Bangsawan dan Anak Kecil

Sepulang berperang, seorang bangsawan marah-marah ketika ia kembali ke purinya, melihat anak-anak dari kampung sebelah bermain-main di halamannya indah.  Bangsawan ini sempat terluka parah, sehingga wajahnya menjadi seperti monster.  Dan ia tidak mau bertemu siapapun.  Diusirnya anak-anak itu, dan ia mendirikan pagar benteng untuk mencegah mereka masuk.

Musim semi, panas, dan gugur berlalu, dan tiba musim salju.  Musim salju terasa lama sekali, dan bangsawan ini sangat merana dan kesepian.  Dia heran, mengapa halaman rumahnya ditutupi es begitu lama.  Purinya sepi seperti kuburan.

Sampai suatu hari, rupanya anak-anak kampung menemukan tempat panjatan dari pagar rumahnya.  Satu-per satu mereka berhasil memanjat pagar, dan tiba di halaman puri.  Bermain lah mereka dengan menjerit-jerit senang.  Wah, es mulai mencair, dan musim semi tiba dihalamannya.

Rupanya kebekuan es tidak akan mencair sebelum hadir jeritan anak-anak bermain.

Bangsawan ini bangkit hendak mengusir mereka.  Tiba-tiba ia melihat seorang anak kecil yang kurus berusaha memanjat pagar.  Tapi tubuh anak ini rupanya lemah.  Ia anak sakit-sakitan.  Jadi ia tidak mampu mengikuti teman-temannya bermain.

Bangsawan ini jatuh kasihan.  Ia keluar dari rumahnya menuju pagar.  Melihat bangsawan yang ditakuti ini datang, larilah semua anak-anak ketakutan.  Kecuali anak kecil ini yang berdiri dan memandangnya dengan berani.

“Jangan takut nak, aku akan membantumu,” kata bangsawan ini, “engkau dan temanmu boleh main di sini..”

Wah semua anak-anak bersorak gembira.  Sejak itu puri bangsawan ini menjadi ramai dan hidup.  Bangsawan ini tidak lagi kesepian.  Tiap hari ia ikut main bergembira dengan anak-anak ini.  Dan ia paling sayang pada anak kecil pemberani tadi, yang tidak pernah memperhatikan atau takut pada wajah buruknya.

Tapi suatu hari ia perhatikan anak kecil ini tidak pernah datang lagi.  Berhari-hari kemudian anak itu tetap tidak ada. Ia sedih sekali.  Tidak ia tahu bahwa anak kecil itu jatuh sakit dan mati.  Bangsawan ini sangat rindu pada si kecil.  Dan iapun akhirnya jatuh sakit.

Malam hari ia berjalan ke halaman dengan tubuh yang lemah, berseru-seru mencari sahabat ciliknya.  Tiba-tiba ia melihat anak kecil ini datang.  Tersenyum padanya dengan wajah bersinar.  Bangsawan ini senang sekali, tapi badannya terlalu lemah.

“Bapak, dulu engkau begitu baik menjemputku di pagar ini.” kata anak itu, “sekarang aku menjemputmu…”

Bangsawan tersenyum bahagia, dan anak itu menuntunnya melangkah…

Keesokan harinya, anak-anak kampung datang bermain ke halaman, dan menemukan jasad Bangsawan tersenyum terbaring diliputi kembang-kembang indah…

From: A monk who sold a Ferrari


  1. Jadi, kesimpulannya…, bangsawan itu dibunuh ama anak kecil pemberani itu, dan jasadnya ditinggalkan di halaman puri-nya?
    Oh… seram…. 😀

  2. Huaa… Mengharukan!

  3. mengarukan ya u_u…

  4. T______________T
    *sroott*
    *terharu………*

  5. delina

    anak-anak memang membuat hidup serasa berbeda..
    btw, ceritanya mengharukan ….




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: