Tiga Macam Manusia

Tiga hari lalu saya duduk dengan seorang alumni yang baru lulus, dan tertarik untuk masuk S2. Dari obrolan ini, tersirat pergumulan banyak alumni tentang masa depan nya. Tentang pilihan karir yang harus diambil. Akhirnya saya sampaikan padanya pendapat saya tentang tiga macam manusia. Dia boleh pilih menjadi yang mana.

Kehidupan akhirnya membagi manusia dalam tiga jenis. Ketiganya sama-sama baik tapi berbeda. Saat kita lahir, kita semua sama. Kita mulai dengan jenis pertama. Pada umumnya kita kemudian bisa pindah ke jenis kedua. Pada saat ada kesadaran baru sebagian dari kita berpindah ke jenis ketiga.

Manusia jenis pertama adalah manusia yang selalu bergantung pada orang lain. Kondisi fisik maupun mentalnya tidak memungkinkannya untuk mandiri. Semua bayi seperti ini. Tapi kemudian ada yang bertumbuh dengan kekhususan fisik dan mental. Kedewasaan tidak berkembang sesuai umur. Kalau di dunia hewan, yang jenis ini segera punah. Tapi kita bukan hewan. Ia wajib ditolong. Melaluinya kita mengenal makna kemanusiaan.

Manusia jenis kedua adalah manusia yang bisa mandiri. Tidak menyusahkan orang lain. Ia menekuni karirnya. Bekerja dan mendapat gaji. Manusia jenis ini adalah manusia budaya. Ia mengenal budaya dan hidup di dalamnya. Di dalam budaya itu ada tangga kemajuan. Ia menapaki tangga kemajuan itu, menurut budaya yang ada. Ia manusia produktif sekaligus konsumtif. Melalui pekerjaannya, kebutuhan masyarakat terpenuhi.

Manusia jenis ketiga adalah manusia yang selalu membangun orang lain. Manusia yang mencari jati dirinya beyond culture. Manusia yang menjalankan hidupnya menurut suatu missi. Manusia yang berada di luar budaya atau bahkan membuat budaya yang baru. Ia sering mengejutkan dunia, surprise the world.

Jadi, saat kita merenungi akan jalan hidup kita, kita harus memutuskan di mana kita akan berakhir. Apakah akan tetap pada jenis pertama, atau masuk ke jenis kedua, atau kemudian melangkah ke jenis ketiga.

Jadi kembali ke obrolan kami tadi. Mau masuk S2 untuk apa? Kalau supaya bisa bersaing mencari kerja, maka kita sedang menuju jenis kedua. Tapi kalau supaya kita semakin mampu berinovasi untuk surprise the world, kita sedang menuju jenis ketiga.

Harapan saya semua mahasiswa dan alumni kami mau dengan sengaja berkembang menuju jenis ketiga.


  1. smoga bisa jadi yg ke 3.. amin

  2. hihihihi.. iya sama, smoga bisa jadi yang ke-3.
    amiinn.. =)

  3. setiap orang sebenarnya punya potensi untuk menjadi tipe orang yang ketiga. yang sulit hanyalah meyakinkan/menyadarkan orang tersebut bahwa dia bisa jadi orang tipe ketiga.

    apalagi kalau hotel-hotel terletak di tengah gunung. sehingga jarang ada yang ingin mendaki sampai puncak karena tergoda local optimum.

  4. Surprise the world? Klo dunianya sakit jantung, kan kasihan bisa kena serangan jantung ;))

  5. pengen rasanya jadi manusia yang ke-3 tapi saya yakin itu semua butuh usaha extra keras

  6. azi

    kalau menurut saya sih, kita semua bisa menempatkan diri diposisi 1, 2 atau 3 dimanapun kita berada. meski kita jadi mahasiswa, karyawan, atau pengusaha. kita bisa berinovasi dengan melakukan penelitian, menemukan metoda kerja yang baru atau bikin produk baru. dimanapun kita berada kita bisa berkreasi. posisi hanya menentukan efeknya seberapa besar. apakah satu perusahaan, satu bangsa atau satu negara.

  7. iwan

    Jd ingat ketika sy ud lulus dan mo lanjut S2, “Ibu saya ingin melanjutkan S2”, demikian kata sy kepada salah seorang dosen. Kemudian keluarlah pertanyaan darinya “Apa yg ingin kauraih dengan kamu melanjutkan S2?” seketika sy tidak mampu mengucapkan sepatahkatapun, krn sy punya keinginan tapi tdk punya landasan yg kuat mengapa sy hrs mengambil S2, yah kemudian ia memberi beberapa petuah spt pak armein bilang”. Skrg sy bs optimis menjawab mengapa sy ingin melanjutkan sekolah sampe jenjang doktor, krn landasan itu sudah melekat pd diri sy, terlebih pak armein jg mengingatkan lagi:-), jenis manusia yg ketiga ^_^.

  8. edwidianto

    terima kasih telah mengingatkan saya, pak. sekarang sedang berusaha menuju milestone menjadi yang ke-3 di usia yang sudah berkepala 3 ini.

  9. fitrimutiara

    artikel pak armein memang selalu berguna..
    terima kasih pak diingatkan..
    ini rasanya persis sekali dg yg ibu saya katakan, ketika saya bilang ingin magang,

    “hidup akan dipertanggungjawabkan.. jangan egois.. harus ada visi misi.”

    waktu itu saya bingung, emang apa salahnya? hehe.. skrg baru dong deh. malunya, ternyata saya masih ada di tahap awal. sy hanya memikirkan diri sendiri, sementara ada tanggung jwb lain yg urgent, malah jadi disepelekan. minta dimengerti terus.

    smoga bisa jadi yg ketiga ya pak. bahagia dari membahagiakan..




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: