Ia selalu menemanimu

“Suatu saat suamiku akan sembuh,” demikian keyakinan bulat sang istri.  Itupun yang selalu ia katakan pada orang sedesanya. Dan ia menantikan hari itu bertahun-tahun.

Dulu suaminya sehat.  Suatu saat diserang penyakit keras.  Dan ia seperti orang lumpuh, terbaring di tempat tidur.  Pikiran dan ucapannya masih sangat sehat dan segar.  Tapi tubuhnya tidak bisa lagi bergerak.

Berbagai tabib didatangkan.  Berbagai ramuan di coba.  Sang istri tidak pernah berhenti.  Tiap hari mereka mengobrol dengan gembira.  Bercanda dan bergurau.  Berbagi suka dan duka.  Sang istri berbagi cerita, apa yang terjadi di pasar, di kampung, di tetangga.  Karena mereka yakin, suatu saat hari itu akan tiba. Hari sang suami sembuh.

Tetapi hari itu tidak pernah tiba. Suami istri ini sudah menjadi tua. Setelah menunggu begitu lama, kondisi sang suami akhirnya menurun, dan meninggal.  Seluruh desa datang menguburkannya.

Dalam perjalanan pulang bapak kepala desa menghampiri ibu tua ini untuk berbelasungkawa.  Ibu ini menarik nafas panjang dan berkata, “Ternyata keyakinan saya salah, ya pak.  Hari bahagia itu tidak pernah datang. Suami saya tidak pernah bisa membantu desa ini.  ”

Kepala desa itu heran dan memandang ibu tua. “Ibu, mengapa ibu berpikir seperti itu? Bertahun-tahun kami melihat bapak dan ibu berdua.  Kami iri.  Saat perang, kaum pria harus pergi meninggalkan keluarga.  Bapak tidak, selalu bisa bersama menemani ibu.  Saat kami suami istri bertengkar, kami selalu diingatkan untuk mencontoh bapak dan ibu yang selalu akur.  Kalau kami bingung, kami selalu mendapat nasehat yang bijak dari bapak. Setiap kami kesusahan, kami selalu gembira lagi kalau ingat bapak dan ibu yang selalu gembira.  Bapak dan ibu batu karang kami semua.”

Lanjutnya, “Tanpa teladan bapak dan ibu, saya tidak tahu bagaimana keluarga se desa ini bisa tahu cara hidup yang berbahagia…”


  1. aWi

    ternyata sumbangan itu tidak melulu berupa materi, fisik, dan lain hal. Suri tauladan juga mengemban amanah dan tanggung jawab yang berimbas ke masyarakat dan lingkungan sekitar kita.

  2. IG

    Pernyataan “pada saat perang, bapak masih bisa menemani ibu..”, bagi saya kok agak kurang meyakinkan yah?

    Soalnya andaikata bapak itu sehat, dia pasti juga ikut perang.. Setiap perang biasanya membela suatu keyakinan, dan pengikut perang yakin bahwa mereka benar, nyawa pun rela dikorbankan..

    Beda misalnya ketika orang2 lain berlomba-lomba mencari uang di ibukota, si bapak masih di rumah menemani istrinya..

    Ah, kok malah ngebahas ini sih.. 😀

    Yang jelas saya suka dengan posting2 yang menggugah semangat seperti ini.. Terima kasih Pak Armein..

  3. eko didik

    masih belum mudheng….




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: