The Journey (3)

Kita yang punya anak kelas tiga SMA pasti cemas.  Kalau mereka akan kuliah, kita lepas begitu saja?  Pergi ke kota lain? Apa nggak jantungan?

Dari antara kami kakak beradik berempat, saya paling sering berantem dengan adik saya Yanti.  Umur kami hanya terpaut satu setengah tahun.  Ini perempuan, tapi sama dengan saya, tidak mau kalah, dan sama lincah.  Soal bangor, dia tandingan saya.  Seperti kembaran.

Setahun setelah saya diterima di ITB, Yanti lulus test masuk Univesitas Padjadjaran, Fakultas Kedokteran.  Agustus 1982, Yanti nyusul saya ke Bandung.  Kami masuk Asrama Mahasiswa Sulawesi Utara, Jalan Banda 2 Bandung.

Kami seperti kuda yang lepas dari kandang. Bebas dari rumah, dan bisa hidup sesuka kami.

Sampai suatu malam, rekan se asrama mengetuk pintu kamar saya. Ada apa?  Wah ayah saya datang dari Sukabumi.  Nongol dengan tampilan kucel tapi wajah berseri-seri.  Ia sewa mobil minibus Colt.  Dan diatas Colt ini ada rak buku besar!

Rupanya berhari-hari ayah sibuk di Sukabumi dengan peralatan tukang nya.  Ia membuat rak buku merangkap meja belajar.  Untuk Yanti. Mahasiswa kedoteran bakal butuh banyak buku.  Dan pasti perlu rak. Rak ini dicat krem.  Sudah diukur pas untuk kamar Yanti.

Heboh lah asrama kita, karena rak itu sukar untuk diangkat ke lantai atas, ruang puteri.  Harus pakai tali, dan diangkat lewat balkon. lama juga, akhirnya tiba rak itu di kamar Yanti.  Waah bagus sekali, dan pas.  Malam itu juga ayah pulang dengan puas.  Dan asrama jadi tenang kembali.

Kecuali Yanti.  Malam itu dia memandang rak kuning ini, berlinangan air mata, dan hatinya rupanya bersumpah.  Tidak akan dia mengecewakan ayah.  Setelah enam tahun di atas rak kuning ini harus tergeletak sebuah ijazah dokter.

Hidup di Asrama Banda 2 itu enak sekali untuk yang mau santai, tapi sukar sekali untuk yang mau serius sekolah.  Tidak ada pengawasan.  Orang lulus S1 di atas 10 tahun itu normal.  Drop out itu kabar lazim.

Tapi Yanti tidak bergeming. Buku demi buku dilalapnya di atas rak itu.  Kuliah demi kuliah ditaklukkan. Ujian demi ujian dimenangkan.  Desember 1988, Dokter Yanti diwisuda tepat waktu.

Sekarang ia bertugas di Manado.  Dan setiap ayah ibu datang ke Bandung dan cerita tentang sepak terjang Dokter Yanti, bibir mereka bergetar dan mata mereka berbinar dengan bangga.  Hidup keluarga Yanti, bersama suami dan anak-anaknya, sederhana.  Tapi tak putus-putus orang datang dan melapor pada ayah dan ibu tentang kebaikan yang dibuat Dokter Yanti.  Dan kabar itu sungguh membuat hati mereka sungguh berbunga-bunga.  Dan mereka sampai terheran-heran.

“Kok heran sih”, dalam hati saya berbisik menatap mereka, “tidak tahu ya rak kuning yang diangkut dengan Colt malam itu sudah berbuah kebaikan puluhan tahun kemudian?” Sosok yang lusuh dengan mata berseri yang nongol malam itu sudah mengubah perjalanan hidup adik saya.  Bak kompas dan mercusuar di tengah samudera kehidupan.  Saya saksi hidupnya.

Begitu rupanya caranya melepas buah hati kita untuk keluar dari rumah berangkat kuliah…


  1. mengharukaaaannn.. as always.

    pak, saya selalu menantikan kelanjutan dari the journey ini lho.. heheh.. postingan favorit saya. =)

  2. Henry

    rak-nya warna kuning ato krem to? Ato kuning krem?
    (mode bingung on)

  3. awi

    aduuh,berlinang air mata, saya, pak. terrific story

  1. 1 Iklan Bank yang Menyebalkan « Ayi Purbasari

    […] baru dan seragam baru SMP Kaka. Cool. Anak gue sudah SMP euy !) Tx tuk pa azrl atas tulisan-tulisan the journeynya.. Posted by pbasari Filed in Anak-anak, Daily, Rumah Tags: Bank, Iklan, […]




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: