Dilema Nilai Ujian Akhir

Cita-cita saya agar semua mahasiswa kuliah saya lulus dengan nilai A tidak kesampaian. Bahkan hasil ujian akhir semester (UAS) tidak memuaskan. Cuma tiga orang mendapatkan nilai A. Nah kalau nilai akhir tidak baik, masalah ada di siapa: dosen atau mahasiswa?

Semua ingin mahasiswa mendapatkan nilai A. Jangankan mahasiswa, dosenpun begitu.

Tapi UTS dan UAS itu memilki unsur legal. Dia diselenggarakan menurut kalender akademis. Melalui UTS dan UAS itu, mahasiswa diuji secara resmi. Nilai yang diperoleh dijadikan dasar garde akhir yang tercantum di transkrip.

Ini mirip dengan ujian TOEFL atau USM. Seseorang bisa mengklaim dirinya bisa. Dan hasil pengukuran bisa mengkonfirmasikan hal ini. Tapi nilai resmi yang dijadikan acuan adalah hasil pengukuran yang diambil pada periode atau tanggal yang ditentukan.

Jadi secara legal, baik dosen maupun mahasiswa sebenarnya tidak berdaya. Kalau skor UTS dan UAS cuma segitu, maka nilai akhir harus kita terima sama-sama. Keluarlah daftar nilai akhir DNA dengan tiga nilai A dan banyak tidak lulus.

Nah kalau nilai akhir tidak baik, masalah ada di siapa: dosen atau mahasiswa?

Meskipun saya sudah berkali-kali berusaha meyakinkan mahasiswa untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar mengerti materi, saya mendapat kesan mahasiswa saya hanya sibuk latihan soal tahun-tahun lalu. Entah pengaruh di SMA dulu atau mungkin autis, mahasiswa tidak peduli. Tidak penting mengerti atau tidak materi kuliah, yang penting latihan soal ujian tahun lalu.

Dan betul, bagian kedua UAS kali ini berisi soal yang baru. Soal yang sederhana. Hanya menanyakan pengertian dan prinsip-prinsip. Tapi sayang, mahasiswa yang pintar menjawab soal tahun lalu tidak bisa menjawab soal yang baru ini.

Saya menghadapi dilema. Si satu pihak, begitulah hasil ujian yang obyektif. Banyak yang tidak lulus. Di pihak lain, saya merasa bertanggungjawab. Gagal meyakinkan mahasiswa untuk belajar. Gagal menjelaskan bahwa esensi dari perkuliahan, bukan pada kemampuan menjawab soal tapi pada penguasaan materi.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengubah standar nilai. Batas skor kelulusan tahun ini saya turunkan. Saya harus mengajukan permohonan perubahan nilai massal kepada pimpinan Prodi. Apa boleh buat. Saya ikut bersalah atas ketidak-berhasilan anak didik di UAS tahun ini.

Tahun depan saya harus melakukan perubahan supaya masalah seperti ini tidak terjadi lagi.


  1. Pak, bukannya nilai itu memang harus mengikuti kaidah distribusi normal? Jadi kalo ngikut prinsip distribusi normal, engga mungkin khan mahasiswa akan dapat A semua.. 🙂

    Saya rasa memang mahasiswa Indonesia banyak terpengaruh ‘cara cepat’ dan ‘review soal’ ala bimbingan belajar.Soalnya tahun2 belakangan ini, mgkn sebagian besar lulus karena ‘dikarbit’ bimbel. Walhasil pas kuliah, ya masih kebawa-bawa mental anak bimbel..hehehe

  2. IG

    Wah, baik sekali Pak Armein ini.. Kalo Pak Herman, mana mau nurunin standar nilai.. Tapi saya bilang itu fair.. Karena ga ngerti, ya pantas untuk tidak lulus.. Saya jadi inget, dimana kuliah Medan 1 dari Pak Herman dulu nyaris 80% ga lulus. Yah saya bilang banyak alasannya sih pak, salah satunya adalah dulu ujian Medan bareng dengan ujian Teori Rangkaian dan satu lagi ujian, saya lupa.. Tp tetep, itu cuman alasan.. Buktinya ada yang bisa dapet A semua kok di 3 mata kuliah itu..

    Tapi dari dulu pun udah gitu kok Pak, mahasiswa kebanyakan belajar soal2 tahun lalu kalo mau ujian, ga mau belajar textbook-nya. Dan karena soal yang keluar persis tahun kemarin, menjadi juara lah mereka..

    Satu lagi yang dulu sempet menjadi perhatian saya.. Perbedaan ‘tool’ dalam mengerjakan soal. Saya juga inget ujian Sistem Kendali Pak Eniman. Ada yang berbekal kalkulator biasa, ada yang berbekal kalkulator algebra 2.0 yang harganya waktu itu mencapai 2 jutaan. Buat siswa2 yang ga mampu, mengerjakan soal Sistem Kendali Pak Eniman itu rasanya susah banget.. Beda dengan yang menggunakan kalkulator algebra itu, sangat cepat untuk menemukan persamaan pangkat 3.

    Sekarang katanya udah mau distandarkan sih.. Dulu sempet jadi diskusi hangat juga di milis mahasiswa, cuman waktu itu saya udah lulus, jadi agak2 cuek dengan perdebatan itu.. hehehehe…. batin saya yaa.. rasain aja.. hahahaha…. Lha wong sekarang ujian bareng 2 mata kuliah aja pada ribut. Dulu mana bisa ujian bareng 3 mata kuliah minta cancel salah satunya.. 😀

  3. Kalo saya bilang, selain harus bisa mengajar, dosen juga harus bisa menempatkan diri sebagai penguji..Kalo tidak, yang menjadi murid pun jadi kesulitan untuk menilai diri mereka sendiri.

    Saya rasa wajar-wajar saja kalo dapat nilai jelek. Malah bisa jadi motivasi untuk belajar lebih sungguh-sungguh di kesempatan kedua.

    Dulu kuliah medan saya juga E (nggak lulus). Di semester selanjutnya, saya mengulang, dan jadi beban pikiran..Jadi, serius pas belajar medan..Ternyata materinya juga nggak rumit-rumit amat (asal hapal Maxwell differensial dan integral, pasti bisa).

    Kl dulu kuliah DSP saya nggak lulus, sekarang saya pasti jadi jago DSP, dan apply job untuk DSP engineer..hehehe =)

  4. gre

    sepanjang dulu saya kuliah di ITB. yg benar2 serius kuliah cuma pada saat TPB. Saya ingat persis mata kuliah Kalkulus TPB hampir setiap sore ada responsi dengan beberapa dosen MA yg jadi tutornya. ini jelas sangat membantu sekali.

    ketika masuk jurusan EL. responsi seperti ini gak ada sama sekali. kelas DSP pak armein, jaman saya dulu ada 1 mahasiswa jadi asisten. tapi itu pun terbatas, hanya pada saat2 menjelang ujian baru diadakan responsi.

    kebetulan saya sedang mengambil graduate study di luar saat ini. perbedaan mencolok di tempat saya ini dengan waktu di ITB dulu. ya itu.. responsi atau kelas problem solving. kuliah2 seperti teori medan, sistem kendali, hampir semua matakuliah punya 2 atau 3 jam per minggu kelas problem solving. Di kelas ini ada beberapa asisten(mahasiswa yg pernah mengambil matakuliah tsb) yg menjadi tutor. Mahasiswa bisa bertanya tentang PR, konsep, atau soal2 dari textbook di kelas problem solving ini. dan ini juga berlaku untuk kuliah2 tingkat atas, tahun ke 4.

    Kalo di ITB mungkin asumsinya begitu lulus TPB mahasiswa2nya dianggap sudah mandiri dan bisa belajar sendiri..
    Seandainya ada kelas responsi/problem solving setiap minggu jelas sangat berguna bagi mahasiswa yg niat dan rajin tentunya. Mahasiswa2 yg malas ya sudah di-ground-kan saja 🙂

  5. pa,
    kalo saya diberitahukan ttg SCL, students center learning. salah satunya dari penilaian terhadap mahasiswa adalah sepanjang perkuliahan. tidak hanya sumatif ato didominasi dari nilai uts uas. tapi dari sepanjang kehadiran perkuliahan.

    soal distribusi normal, tidak harus selalu distribusi normal kan? tapi enak pake distribusi normal teh, saya bilang bilang abis ada yang pinteeeerrr banget; ngebantingin deh

  6. azrl

    ia, betul, ada upaya dan dorongan supaya belajar, ada bantuan untuk memahami materi, dan ada tugas mengevaluasi. @ayi, thanks sudah mengingatkan. Ia nilai kuliah tidak hanya dari hasil ujian tertulis saja. Itu sebabnya saya melakukan perbaikan nilai, meskipun hasil ujian tertulis masih tetap dominan dan paling menentukan.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: