Adam Smith dan Kita

Kalau kita egois, ekonomi akan maju.  Salah satu kesimpulan dari pemikiran Adam Smith adalah adanya invinsible hand yang mengatur orang-orang egois sehingga mereka menghasilkan kebaikan untk semua.

Tidak mudah membaca karya Adam Smith.  Saya belum bisa menyelesaikan bacaan yang beliau tulis, terutama karena bahasa dan kalimat artikel yang khas abad ke 18.  Jadi apa memang kesimpulan beliau itu begitu saya belum bisa memverifikasinya.  Saya terima dulu kesimpulan ini dari berbagai sumber sekunder, termasuk dari guru kita Prof Iskandar Alisyahbana.

Pada prinsipnya, kesimpulan ini mnegatakan orang harus mengejar self-interest. Dan hukum ekonomi akan melakukan balancingnya.

Sebagai contoh, Indofood membuat begitu banyak supermi.  Astra Honda Motor membuat sepeda motor begitu banyak.  Berkat mereka, banyak keluarga di Indonesia bisa makan cukup dan berkendaraan bermotor.  Apakah kebaikan ini dilakukan karena Indofood dan Astra berisi orang baik?  Tidak juga.  Mereka berisi orang yang ingin mendapatkan untung dagang.  Tapi berkat hukum ekonomi, motivasi yang egois ini menghasilkan kebaikan.  Kebaikan yang tidak sanggp diberikan oleh badan sosial atau pemerintah.

Saya sendiri cenderung menafsirkan egoisme dalam kesimpulan tersebut sebagai sebuah ketekunan.  Suatu pengungkapan jati diri.  Egoisme ini lebih merupakan menjadi diri sendiri ketimbang memikirkan diri sendiri.

Akhirnya supermi dan motor bebek adalah masterpieces.  Produk unggul dan istimewa.  Bayangkan mereka bisa menghasilkan jutaan produk seperti ini pertahun dengan kualitas yang diinginkan pembeli. Bahwa Indofod dan Astra menjadi kaya karenanya, sangat wajar dan pantas.  Barangsiapa yang bisa memberikan “kebahagiaan” kepada jutaan orang (melalui pangan dan transportasi) layak untuk kaya bukan?

Jadi saya pikir pikiran Adam Smith masih berlaku sampai hari ini.  Kita perlu secara egois menghasilkan masterpiece, mahakarya, yang berimpak bagi banyak orang.  Jangan tengok kiri tengok kanan.  Melihat rumput tetangga lebih hijau.  Melihat orang lain dan menjadi iri.  Jangan.

Sebaiknya kita secara ‘egois’ mengembangkan jati diri kita dan mengejar impian kita. Oleh invinsible hand, egoisme kita itu akan membawa kebaikan.  Dan kita akan mendapat rewardnya.


  1. Kalo menurut John Nash, matematikawan dari Princeton:

    “Adam Smith’s theory is incomplete. Self-interest alone can lead to disaster for all. Self-interest coupled with concern for the good of the group is most likely to benefit everyone”

    John Forbes Nash earned nobel price in economics in 1994, for proving mathematically that Adam Smith’s theory is incomplete.

  2. George Soros agak mempertanyakan logika Adam Smith. Karena kemampuan setiap orang yang berbeda, maka jika masing-masing mengejar self-interest, dalam kenyataan tidak semua orang akan mendapatkan kebaikan. Bahkan yang kaya menjadi lebih kaya, yang miskin menjadi lebih miskin. Padahal yang miskin juga sudah tekun tuh 😦 Tetapi karena apa yang dikerjakan menghasilkan return yang kalah besar dengan yang dihasilkan si kaya, ya, yang miskin sih gak naik2 derajatnya…, apalagi kalau si kaya sudah menindas hak2 si miskin demi kepentingannya –> mengejar self-interest juga kan ?




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: