The Journey (4)

Gladys, awas jangan berdiri di situ, banyak salju.

Ina tertawa saat pertama kali mendengar gurauan saya itu. Mimpi kali ya. Itu masih di tahun 1989. Kami masih tinggal di Gang Sukasari 13 Bandung. Setahun kemudian, gurauan itu saya ulangi. Kali ini di depan salju betulan yang menggunung di Winnipeg. Kali ini Ina tertawa takjub.

Hari pertama menjejakkan kaki di Canada, cuaca sangat dingin. Kami, rombongan mahasiswa Indonesia, tiba di Ottawa dengan sambutan suhu 24 derajat Celcius. Di bawah nol! Saya tahu bakal dingin, tapi no idea itu dingiiiin sekali. Saat menuju tempat parkir, kami membuka pintu keluar teras airport dan melangkah tiga langkah. Dan terhenti. Shock! Udara dingin menghantam tubuh. Hampir tidak bisa bernafas. Kami berloncatan masuk kembali ke ruang airport. Orang Canada yang melihat kami tertawa terbahak-bahak.

Saat kami di mobil, saya tercenung. Wah, gawat. Tuhan, please jaga saya. Orang bisa mati beneran di sini. Mati kedinginan. Jaket dari toko Jayagiri Bandung sama sekali tidak berguna. Hari itu juga kami ke toko, diantar agency kami WUSC. Beli jaket. Di dalam jaket ada label suhu berapa ia tahan. Dan bahannya mengandung bulu angsa. Bulu domba itu tidak mempan di sini.

Tiba di Winnipeg pas hari Natal. Kotanya sepi, dengan suasana liburan. Kota ini putih tertutup salju. Tapi sahabat-sahabat saya, yang sudah ada lebih dulu di Winnipeg, sudah menunggu. Kami masuk apartmen.

Dan Januari 1990 kuliah S2 saya dimulai. Saya harus menyelesaikan enam kuliah. Witold Kinsner, profesor saya mengusulkan saya ambil dua kuliah tiap semester. Sebenarnya saya ingin cepat selesai, tapi Profesor Kinsner takut saya tidak sanggup.

Benar juga. Susah. Semua berbahasa Inggris. Saya sudah dipersiapkan dengan baik. Tapi tetap saja tidak mudah. Wah kayaknya saya sudah tua nih. Pelajaran kok sukar masuk. Otak saya beku. Saya harus cari caranya.

Saya mengerahkan semua usaha saya. Saya meyakinkan diri bahwa saya cuma punya satu tugas. Satu: belajar. Dari pagi sampai malam tugas saya cuma satu. Belajar. Pagi sudah bangun dan sarapan sambil menyiapkan bekal makan siang. Kemudian naik bus menembus salju ke kampus, ke Lab. Saat jam kuliah, pergi ke kelas. Setelah itu kembali lagi ke Lab. Sering lari ke perpustakaan untuk mencari bahan. Kemudian kembali lagi ke lab. Saat sudah malam pulang ke apartemen, sering dengan bus terakhir. Tiap hari.

Saya teringat satu ilmu sakti yang saya temukan sejak kecil di Tomohon: fokus dan pengulangan. Semua yang saya tidak bisa saya coba berulang-ulang sampai bisa. Semua tugas saya kerjakan satu persatu. Semua soal saya coba. Saya latihan semua soal yang ada di buku teks. Teman-teman saya, apalagi orang Canada, heran, “Armein, you need to work smarter not harder”. Thanks, since I am not that smart I will work harder than anybody.

Saya belajar memprogram software speech compression, sebagai tesis saya. Dalam waktu tiga bulan, software saya sudah jadi di SUN workstation. Meskipun saya tidak mengerti matematikanya. Tidak apa-apa. Saat yang sama, saya mendesain chip control unit dari sebuah speech processor. Menggunakan Xilinx FPGA. Dalam sebulan selesai. Witold Kinsner, profesor saya datang, ajak saya menulis paper untuk Conference di bulan Juni. Ha? OK. Saya coba. Begitu semester pertama selesai, saya sudah punya empat paper konperensi Internasional.

Dan saya berhasil mendapat nilai A+ dan A untuk kedua course semester itu. Setelah bertahun-tahun cuma lihat nilai D, C dan B di transkrip Elektro ITB, it felt good.

Wah senang. Otak saya mulai mencair lagi nih. Ilmu sakti Tomohon saya itu masih sakti juga di Winnipeg. I will be OK. Hati saya mulai cerah. Secerah Spring yang mulai datang. Salju mulai meleleh, seperti otak saya itu. Saya coba jalan dari apartemen ke kampus. Melihat genangan air yang bening, daun mulai menghijau, bunga mulai berwarna warni. Saya menghirup nafas dalam-dalam, menghirup udara musim semi. I am in heaven. Tuhan yang saya kenal di Indonesia masih menjaga setiap langkah saya sampai ke sini. Dan hari itu untuk pertama kali saya mau meluangkan waktu untuk main games, Tetris, di komputer Mac Plus.

Semester baru, musim gugur 1990, langkah saya sudah mantap. Formula sukses harus saya ulangi: fokus dan pengulangan. Dari pagi sampai malam. Dan hadiah untuk saya muncul: Ina dan Gladys tiba di Winnipeg, Oktober 1990. Musim gugur mulai tiba. Daun-daun menguning kemudian berguguran. Dan November membawa salju, the white stuff, turun dari langit. Desember, salju sudah menggunung. Di hari yang cerah Ina, Gladys dan saya pergi ke Kampus, dan ambil foto. Dan saya nyeletuk, “Gladys, awas jangan berdiri di situ, banyak salju…”. Ina tertawa ingat joke itu dan memandang saya dengan takjub. Saya balik memandang ke langit, thanks so much.

Desember itu juga membawa nilai A+ dan A untuk kuliah-kuliah semester itu. Delapan paper konferensi internaional. Dan saya sudah mengerti algoritma Levinson-Durbin di software speech compression saya tadi itu.

Januari 1991 Profesor Kinsner ajak saya bicara, How about a PhD program here? Wah bener nih? Saya masih punya beasiswa setahun lagi, sampai Mei 1992. OK ini rencana saya. Saya mau ambil banyak kuliah ekstra agar bisa diperhitungkan di S3. Tapi saya coba tuntaskan dulu kuliah S2 semester ini. Sounds good.

Profesor Kinsner menulis surat rekomendasi dan memohon WUSC menyiapkan perpanjangan beasiswa saya ke S3. Yah, terlambat….

Di tengah salju yang dingin, saya mendapat kabar buruk. WUSC bangkrut. Dana beasiswa kami in-trouble. Teman-teman saya panik. Padahal mereka masih single. Saya ini kan bawa keluarga. Dan di bulan Juni 1991, Kezia bakal lahir. Waduh. Saya kembali menguatkan hati saya: Tuhan yang saya kenal di Indonesia dan yang masih menjaga setiap langkah saya sampai ke sini. Pemerintah Indonesia turun tangan, memindahkan agency kami dari WUSC ke badan lain. Tapi akibatnya saya tidak bisa memperpanjang beasiswa ke S3.

We have a new plan now. Juni 1991 Kezia bakal lahir. September 1991 Ina, Gladys dan Kezia bakal pulang ke Bandung. Saya akan tunda kelulusan saya sampai Mei 1992 agar saya bisa mengambil kuliah S3 dengan beasiswa yang ada. Sambil mencari beasiswa baru. Ada enam kuliah S3. Saya ambil dua tiap semester, dan dua nya lagi nanti saat beneran masuk S3. Sambil saya menabung supaya punya uang ekstra. Dan saya mulai melamar beasiswa University of Manitoba. Ada 15% dialokasikan untuk mahasiswa asing, dan aya harus coba ini.

Plan ini dijalankan. September Ina dan anak-anak pulang, saya melanjutkan kuliah S3 sambil menulis tesis S2 dan menulis kode speech compression ke bahasa assembly DSP TMS 320C30. Ternyata sekarang tidak mudah. Pertama, saya mengambil matakuliah tersukar di depertemen kami: Statistical Communications oleh Prof. Shwedyk. Semua menghindar kuliah ini, kecuali dua mahasiswa prof Shwedyk dari Cina dan India. My friends thought I was crazy. Tapi saya ingin sekali menjajal dua mahasiswa Cina dan India yang legendaris itu. Kedua, ditinggal Ina dan anak-anak, belajar saya jadi kacau. Padahal saya butuh nilai baik untuk bersaing melamar beasiswa. Aduh, dari dua kuliah, Statistical Communications memang berhasil dapat A, tapi satu lagi dari departemen matematika terancam tidak lulus. Ini tidak masalah untuk kelulusan S2, tapi masalah besar untuk beasiswa S3. I can’t let this happen.

Saya datang ke Profesor Shivakumar, dosen kuliah ini. Saya jelaskan bahwa saya tidak bisa gagal. Saya bersedia diberi tugas apa saja untuk memperbaikinya. Kita ngobrol lama, dan dia memberi kesempatan sekali lagi. Dia berharap saya bisa nanti dapat C+, nilai minimal untuk lulus. Saya sebenarnya tidak berbakat matematika. Di rapor SMA pun hanya dapat enam atau tujuh. Nilai saya selama ini berkat kerja keras, harder than anybody. Saat saya berdiri di papan pengumuman, di pintu ruang Prof Shivakumar, saya nyaris menangis. Saya berhasil lolos, dan mendapat nilai B, bukan C+! Saya punya harapan untuk beasiswa. Sampai hari ini saya tidak akan lupa wajah dan nama Prof. Shivakumar.

Januari 1992 saya mengakselerasi tesis saya. Kode DSP saya berhasil jalan. Dua kuliah tambahan juga berhasil diselesaikan semester itu. Mei 1992 saya berhasil lulus sidang tesis S2.

Tapi aplikasi saya untuk beasiswa gagal. Rupanya mahasiswa Cina dan India saat itu masih terlalu sakti untuk saya. Saya berhasil menyamai mereka tapi tidak berhasil mengalahkan mereka. It is OK, masih ada tahun depan. Apa yang saya terima sudah luar biasa. Saya melihat ke langit, thanks so much. Saya pamit ke Prof Kinsner. Saya mau cari beasiswa di Indonesia, dan Januari 1993 saya akan berusaha kembali.

Seminggu kemudian saya terbang ke Bandung, ke pelukan Ina dan anak-anak. Tidak bawa apa-apa, kecuali gelar M.Sc. dan kepercayaan kokoh bahwa Tuhan yang kami kenal di Indonesia akan menjaga setiap langkah kami sampai ke manapun.


  1. mantan mahasiswa

    Pak, kisah perjalanan hidupnya benar2 membuat haru. Terimakasih juga karena tulisan Bapak ini, menambah semangat saya dan percaya dlm diri untuk menyelesaikan studi saya.
    Karena saya bukan org yg `smart` berarti saya harus bekerja lebih keras lagi bukan begitu Pak?

  2. Saya kenal ada orang yang dapet banyak “A”, tapi didapat dengan nyontek.

    Terus terang, saya penganut aliran Pak Armein; lebih baik dapat B,C bahkan E tapi diperoleh dengan cara jujur, daripada dapat A tapi culas.

    Hari gene, kejujuran adalah sesuatu yang langka; nyaris semua orang menghalalkan segala cara untuk memperoleh sekolah, nilai dan kerja.

    Sebagai orang yang beragama, saya yakin Tuhan akan memberi dan menghukum orang sesuai dengan perbuatannya.

    Mereka yang jujur tak akan luput dari perhatian Tuhan.

    Begitu juga, mereka yang culas, akan mendapatkan balasannya.

    Akhirul kata, beruntunglah mereka yang jujur; Tuhan akan membalas dari jalan yang tak diduga-duga …

  3. wah, thx banget pak udah berbagi. postingan tetang Journey ini selalu saya nanti-nantikan. Memang belum sepenuhnya merubah hidup saya. Tapi minimal terekam dulu di pikiran saya. mungkin saat saya tergugah suatu saat, saya akan ingat moral-moral dalam perjalanan hidup bapak dan menjadi lebih baik.
    Thx a lot!

  4. Sangat mencerahkan. Membawa kembali semangat saya yang telah lapuk. Terima kasih telah berbagi cerita…

  5. Ya, pak “fokus dan pengulangan”. Melatih fokus sangat susah, apalagi disiplin untuk mengulang-ulang latihan. Tapi memang hasilnya sepadan. Thx untuk ceritanya.

  6. Iz's Weblog

    pak… kok merendah sih, bukannya dari kecil nilai2 yang bapak peroleh sudah demikian cemerlang. Tapi motivasinya sangat membantu thks.

  7. “since I am not that smart I will work harder than anybody”..
    hmm i think i have to try it since im not as smart as them 😀

  8. pak makasih sudah mengingatkan
    “..since I am not that smart I will work harder than anybody”, saya pecaya itu yang membuat saya masuk ITB, dan melanjutkan master di jurusan yang sama.

  9. pak, bneran deh..

    ini judul post yang paling saya nanti2kan setiap hari. haha.. dan nampaknya jadi posting wajib tiap hari Minggu ya??

    bikin jadi novel aja pak.. =P

  10. azrl

    @inez: kayaknya tidak akan tiap hari, perlu weekend. Paling seminggu sekali. Thanks sudah mampir. Wah novel lama bikinnya 🙂 Kalaupun bikin, judulnya kayaknya harus Hantu di Gedung PAU, karena percaya atau tidak itu posting yang paling banyak dibaca orang,..

  11. crappuccino

    Salam kenal, Pak Armein ^^b
    Ceritanya inspiring banget! Sebenernya, aplikasi studi saya juga barusan ditolak. Hiks.. sedih d. Tapi ternyata perjuangan Bapak pun cukup berat. Saya acungi jempol deh buat Bapak!

  12. “..since I am not that smart I will work harder than anybody”
    I am not that smart and I don’t work harder (hihihi)
    but I am a happy person

    ngawur ya pa? 😀
    harder koq (will) harder.. dan still happy

  13. azrl

    @all: manythanks
    @crappuccino: Salam kembali. Menurut saya sih penolakan itu perlu disyukuri, Karena berarti itu tidak cocok untuk kita.
    @pbsari: memang kalau kita happy, kerja keras itu tidak terasa, Kayak orang kerja keras nonton TV berjam-jam… tidak terasa ya 🙂

  14. Keren keren…

    Kl soal beginian, saya masih kalah jauh dari Bapak. Tapi saya yakin saya pasti bisa (minimal) menyamai dalam beberapa tahun ke depan…Hehehe

  15. tukangbaca

    “Armein, you need to work smarter not harder”. Thanks, since I am not that smart I will work harder than anybody

    haha…ini juga prinsip yang saya pegang terus pak…

    hehe..btw saya juga pernah tuh di ITB, saya dapat kuliah katolik semester tiga. Tapi saya jarang datang, jarang kuliah, jarang mengerjakan tugas. Saya dipanggil Romo nya, dia bilang, dengan ini saya gak akan lulus, akhirnya saya juga lama disana berbincang dengan romo meminta tugas untuk memperbaiki tugas saya.

    Akhirnya, saya beli semua buku tentang katolik di Bandung, bahkan sampai buku sma, sampai artikel mengenai surat surat dari Vatikan, dan biografi dari Paus Johanes Paulus II saya lahap, akhirnya dari terancam E saya mendapat B 🙂

    lumayan mirip lah

  16. tukangbaca

    oh iya dulu juga ada kisah tentang mahasiswa dri Malaysia yang kuliah di MIT, awalnya bahasa inggrisnya buruk sekali. Bahkan dia gak ngerti apa yang didebatkan mahasiswa dengan dosennya.

    Akhirnya, dari setiap matakuliah, dia pakai 5 buku pegangan, dia baca itu setiap hari. Dan di akhir kuliahnya dia mendapatkan nilai A untuk semua mata kuliah nya.

    since I am not that smart I will work harder than anybody
    -best quote ever.

  17. tukangbaca

    oh iya satu lagi pak dari saya

    kalah pintar boleh, tapi
    kalah semangat itu haram…

  18. Somehow i missed the point. Probably lost in translation 🙂 Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Insert.

  19. rizki

    Lebih baik dapat nilai bagus tidak menyontek, daripada dapat nilai jelek dengan menyontek.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: