ingin melihat orang yang sakit karena bertahun-tahun mengerjakan sesuatu yang dia tidak senang. Itu akan mengerogoti kesehatan kita. Stress. Unhappy. Jantung. Stroke. Itu semua satu keluarga, satu paket.

Jadi, mari kita perhatikan hidup kita dengan seksama. Kalau kita merasa lega sesuatu sudah berakhir, dan sesuatu itu adalah pekerjaan kita atau tugas kita, atau worst, jalan-jalan kita, maka ada yang salah dalam sikap kita itu.  Kita perlu perbaiki ini segera.

Saya ingin bisa seperti Marco. Apapun yang saya kerjakan begitu saya senangi, sehingga saat sudah selesai, saya kaget “Wah.. sudah harus berhenti?”.

Bukan “Akhirnya…”


  1. wah sudah 100 rb hits…he-he-he….

  2. Jadi, bagaimana mengatasinya Pak? Berganti pekerjaan atau mencoba menyenangi pekerjaan itu?
    Salam

  3. azrl

    @Rio: saran saya coba ubah pekerjaan itu menjadi pekerjaan yang menyenangkan. Salam saya

  4. yaniwid

    Sedang belajar berkata ‘tidak’ untuk pekerjaan yang saya tidak excited
    Darwin E. Smith itu, meskipun unqualified, tapi tetap excited kali ya ??




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: