Gelas Kaca Dengan 1000 Kelereng

Setiap Sabtu seperti biasa kita ingin santai. Mungkin baca koran. Mungkin nonton TV. Atau jalan-jalan. Seorang Bapak juga begitu. Ia turun ke dalam basement, sambil membawa koran dan minuman. Siap menghabiskan weekend. Tidak sengaja ia memasang radio. Dan seorang penyiar sedang berbicara.

Dan pembicaraannya mengubah hidup Bapak ini. Dan juga kita…

Sang penyiar menyuruh Bapak ini mengingat berapa usianya hari ini. Lima puluh tahun. Baik. Kira-kira manusia akan berusia berapa pada saat meninggal. Katakanlah tujuhpuluh lima. Maka masih ada duapuluh lima tahun lagi bukan?

Sekarang pergilah ke toko yang menjual kelereng. Belilah kelereng yang banyak. Sebanyak berapa? Duapuluh lima tahun itu di kali dengan limapuluh dua. Limapuluh dua ini adalah jumlah weekend dalam satu tahun. Berarti Bapak ini membawa pulang pas 1300 (seribu tigaratus) kelereng.

Nah isilah 1300 kelereng ini ke dalam gelas/toples kaca. Setiap weekend ambil satu dan buang. Karena satu weekend telah habis. Dengan berjalannya waktu, kelereng dalam toples akan berkurang. Demikian juga berkuranglah jumlah weekend Bapak di dunia ini.

Mendengar ocehan Penyiar itu, tertegunlah sang Bapak.

Segera ia naik ke atas basement. Dicarinya istrinya. Diajaknya membeli kelereng. Tapi sebelum itu mereka pergi ke cafe, ke taman, ke tempat-tempat yang mereka sukai. Berdua. Karena tiap minggu kelereng akan berkurang satu. Demikian juga weekend mereka di dunia ini.

Sekarang kita juga mau weekend. Jangan lupa ya, kelereng kita akan berkurang satu. Habiskanlah dengan orang yang paling kita sayang…


  1. Leo

    Kebetulan saya baru baca2 tentang Randy Pausch pak,
    beliau adalah salah seorang profesor di Carnegie Mellon University di Amerika yang terdiagnosa kanker akut dan divonis oleh dokter bahwa hidupnya hanya tinggal dalam kisaran bulan saja. Beliau tidak pinya 1000 kelereng lagi, bahkan mungkin kurang dari puluhan, di dalam gelas kacanya..

    Beliau sempat memberikan “The Last Lecture” yang isinya benar2 luar biasa kata saya. Sangat sulit menurut saya untuk berbesar hati seperti beliau ketika divonis dengan keadaan seperti itu (umur di bawah 50, status mapan, berkeluarga, 3 anak yang masih kecil2), tetapi masih bisa memberikan materi tentang hidup sebagai berikut (ini versi pendek dari kuliah terakhir beliau):

    Well, man should cherish every second of his life..

  2. azrl

    @Leo, thanks ya. Info yang berharga. Saya baru tahu ttg ini. Saya sudah lihat sebagian (downloadnya terputus), dan inspiratif!




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: