Decisions dan Konsekuensinya

Pengaruh sebuah keputusan itu bisa sangat besar. Kita semua sebenarnya memiliki sumber daya internal yang berlimpah untuk mencapai impian kita. Namun itu semua terkurung oleh sebuah bendungan. Ambillah sebuah keputusan yang tepat membuka bendungan itu.

Hari ini kita bertekad untuk melakukan sesuatu yang langsung kita terapkan. Sesuatu yang sudah lama kita ingin lakukan. Belajar bahasa baru, menguasai suatu ilmu, memperlakukan orang dengan lebih baik. Atau mungkin kirim SMS ke orang yang kita sayang atau sahabat yang sudah lama kita tidak kontak.

Coba kita pikirkan. Apakah ada, apakah pernah kita dulu membuat (atau tidak membuat) keputusan yang berpengaruh besar dalam hidup kita? Idea bagus untuk duduk merenungkan persitiwa-peristiwa itu.

Saya belajar untuk sengaja melakukan sesuatu yang saya takut. Tidak selalu berhasil memang, tapi keputusan untuk melakukan yang kita takut itu ternyata sangat satisfying.

Jumat minggu lalu saya datang ke pertemuan guru-guru di Gedung Annex ITB, berbicara tentang distance learning. Saya sebenarnya tidak dijadwal bicara, tahu-tahu saya di suruh bicara ke depan. Tentu saya jelaskan hal-hal yang saya anggap penting dan program-program apa yang penting dilakukan. Dan saya bergurau, kalau sudah pegang mike saya susah berhenti bicara. Semua tertawa.

Tapi mereka tidak tahu, saat saya masih mahasiswa, saya paling takut berbicara di depan umum. Saya pernah presentasi di depan kelas, dan bibir saya bergetar tanpa bisa dikendalikan. Kata-kata saya tercekat. Gugup.

Tapi saya memutuskan untuk menghadapi rasa takut itu. Saya tidak pernah menolak disuruh berbicara. Sekarang ya itu, cerewet dan nggak bisa berhenti.

Dan kebiasaan itu saya teruskan. Desember 2006, ada acara STEI di lapangan bola Sabuga. Pemain band di panggil-panggil tidak datang. Saya jalan ke panggung, ambil gitar listrik. Nyanyi solo. Semua pada tertawa. Saya juga. Tapi sebenarnya saya sedang belajar mengalahkan rasa takut.

Tiga bulan lalu, saya jadi keynote speaker di acara mahasiswa/Comlabs di Campus Center. Saya mulai bosan pidato sebenarnya. Gimana supaya tidak bosan ya? Di depan Rektor dan Staf Ahli menteri, saya ambil HP saya, mainkan lagu, dan saya nyanyi aja cuek. Sampai semua bengong, hehehe

Emang nggak bagus amat sih. Tapi saya cuma happy sudah mengalahkan ketakutan saya. Soal penonton pusing dengan suara fals, itu apa boleh buat hehehe.

Yang saya ingin cerita adalah, saya buat keputusan melakukan itu dalam detik itu juga. dan menghadapi konsekuensinya. Ternyata, menyenangkan…

Nah untuk cowok-cowok yang masih men-jomblo: Kalau lihat gadis yang menawan, detik itu juga sapa dan minta alamat atau no hp nya. Coba hari ini….


  1. Romy

    “Nah untuk cowok-cowok yang masih men-jomblo: Kalau lihat gadis yang menawan, detik itu juga sapa dan minta alamat atau no hp nya. Coba hari ini….”

    Ha ha ha ..
    Asli lucu banget bagian terakhirnya..
    But…
    BENAR BANGET!!!!…
    Ga ada ruginya ya pak, kalau gadis tersebut tidak mau ngasih alamat dan no hp, berarti balik ke kondisi awal, yaitu tidak mengetahui nama, alamat dan no hape..
    Kondisi awal tersebut hanya ditambah suatu penolakan, tetapi itu yang harus kita pelajari, bagaimana supaya lain kesempatan kita tidak ditolak, dengan ditambah bunga kali, jadi kemana-mana bawalah bunga.. hahahaha…

  2. stuju ama Romy.. bagian akhirnya lucu banget.
    knapa bisa tiba2 kpikiran kayak gitu pak? tadi pagi pas bapak baru posting judul ini, tmen saya kbetulan baca karna lagi saya buka page ini, trus dia langsung ngakak2 bacanya.

  3. “Tiga bulan lalu, saya jadi keynote speech di acara mahasiswa/Comlabs di Campus Center. Saya muali bosan. Gimana supaya tidak bosan ya? Di depan Rektor dan Staf Ahli menteri, saya ambil HP saya, mainkan lagu, dan saya nyanyi aja cuek. Sampai semua bengong, hehehe”

    hehe tapi cukup membuat saya dan para panitia termenung pak hehe 😛
    ketika itu juga saya melihat kalo bapa ini seseorang yg memiliki inovasi ke depan dan juga memelihara semua ide2 bapa yg pernah muncul 🙂

  4. koq pesan akhirnya ttg no hp ya pa?
    soal mengalahkan rasa takut ini, saya suka sekali..

    numpang ngelink ya pa *sekali-kali*
    http://pbasari.multiply.com/journal/item/136/Belajar_Kacapi_Suling

  5. azrl

    @ Inez: langsung dia minta no hp Inez, kan? Tuh berguna blog ini, hehehe

    @ Inez & Ayi: Iaaa, kan banyak cowok (seperti yang di ITB) jomblo itu kan baik-baik tapi pemalu habis. Jadi dalam hal ini harus didorong-dorong. Lagian kalau baca ilmu decision untuk tujuan hidup, paling yayaya sambil nguap, tapi begitu tahu ini bisa diterapkan untuk cari lawan jenis, langsung bangun cenghar dia

  6. tadinya saya baca dengan serius tulisan pak Armien..eh ujungnya itu loh, gak nyangka bakal ngomong ke arah sana 🙂




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: