Just do it…. or GTD?

Nike mempopulerkan semboyan “Just do it…”.  Ini konsep powerful, yang merangsang orang untuk berinisiatif.  Tapi akibatnya kita overwhelmed.  Kita mulai terlalu banyak inisiatif.  Mungkin lebih tepat “Just finish it…”.  Kita perlu ilmu Get Things Done, atau GTD.

Dulu saya penganut faham “Just do it..” ini.  Dan benar, hasilnya sungguh exciting.  Ikut di mana-mana.  Mulai masuk berbagai kegiatan.  Semua rapat diikuti.  Semua proyek terlibat…

Sampai akhirnya realitas menggugat.  Justru kita jadi lambat.  Sama dengan komputer kita, terlalu banyak proses, sehingga program yang biasanya lancar, jadi pelan.

Saya percaya, moto yang benar adalah “Just finish it..!”.

Saya pernah membaca sebuah feature tentang seorang eksekutif wanita yang berprinsip single processing.   Artinya,  dia tidak mengerjakan apapun kecuali satu, sampai selesai. Tidak peduli apapun sekali dia mulai sesuatu dia tidak mengerjakan apapun sampai ini selesai.  Dan she was quite successful.  Definitely tidak stress.

Suatu pendekatan yang disebut GTD cukup populer.  GTD adalah singkatan Get Things Done. Ini dipropose oleh David Allen.  Anda bisa cek wikipedia  atau google untuk informasi lebih detil.

GTD berusaha mengeluarkan ide dan tugas dari pikiran kita, dari memori kita.  Pada prinsipnya, GTD menyarankan kita membuat semacam “keranjang”.  Bisa keranjang fisik betulan, bisa keranjang virtual, seperti PDA.  Pikiran, ide, tugas ditulis dan di letakkan dalam keranjang.  Kemudian tugas kita sehari-hari adalah mengosongkan keranjang, dengan menyelesaikannya satu per satu.

GTD ini mengembangkan prinsip single processor si Ibu tadi dengan kenyataan bahwa kita somehow perlu multitasking juga.

Bisa juga dicoba tuh.  Lumayan menambah kebahagiaan kerja. Produktif dan happy, ya kan?


  1. Buat saya, single processing is the best, tapi ini tergantung tipe orangnya. Saya adalah orang yang sulit berkonsentrasi dan mudah ter”distract” sehingga single processing alias berkonsentrasi pada 1 kerjaan lebih cocok untuk saya. Setelah selesai saya baru berpindah tugas lainnya. Bagi saya, dengan fokus pada 1 hal (tidak multitasking) saya lebih bisa mengeluarkan ide-ide dan selesai lebih cepat untuk 1 pekerjaan dibanding multitasking.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: