Memori vs Fantasi

Jaman dahulu kala, bangsa Indonesia adalah bangsa besar.  Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya cuma satu dari sekian banyak contoh.  Kenagan-kenangan seperti ini sering digunakan untuk menambah semangat.  Kemudian kalau anak menghayal atau berfantasi, kita sering mentertawaknnya, bahkan mungkin melarangnya.  Padahal menurut saya, itu terbalik.  Seharusnya berfantasi akan masa depan harus lebih digalakkan daripada mengenang masa lalu.

Memori, atau kenangan tidak pernah membuat kita menjadi besar.  Tidak membuat kita bertumbuh.  Itu hanya mengajak kita mengulang nenek moyang kita.  Membuat sesuatu yang sudah pernah dilakukan.  Kita seperti kembali ke masa lalu.

Bahkan lebih buruk lagi.  Memori masa lalu bisa mengandung trauma.  Trauma ini menghantui kita.  Membuat kita jadi penakut dan tidak berani mencoba lagi.

Fantasi itu lain.  Itu menbayangkan sesuatu yang lebih dari hari ini.  Fantasi tidak membatasi diri realitas hari ini.  Ia membangun realitas baru.

Sebab, sebenarnya tidak ada realitas yang benar-benar true reality.  Semua bergantung yang melihat.  Kesulitan bagi sesorang dapat dilihat sebagai peluang bagi orang lain.  Kalau kita boleh memilih, mengapa tidak memilih selalu melihat sesuatu dalam kacamata positif, kan ya?

Tahun enampuluhan, orang berfantasi tentang alat komunikasi tanpa kabel.  Film seperti Flash Gordon dan Star Trek penuh dnegan gadget “mustahil”.  Hari ini cellphone sudah terwujud sebagai realitas sehari-hari.

Dengan berfantasi, orang membuat blueprint akan masa depan.  Dengan mengenang, orang terhenti pada masa lalu.

Jadi menurut saya, berfantasi jauh lebih penting dari mengenang.  Demikian kita bisa bertumbuh maju.


  1. benar juga ya.. kadang2 saya suka keseringan mengingat akan masa lalu..
    dan terlalu takut untuk berimajenasi akan masa depan.. terutama masa depan saya sendiri.. knapa ya.. takut aja kerasanya..

  2. pa
    katanya ga kan posting.. (jadi aja saya ga cek blog bapa)

  3. salam kenal sebelumnya…
    judulnya sangat menarik, memori vs fantasi
    gimana cara menerapkan ‘memori vs fantasi’ ini dalam ‘the art of falling in love’ ya pak?

  4. coxon3011

    Saya sering nemu orang yang takut mimpi. Mungkin karena budaya apresiassi kita masih belum bagus ya pak. Hal yang bagus, dibilang biasa, dan gak diapresiasi. Hal yang jelek dimaki. Membuat orang berfikir, susah-susah terbang, eh kejeduk, terus terjun bebas. Hehe
    So? Ayo kita tumbuhkan kebiasaan apresiasi yang baik di lingkungan kita. Kuliah, rumah, masyarakat dll.

  5. “Memori, atau kenangan tidak pernah membuat kita menjadi besar. Tidak membuat kita bertumbuh.”

    aku sedikit kurang setuju akan hal ini. karena memory akan kegagalan adalah salah satu cara agar kita tidak melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya.

    kedua memory akan keberhasilan adalah salah satu pemicu untuk dapat lebih dari sekarang. dimana tentu dibutuhkan imajinasi ke depan terlebih dahulu.

    jadi memori adalah pemicu untuk lebih baik dan peringatan untuk tidak melakukan kegagalan yang sama.

    tapi anehnya sampai saat ini kegagalan yang dilakukan tetaplah sama. dan pemicu ini belum tampak. buktinya masih banyak mengatakan “tidak mungkin”

    sedihnya aku pada negeri ini.

    enjoy, peace and love

  6. azrl

    @zener: Ada benarnya. Memori jelas ada gunanya. Memori itu tempat kita bertumpu ya untuk bertumbuh. Fantasi yang mendorong kelanjutannya, ya. Salam saya

    @linda: saya belum kepikiran hubungannya apa. Saya membayangkan love itu sebagai azas. Fantasi itu tujuan, dan memori itu tumpuan. Salam kembali, thanks for the visit




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: