Ada guru les di rumah

Pulang dari kantor tadi malam, ada yang lain di rumah.  Di meja tengah ada dua keponakan saya sedang belajar.  Gurunya: Gladys.  Rupanya Gladys sedang jdi guru les.

Keponakan saya itu masih kelas dua SMP.  Menjelang ujian kenaikan kelas, rupanya mereka harus banyak latihan.  Dan tidak semua pelajaran bisa dikuasai.  Butuh guru les.  Dan Gladys mau.

Saya senang karena jadi guru les itu punya banyak plus nya.  Pertama, dia belajar untuk mencari uang saku sendiri.  Kedua, uang saku diperoleh dengan mengerahkan ilmu pengetahuannya.  Ketiga, ini bisa menolong keponakan saya ini naik kelas.

Cuma, tadi saya tertawa.  Karena Gladys punya tekad nggak mau di bayar kalau hasilnya tidak bagus. Wahh, hasilnya kan bergantung si anak juga, mau belajar atau tidak.  OK deh, terserah Gladys tentu saja, hehehe


  1. Romy

    Tidak mau dibayar kalau hasilnya tidak bagus..
    hmm…
    idealisme yang tinggi..

    Biasanya kita semua juga seperti itu, tetapi setelah masuk dunia kerja/profesi, idealisme itu kebanyakan pada hancur. Sedikit demi sedikit, apa-apa ujung-ujungnya duit.. hahaha..

    maklum pak, orang SUMUT (Semua Urusan Membutuhkan Uang Tunai) hahahahaha…

  2. seperti iklan bimbel2 yah: tidak keterima USM, uang kembali..

  3. mirip kaya dulu jaman saya semester 1, kasih bimbel anak2 yang mau ujian saringan masuk Unpar…gak masuk uang kembali, tapi kembalinya gak 100% 😀 lumayan juga tuh walaupun banyak yang gak masuk…hi..hi..hi..

  4. ada tambahan nih:

    keuntungan ngelesin anak:
    1. meriview dan merefresh apa yang pernah dipelajari (karena saat ini untuk orang dewasa suruh sebut pancasila ajah sudah kagok)
    2. belajar mengetahui karakter anak alias mempersiapkan menjadi orang tua.

    tentang ngak mau dibayar:
    itu bagus banget. mereka harus menunjukan hasil terlebih dahulu baru mendapatkan imbalan. dan ini lah yang menurut saya perbedaan peneliti indonesia dengan luar negeri. mayoritas.

    di luar, menghasilkan sesuatu baru minta uang, orang indo minta uang dulu baru dikerjain. sadar ketika penemu nobel (titik beku) mengadakan seminar di jakarta. tapi memang sih tanpa uang tak bisa hidup, tapi inilah yang menurutku benar.

    enjoy, peace and love

  5. iya pak…mengajar orang bikin kita me-review ilmu kita, mana saja yang lupa, dan mana yang tidak kita kuasai betul. Melatih kasih sayang dan kesabaran juga (kan ga mungkin ngajar sambil marah-marah) ^^

    Plus, menmbuat kita merasa semakin banyak yang kita belum tahu, mengajar untuk rendah hati ^^ (hehe…berarti ngga bener tuh dosen yang ngaja sambil nyombongin ilmunya =P)




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: